Pasar Makanan Halal


Jumat (11/7) pekan lalu, kami dan teman-teman Komunitas Memberi (@MemberiID) mengadakan launching buku kami terbaru berjudul “Marketing to The Middle Class Moslem” (Gramedia Pustaka Utama, 2014). Buku ini disusun berdasar insight yang kami peroleh selama melakukan riset selama enam bulan terakhir dengan responden kelas menengah muslim. Banyak respon menarik yang kami dapatkan dari para peserta book launching tersebut yang berlangsung di PPM School of Management, Menteng. Salah satu yang paling menarik perhatian adalah mengenai makanan halal. 

Topik ini kami angkat dalam riset karena beberapa waktu lalu karena kami menemukan bahwa total nilai pasar gaya hidup muslim di Indonesia kurang lebih mencapai US$ 235 miliar (2012) menurut DinarStandard. Pasar ini memiliki cakupan yang cukup luas, meliputi makanan dan minuman kemasan, makanan yang disajikan di hotel, restoran atau warung, hingga obat-obatan dan jamu. Pasar makanan halal ini menjadi kian mencorong ketika kita menyaksikan kecenderungan konsumen muslim Indonesia yang semakin religius dan peduli untuk mengonsumsi makanan-makanan yang halal.

Peduli Halal
Konsumen muslim kini tidak hanya mencari kemanfaatan fungsional dan emosional dari produk makanan, tetapi juga manfaat spiritual, yaitu seberapa jauh produk tersebut mengikuti nilai-nilai yang sudah digariskan oleh Islam. Hal ini disebabkan konsumsi makanan dan minuman halal merupakan bentuk kepatuhan kelas menengah muslim pada nilai-nilai Islam yang juga merupakan investasi untuk kehidupan akhirat.

Dengan semakin teredukasi dan open minded-nya konsumen muslim, kami memprediksi bahwa pemahaman terhadap prinsip halal nantinya akan semakin substantif. Mereka memahaminya tak hanya melulu normatif, yaitu sebatas menjalankan perintah agama, tapi lebih jauh lagi dalam rangka betul-betul mencari kemanfaatan yang bersifat universal. Dengan pemahaman yang lebih universal ini kami meyakini label halal nantinya akan memiliki citra yang tidak hanya positif, tapi juga bergengsi tak hanya di kalangan produsen tapi juga konsumen.

Informasi Halal
Perkembangan informasi yang kian cepat dan melimpah turut meningkatkan pemahaman kelas menengah muslim akan makanan dan minuman halal. Kini misalnya, mulai banyak program televisi yang secara khusus menayangkan informasi mengenai produk dan makanan halal. Program ini biasanya dilatarbelakangi oleh banyaknya pertanyaan pemirsa yang mampir di meja redaksi, yakni seputar makanan halal.

Selain televisi, media sosial juga menjadi information channel yang kian mendongkrak kesadaran halal konsumen muslim. Media sosial telah menjadi medium terbuka untuk bertanya, memberi informasi, dan mendiskusikan berbagai topik mengenai makanan dan minuman halal. Harus diingat bahwa kelas menengah muslim itu sudah modern, sehingga kehadiran teknologi digital yang baru justru akan dimanfaatkan untuk berbagi dan berkomunikasi mengenai kehalalan suatu produk.

Kepo Halal
Temuan kami berikutnya dari kelas menengah yang notabene knowledgeable adalah makin kritisnya mereka terhadap kehalalan suatu produk. Berbagai upaya dilakukan untuk mengetahui status halal suatu makanan atau minuman. Contohnya adalah mengecek label halal LPPOM MUI ketika akan memilih dan membeli suatu produk. Bila belum menemukan logo halal, yang berikutnya dilakukan yaitu mencari informasi di internet. Sebagaimana tersampaikan sebelumnya, bahwa kelas menengah dapat bertanya dan mencari tahu status halal makanan atau minuman melalui media sosial.

