know what,who,why and how

Entries from September 2008

Bagaimana Mengembangkan Suatu Masyarakat

September 24, 2008 · Leave a Comment

Di kampus saya belakangan sedang marak yang namanya kegiatan-kegiatan pengabdian masyarakat. Di beberapa himpunan mahasiswa jurusan, sedang giat-giatnya melakukan kegiatan pengabdian ke masyarakat tertentu. Biasanya ke desa-desa tertentu di Jawa Barat. Nah, kebetulan himpunan mahasiswa jurusan saya secara rutin telah melaksanakan kegiatan ini dua tahun sekali sejak 1984. Jadi pada tahun 2008 ini telah mengalami pelaksanaan keduabelas kalinya.

Beberapa pekan setelah pelaksanaan Fardes XII yang lalu, sudah ada beberapa himpunan yang mencoba studi banding ke HMF. Di antaranya ada MTI, HMS, dan HIMATIKA. Mereka mencoba mencari tahu apa menjadi dasar dari konsistensi HMF dalam melaksanakan Fardes. Selain itu, juga ingin mengetahui tahap-tahap apa saja yang harus dilakukan dalam perencanaan, persiapan, dan eksekusi kegiatan pengabdian masyarakat. Berikut, saya coba menyarikan tahap-tahapnya.

Sebelum pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat ini, perlu dilakukan survey terlebih dahulu. Survey ini bertujuan mencari kesamaan kebutuhan masyarakat desa setempat dengan apa-apa yang bisa kita berikan. Bidang yang sama ini dapat berupa bidang farmasi, kesehatan, industri, peternakan, pertanian, dan lain-lain. Tentunya, bukan berarti jurusan-jurusan dari rekayasa tidak bisa kontributif. Selama memang benar-benar terdapat kesamaan kebutuhan dan apa yang bisa diberikan, sesungguhnya tidak masalah. Pastinya, sebuah kegiatan pengabdian masyrakat juga tidak harus dilakukan di pedesaan. Di perkotaan juga bisa dilaksanakan selama terdapat kesamaan kebutuhan tadi.

Setelah survey, pastinya menentukan bentuk kegiatan yang dapat dilakukan dan dibutuhkan oleh masyarakat desa setempat. Bentuk kegiatan ini adalah sesuatu yang penting, mengingat ini adalah nilai jual yang dapat diperlihatkan kepada stakeholder desa setempat : pemerintah kabupaten, dinas pertanian, dan lain-lain. Bentuk kegiatan juga akan mempengaruhi pertimbangan pihak sponsor untuk memberikan dukungan pendanaannya.

Seanjutnya tahap yang harus dilakukan adalah melakukan pendekatan-pendekatan kepada tokoh-tokoh masyarakat setempat. Tokoh-tokoh ini bisa jadi adalah formal dan/atau informal leader. Di antaranya adalah kepala kelurahan, kepala RW, pemuka agama, atau golongan ekonomi menengah ke atas di desa setempat. Pendekatan yang dilakukan terutama adalah sosialisasi tentang kegiatan apa ang dicoba dilaksanakan di sana. Sekali lagi, harus terdapat unsur pemenuhan kebutuhan desa setempat. Misalkan mengadakan pengobatan gratis untuk peningkatan kesehatan masyarakat (meskipun ini hanya sesaat saja) atau mengadakan perbaikan jalan raya yang rusak (ini penting, karena akan membantu peningkatan perekonomian).

Tahap akhir, ya eksekusi kegiatan. Pastikan perencanaan yang matang, persiapan yang lengkap, dan semua informasi tersebar luas kepada pihak-pihak yang diinginkan untuk mengetahui. Setelah itu, lakukan evaluasi. Dan bersiap-siap untuk melakukan tindak lanjut kegiatan tersebut..

Salam Berkarya,

Ikhwan Alim

Categories: knowledge · peradaban

Organisasi sebagai Sistem Terintegrasi

September 20, 2008 · Leave a Comment

Organisasi adalah sistem terintegrasi yang mencakup penerima manfaat, sumber daya manusia yang digunakan, keuangan dan waktu. Konsep ini berlaku untuk semua organisasi, baik nirlaba maupun profit.

