know what,who,why and how

Gelombang Bisnis Teknologi

July 25, 2008 · 3 Comments

Ada empat macam gelombang bisnis dalam kehidupan manusia. Pengelompokan ini didasarkan pada komoditas yang diperjualbelikan, tolok ukur kemakmuran, dan determinan nilai ekonomi. Keempat gelombang bisnis itu ialah :

1. Gelombang bisnis pertanian

Pada gelombang bisnis ini, segala yang digunakan dalam hidup murni berasal dari alam. Bahan baku alam adalah barang yang diperdagangkan. Kuantitas bahan baku menentukan nilai ekonomi yang dihasilkan. Kemakmuran diukur dari luas tanah yang dimiliki dan jumlah hasil panen.

2. Gelombang bisnis industri

Gelombang bisnis ini mengandalkan produksi sebagai lanjutan dari penemuan-penemuan yang sudah ada. Barang yang diperdagangkan adalah barang jadi, bukan bahan baku. Nilai ekonomi ditentukan dari added value yang ditambahkan. Pada masa ini, produksi belum dilakukan dalam jumlah besar. Kemakmuran diukur dari penguasaan baja, peralatan industry, transportasi, dan batu bara.

3. Gelombang bisnis produksi massal

Produksi massal dari produk-produk industry adalah ciri khas pada gelombang bisnis ini. Produk diperdagangkan secara kualitatif dan kuantitatif. Nilai ekonomi ditentukan oleh added value yang ditambahkan dan volume produk yang dihasilkan. Kemakmuran diukur dari tingkat penjualan retail, penjualan mobil, dan pembangunan perumahan.

4. Gelombang bisnis teknologi

Teknologi yang menjadi komoditas bisnis. Teknologi informasi secara kental menjiwai produksi, pemasaran, distribusi, dan pasar bisnis teknologi. Kemakmuran diukur dengan jumlah sambungan internet terhadap jumlah penduduk dan persentase pengeluaran untuk teknologi informasi dibandingkan dengan produk domestic bruto (PDB).

Gelombang bisnis teknologi diawali oleh bidang Riset dan Pengembangan ( Research&Development ) dengan intensitas tinggi. Sebagai contoh, di industry farmasi sendiri, biaya R&D berkisar 11,5% terhadap total penjualan ( tahun1970 ), sekitar 17% dari total penjualan (1980-an sampai 1992), sekitar 19% dari total penjualan pada tahun 1995&1996.

Inovasi dari bisnis teknologi juga sangat dipengaruhi oleh kuantitas lembaga riset dan perguruan tinggi dalam suatu wilayah kota atau negara. Ambil contoh Silicon Valley di Amerika Serikat. Wilayah bisnis teknologi ini ditopang oleh beberapa faktor : kampus penelitian Stanford University, perusahaan Fairchild Semiconductor dan peranan imigran asia sebagai sumber daya manusia.

Infrastruktur kelembagaan yang penting untuk dihadirkan dalam pembangunan bisnis teknologi adalah modal ventura. Lembaga ini memberi dukungan pendanaan untuk kegiatan-kegiatan penelitian yang dilakukan. Modal ventura menanggung risiko yang cukup besar, mengingat peluang kegagalan riset dan pengembangan yang besar pula.

Informasi mengalir begitu cepat dalam bisnis teknologi. Informasi mengalir tidak hanya melalui media cetak seperti jurnal, buku, majalah, koran dan lain-lain. Tetapi, sudah melalui internet. Oleh karenanya, seperti telah dijelaskan di atas, rasio sambungan internet terhadap jumlah penduduk menjadi tolok ukur kemakmuran dalam era bisnis teknologi ini.

Pendidikan dibangun dengan saat seksama pada bisnis teknologi ini. Bila di Silicon Valley ada Standford University, maka Taiwan melakukan pengiriman pemuda Taiwan dalam jumlah besar untuk menjadi pelajar di ke negara-negara maju. Di kemudian hari, pemuda-pemuda ini kembali ke Taiwan dan mengaplikasikan keilmuannya. Pengembangan pendidikan tidak hanya dapat dilakukan di tingkat perguruan tinggi saja, tetapi juga melalui pembentukan keahlian dari tenaga-tenaga ahli. Biasanya melalui sekolah-sekolah vokasional, atau sekolah-sekolah kejuruan.

Berbicara tentang bisnis teknologi dan knowledge-based economy, sesungguhnya terdapat kesamaan di antara keduanya. Dimana keduanya didasarkan pada pengetahuan (knowledge) yang digunakan untuk memberikan nilai tambah (added value) pada suatu produk. Oleh karenanya riset dan pengembangan menjadi satu kunci penting di dalamnya, khususnya untuk menentukan added value tersebut.

Lagi, lagi, dan lagi. Semua faktor-faktor di atas ditopang oleh karakter entrepreneurship yang kuat. Yakni, karakter memanfaatkan dan mengoptimalkan peluang yang ada untuk menghasilkan uang. Karakter ini tampak dari inovasi dalam riset dan pengembangan, pemanfaatan modal ventura untuk pendanaan, dan perusahaan sebagai produsen dari produk berteknologi. Tanpa ditopang karakter entrepreneurship yang kuat dalam tiap diri pribadi-pribadi, kelembagaan (kampus, lembaga riset, modal ventura) yang ada hanya akan menjadi sebuah organisasi saja.

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh Indonesia bila ingin mengembangkan bisnis teknologi, menurut saya. Antara lain :

· Pengembangan pendidikan melalui perguruan tinggi dan sekolah kejuruan, untuk menopang kapasitas pengembangan pendidikan yang ingin dilakukan, perlu dihitung rasio antara jumlah perguruan tinggi dan sekolah kejuruan terhadap jumlah penduduk.

· Pengembangan Research & Development, melalui pembentukan modal ventura yang bersedia membiayai aktivitas-aktivitas penelitian. Berbicara modal, tentunya tidak bisa dipisahkan dari kuantitas pembiayaan yang akan diberikan. Rasionya adalah nilai pembiayaan terhadap produk domestik bruto ( PDB ).

· Pembentukan karakter entrepreneurship, melalui seleksi bibit-bibit entrepreneur di masyarakat. Seleksi ini dapat dilakukan oleh asosiasi-asosiasi pengusaha.

Daftar Pustaka

Sembodo, Amir. Menyongsong Gelombang Baru Bisnis Teknologi.2004.Jakarta:Penerbit Buku Kompas

Sampurno, Knowledge-based Economy:sumber keunggulan daya saing bangsa.2007.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Categories: entrepreneurship