Tidak hanya label halal saja yang ingin diketahui oleh konsumen kelas menengah muslim, tapi juga bagaimana proses produksi dan pengolahan makanan, serta jenis bahan-bahan yang digunakan. Kami lebih senang menyebut fenomena ini dengan “kepo halal”, yang tidak lain adalah singkatan dari knowing every particular object, khusus produk-produk halal. Tak mengherankan jika kini produsen makanan dan minuman di berbagai kategori berlomba-lomba mendaftarkan produknya untuk mendapatkan label halal.

Komunitas Halal
Di samping identik dengan knowledgeable, kelas menengah juga identik dengan koneksi sosial (social connection) yang tinggi. Dalam konteks makanan halal, hal ini berimpak pada lahirnya komunitas-komunitas yang berpusat pada isu-isu kehalalan. Semangatnya sama, yakni berbagi berbagi informasi sekaligus melakukan edukasi pada masyarakat mengenai konsep halal. Selain aktif di media sosial, komunitas-komunitas ini juga getol melakukan “kopi darat” alias bertemu tatap muka.

Karena kekuatan online dan offline-nya, komunitas kemudian menjadi medium yang sangat ampuh untuk mengedukasi dan mengampanyekan makanan halal. Adanya perasaan bersaudara di kalangan umat Islam menjadikan mereka berkewajiban untuk saling mengedukasi, mengingatkan dan melindungi, termasuk dalam hal mengonsumsi makanan halalan thayyiban (yang halal dan yang baik). Fokus komunitas-komunitas halal ini untuk mengejar manfaat-manfaat spiritual, yakni menebar kebaikan dan mencari pahala melalui distribusi informasi terkait halal.

Pekerjaan rumah (PR) terbesar bagi para pemasar saat ini adalah bagaimana pintar-pintar mengenali berbagai perubahan ini di kelas menengah muslim. Perubahan-perubahan tersebut harus dipahami pada tingkatan (level) perilaku. Dari sini, strategi yang tepat kemudian dapat dipetakan untuk mentarget dan menembak segmen muslim. Ayo marketer Indonesia, kita harus cepat berubah untuk memenangkan persaingan ini!!