Sesungguhnya, organisasi didirikan dengan azas penerima manfaat. Penerima manfaat ini bisa berasal dari kalangan anggota organisasi itu sendiri ataupun dari kalangan luar organisasi. Contoh organisasi dengan penerima manfaat adalah anggota : himpunan mahasiswa. Sedangkan perusahaan adalah contoh organisasi dengan penerima manfaat dari kalangan luar organisasi. Dalam hal ini, penerima manfaatnya adalah konsumen pengguna barang/jasa yang dihasilkan perusahaan tersebut.

Sumber daya manusia adalah sumber kemaslahatan sekaligus sumber masalah. Berbicara tentang organisasi yang efektif dan efisien, SDM berpengetahuan adalah salah satu kunci efektifitasnya. Dan begitu pula dengan SDM yang tidak kontributif, akan menurunkan nilai efisiensinya.

Keuangan dapat berupa dana untuk pelaksanaan kegiatan ataupun untuk pembelian bahan baku. Secara kuantitas, tentunya teman-teman dapat membandingkan efek dari dana yang berlebih dan dana yang berkecukupan.

Mengingat sumber daya waktu adalah sumber daya yang tidak tergantikan, produktifitas adalah kunci penting yang harus didapatkan. Jangan sampai waktu berlalu secara sia-sia tanpa produk yang berarti. Prinsip ini dapat diterapkan dalam organisasi pencari laba maupun nirlaba. Berbicara peradaban juga berarti membicarakan tentang tingkat produktifitas. Di beberapa negara maju, salah satunya jepang, nilai produktifitas sudah dapat diukur dengan nilai mata uang. berapa yen akan hilang bila satu jam waktu tidak digunakan.

Categories: organisasi

Manajemen Waktu dan Manajemen Konsentrasi

September 20, 2008 · Leave a Comment

Tuhan telah memberikan manusia dengan berbagai talenta (multitalent). Talenta yang dapat dieksplorasi dan dimanfaatkan lebih lanjut untuk manusia itu sendiri dan untuk manusia di sekitarnya. Manusia juga telah diberikan kemampuan untuk mengerjakan berbagai hal sekaligus dalam satu periode tertentu (multitasking). Nah, pertanyaannya sekarang adalah bagaimana cara mengoptimalkan multitalent tadi dalam cara pengerjaan yang multitasking?

Pertama, tentukan dahulu visi anda. karena, semua berangkat dari visi. Visi adalah bayangan akhir dari apa-apa yang kita kerjakan. Nah, apabila bayangan akhirnya saja tidak ada, bagaimana dan dengan apa kita akan menjalaninya ?

Kedua, pastinya adalah penentuan prioritas. Hal apa yang harus dikerjakan pertama kali, kedua kali, ketiga kali dan seterusnya. Pertimbangan penentuan prioritas itu sendiri bisa didasarkan atas sejauh apa kita ingin mencapainya (vision on it). Misalnya, tujuan kita makan (dalam konteks berat badan) adalah menaikkan berat badan atau mempertahankan berat badan yang sudah ideal. Tentunya, bila kita hanya ingin mempertahankan berat badan, makan tidak perlu benar-benar diprioritaskan. Ini kembali lagi dengan langkah pertama di atas.

Ketiga, berani mengatakan dan melaksanakan kata “tidak”. Begitu mudahnya untuk mengatakan “iya” pada hal menyenangkan yang tidak termasuk dalam prioritas, maka mengatakan “tidak” adalah sesuatu yang sangat sulit. padahal, membatasi kata “iya” sudah termasuk melanggar prioritas. Misalnya, kita ingin memprioritaskan akademik, tapi kita tidak benar-benar bisa mengatakan “tidak” ketika kita ingin bermain. Sudah tentu, hal ini berarti kita melanggar prioritas akademik.

Keempat, manajemen konsentrasi. Sesuaikan konsentrasi anda pada konteks dimana anda berada. Jangan memikirkan perkuliahan ketika anda berada di sekretariat organisasi. dan sebaliknya, jangan memikirkan pendanaan kegiatan ketika dosen anda sedang mengajar di depan kelas. Permasalahan sebagian besar orang Indonesia adalah kesulitan mengatur fokus hingga selesai pada hal yang sedang dikerjakan. Sekali lagi ya, FOKUS HINGGA SELESAI.

Semoga kontemplasi ini banyak membantu rekan-rekan yang multitalent dan multitasking.

Categories: pendidikan · peradaban

Tips Memberikan Value kepada Karyawan

September 20, 2008 · Leave a Comment

1. Apresiasi, misalnya umpan balik-umpan balik positif, berupa pujian terhadap hal-hal positif yang dilakukan karyawan-karyawan anda. Ingatlah, mencari keberhasilan orang lain jauh lebih sulit daripada mencari-cari kesalahan mereka. Maka berilah imbalan pada mereka berupa pujian dan kehangatan secara personal.

2. Harapan dan Optimisme. Orang-orang bijak akan mewariskan perubahan dengan penuh semangat. Ia memberikan harapan dan optimism bahwa hari esok akan lebih baik lagi.

3. Berikan pengetahuan dan cara-cara baru. Orang-orang yang berubah memerlukan cara-cara baru dan pengetahuan baru dalam melihat sesuatu. Pengetahuan dan keterampilan baru akan membantu mereka mengatasi masalah-masalah lama dan baru. Kehadiran anda bisa membantu karyawan-karyawan anda lebih percaya diri.

4. Keteladanan. Sikap anda yang rendah hati, kepemimpinan anda yang kuat dan tegas namun “cool” bisa menjadi teladan yang baik.

5. Inspirasi. Pemimpin tidak harus melakukan perubahan sampai hal-hal kecil. Cukup memberikan inspirasi maka mereka akan bergerak.

6. Ketenaran. Karyawan senang bekerja dengan pemimpin yang dikenal luas dan ahli. Kalau perubahan anda berjasil, karya-karya anda akan dikenal luas dan anda dapat menjadi contoh dalam masyarakat. Ketenaran anda merupakan “value” bagi orang-orang di sekitar anda kalau anda mau berbagi dengan mereka.

(dari cHaNgE, Rhenald Kasali)

Categories: organisasi · peradaban

The Establishment

September 20, 2008 · Leave a Comment

We can not solve problems by using the same kind of thinking we used when we created them

Albert Einstein

Misteri terbesar dari sebuah karya perubahan adalah kelompok yang disebut sebagai “the establishment” . Ini adalah sebutan bagi kelompok “mapan” yang sudah cukup lama menikmati manfaat dari keadaan sekarang. Karena sudah cukup lama menikmati, mereka memiliki banyak “jaringan”, “resources” yang bisa dibagikan di antara mereka, informasi, bahkan “kader-kader” yang setia dengan mereka.Tentu saja tidak semua orang dapat menikmati manfaat yang mereka kuasai, tetapi mayoritas anggota memilih diam sehingga opininya tersembunyi.

Dalam beberapa segi, “the establishment” bisa memberikan manfaat, tapi ia juga bisa menjdai sumber kerusakan bagi masa depan organisasi. Ia bisa sangat bermanfaat karena membuka akses para pengikut kepada “dunia luar”, menimbulkan dampak “cohesiveness” (sebagai perekat), sumber kebanggan, sharing pengalaman, dan seterusnya. Tetapi tidak selamanya “the establishment” mampu menjalankan peran-peran positif itu. Suatu ketika akses kelompok ini kepada “resources” bisa saja terputus dan legitimasi kekuasaan yang mereka miliki memudar. Tetapi naluri “the establishment” untuk terus berada di atas panggung dan berkuasa akan terus membara. Ketidakrelaan untuk mengalihkan kekuasaan kepada orang-orang di luar kelompok kepentingan ini akan menjadi sumber kesusahan.

Adakalanya pemimpin tua atau yang dituakan sudah ingin mundur dari panggung, tetapi kakinya akan ditarik terus oleh kader yang tidak mampu berdiri di atas kakinya sendiri. Lama-lama organisasi akan berubah menjadi lembaga tradisional dengan pemimpin-pemimpin sepuh yang karismatis. Organisasi akan diwarnai oleh konflik dan office politics. Saling tuduh dan fitnah, hingga jegal-menjegal akan menjadi hal yang biasa. Kalau ini dibiarkan organisasi akan sangat sulit untuk berubah. Pemimpin-pemimpin yang bisa dilahirkan hanyalah pemimpin-pemimpin yang berorientasi ke masa lalu, bukan ke depan. Energi mereka akan habis untuk mengurusi hal-hal yang tidak perlu. Setiap perubahan akan dianggap sebagai ancaman, dan change makers akan diberi ruang yang sangat sempit untuk bergerak. Langkah-langkah change makers digugat dan selalu dikembalikan kepada bayang-bayang kesuksesan masa lalu.

Di setiap organisasi yang banyak memiliki masalah, yang perkembangannya relative statis atau bahkan menurun, kelompok “the establishment” akan selalu ada. Tapi di antara kelompok ini orang-orang berpikiran positif yang siap untuk meninggalkan panggung dan tidak menghalangi perubahan akan selalu ada. Orang-orang yang mau melakukan perubahan harus tahan uji menghadapi kelompok ini, memiliki napas panjang, dan siap untuk menang. Dalam hal tertentu “the establishment” juga menanamkan nilai-nilai dan asumsi-asumsi yang hanya cocok untuk kepentingan mereka. Untuk memperbarui organisasi adakalanya anda perlu “menghancurkan” lebih dulu nilai-nilai dan asumsi-asumsi lama untuk menumbuhkan hal-hal baru. Dan proses ini bisa menimbulkan ketegangan-ketegangan, ketidaknyamana, dan kegundahan-kegundahan. Tetapi itulah perubahan. Selalu harus ada pihak yang rela melakukannya.

(dari cHaNgE : Rhenald Kasali )

Categories: organisasi · peradaban

Mengapa Takut Bertindak dan Berpikir Sederhana

September 3, 2008 · Leave a Comment

Insecure managers create complexity. Frightened, nervous

managers use thick convoluted planning books and busy

slides filled with everything they’ve known

since childhood

Real leaders don’t need clutter

People must have self-confidence to be clear, precise,

To be sure everyperson understand

Jack Welch

Sampai di sini hampir semua orang setuju betapa pentingnya berpikir dan berkomunikasi dengan jernih (clear), dan jelas. Tetapi, dalam praktiknya, manusia menemui banyak hambatan dan kesulitan. Orang-orang yang berpikir dan bertindak sederhana akan menuai banyak sejumlah kritik. Kritik-kritik ini bisa mengurangi keyakinan anda untuk berkomunikasi dengan sederhana. Kritik-kritik itu antara lain sebagai berikut :

Anda akan disebut simplisistik. Simplisistik, bagi sebagian orang adalah penghalusan dari kata “tidak pandai” atau “bodoh”. Mereka bisa saja mengatakan bahwa anda benar-benar simple, pengetahuan anda terbatas, kurang wawasan dan lain sebagainya. Sepanjang yang mereka ketahui, orang-orang yang cerdas mampu menyajikan secara kompleks dan sulit dimengerti.

Anda dinilai kurang mengerti. Sebagian orang beranggapan bahwa masalah yang mereka hadapi begitu kompleks sehingga membutuhkan pemecahan masalah yang kompleks. Mereka menuntut konsultan menyajikan laporan yang tebal-tebal dan memuat banyak gambar, bagan, flow, dan angka yang kompleks untuk sebuah kontrak yang mereka anggap mahal. Konsultan yang menyajikan hal yang simple dianggap kurang mengerti.

Seseorang akan mengatakan: “Begitu saja, saya juga sudah tahu.” Jawaban atau penjelasan anda yang sederhana dan terlalu mudah dimengerti bisa dianggap terlalu basic (dasar), terlalu umum, terlalu jelas. Mereka menuntut alternative. Sesuatu yang jenius, bagi sebagian orang, tidak mungkin diperoleh dalam sekejap.

Anda akan dicap “malas”. Kata “malas” bukanlah berarti malas secara fisik (Seperti enggan “bangun pagi” atau “mengerjakan tugas” ) melainkan “malas berpikir”. Bagi sebagian orang, mereka yang mau berpikir keras adalah orang-orang yang mampu menyajikannya lewat jalan yang berkelok-kelok dengan ratusan lembar data pendukung, statistic yang kompleks, dan modeling yang terbaru. Kalau anda tak menggunakannya berarti anda malas dan “simpleminded” (bodoh).

Seperti kata Jack Welch, dibutuhkan keberanian untuk berpikir dan bertindak sederhana. Anda tidak berarti sudah cukup cerdas dengan menyajikan sesuatu yang kompleks dan tidak dimengerti. Hanya orang-orang cerdas yang berani menyajikan hal yang kompleks dengan cara yang dimengerti orang lain. Tugas anda dalam menciptakan perubahan adalah membantu agar para pengikut anda mengerti dan melihat apa yang anda lihat dengan jelas. Artinya, anda membuat sebuah impak.

Categories: entrepreneurship · knowledge