Dipublikasi di strategi pemasaran | Tag | Tinggalkan komentar

Mewujudkan Mimpi Kebebasan Finansial


Potensi besar pasar kelas menengah muslim Indonesia memang tidak main-main. Penduduk muslim berjumlah hampir 90%. Kegairahan peradaban muslim juga terjadi di berbagai bidang: finansial syariah, fesyen hijab, seni & budaya, makanan halal, travel umrah/hajj. Sebagai bagian dari menyemarakkan potensi besar ini, kami dari Inventure, CMCS (Center of Middle Class Studies) dan Majalah SWA akan menyelenggarakan konfereksi terkait moslem middle class ini. Jangan lupa, waktunya adalah Selasa, 15 Juli 2014. Bertempat di Hotel Intercontinental. Salah satu yang menarik untuk kita cermati adalah bagaimana industri asuransi dan investasi syariah semakin berkibar bersama segmen kelas menengah muslim. Asuransi sebagai alat proteksi, dan investasi sebagai alat memajukan ekonomi keluarga. Keduanya merupakan buah dari makin meleknya kelas menengah akan produk-produk keuangan. Terlebih, sudah ada discretionary income (pendapatan berlebih) yang dapat digunakan untuk membeli kedua jenis produk tersebut. Kedua produk tersebut merupakan jalan bagi kelas menengah dalam mewujudkan mimpi-mimpi kebebasan finansial (financial freedom). Berikut ini adalah temuan-temuan kami bagaimana kelas menengah muslim memberikan respon yang berbeda, untuk produk asuransi maupun investasi yang patuh dengan nilai-nilai Islam (syariah). Asuransi Takaful Secara muamalah (hubungan antar manusia yang diajarkan menurut Al Quran), takaful berarti saling memikul risiko di antara sesama muslim sehingga yang satu berperan sebagai penanggung jawab atas risiko bagi yang lain. Asuransi takaful dijalankan dengan akad tabarru’ yang prinsipnya adalah ta’awun yaitu tolong-menolong. Dengan begitu sesama muslim dapat meringankan berbagai bencana yang dialami oleh mereka yang tergabung dalam grup asuransi syariah. Unit Link Terfavorit Selain asuransi, ada juga produk unit link yang kian menjadi favorit di mata kelas menengah muslim. Produk ini merupakan produk unggulan pilihan nasabah, khususnya bagi mereka yang ingin mendapat dua manfaat sekaligus, yakni manfaat asuransi dan investasi. Dengan premi yang ditawarkan, memperoleh dua manfaat sekaligus berarti membeli produk yang dibundel dengan produk lainnya. Kelas menengah muslim yang hypervalue-oriented sangat memperhatikan value apa saja yang diterima setelah membayar sejumlah price. Jadi unit link memang lebih menarik karena berfungsi asuransi dan investasi. Tidak perlu melakukan pembelian produk asuransi dan produk investasi secara terpisah. Unit link syariah adalah alternatif bagi kelas menengah muslim. Dengan menghindari unsur-unsur gharar, maisir, riba, haram, dan bathil, insya Allah mereka akan beroleh ketenangan hati dan pikiran. Sebagian dana sisa dari premi kemudian ditempatkan ke berbagai instrumen investasi yang lain, terutama instumen investasi berbentuk surat berharga. Contohnya adalah saham (yang pengelolaan perusahaannya harus syar’i), reksadana syariah (reksadana tanpa portfolio obligasi yang mengandung riba), ataupun sukuk (suatu obligasi syariah). Keuntungan investasi dibagi dua antara pemilik dana dengan perusahaan selaku pengelola dana nasabah. Dari Tradisional ke Modern Generasi terdahulu berinvestasi melalui emas dan properti yang unggul dalam hal kenaikan imbal hasil. Memiliki rumah utuh untuk dikontrakkan kepada keluarga atau kos-kosan untuk dikontrakkan kepada mahasiswa merupakan impian mereka. Perbedaannya adalah generasi kelas menengah yang lebih knowledgeable mulai mengenali instrumen investasi yang lebih modern seperti saham, reksadana, atau obligasi. Instrumen modern ini adalah solusi alternatif bagi kelas menengah muslim dalam berinvestasi. Keunggulannya adalah harganya yang relatif terjangkau dan dapat dimulai dengan nominal kecil. Bahkan bisa dilakukan dengan dana kurang dari 1 juta perak. Investasi modern cenderung membutuhkan kemampuan lebih dalam mengukur risiko. Prinsipnya standar: high risk high return. Jadi meski risikonya lebih tinggi dibanding emas atau properti, tetapi mereka yang berinvestasi di surat berharga ternyata juga memiliki kemampuan yang baik dalam mengukur risikonya. Investasi Syariah Nan Riil Selain di sektor finansial, kalangan kelas menengah muslim juga melakukan investasi riil. Pertama yang favorit adalah investasi penggemukan sapi atau kambing. Captive market-nya sudah jelas. Bila musim kurban (hari raya Iedul Adha) tiba, komoditi ini hampir pasti laku terjual. Karakteristik permintaan dari sapi dan kambing menjadi alasan utama bagi mereka yang berinvestasi syariah seperti ini. Ada pula yang menawarkan investasi kos berjamaah. Artinya bersama-sama membangun rumah kos untuk mahasiswa atau karyawan kantor. Selain unsur bagi hasil, faktor syariah yang menjadi penarik investor kos jamaah biasanya adalah tidak mencampur jenis kelamin penghuninya. Cukup perempuan saja, atau cukup lelaki saja yang menjadi penghuni. Berbagai produk asuransi dan investasi syariah di atas untuk mencapai satu tujuan: mimpi kebebasan finansial. Di samping adanya kegelisahan akan masa depan, kelas menengah muslim juga punya impian-impian besar yang tidak dapat terwujud dengan hanya satu bulan penghasilan. Misal: rumah besar, mobil baru, dst. Sehingga asuransi dan investasi sebagai instrumen keuangan digunakan secara maksimal untuk mewujudkan tujuan-tujuan keuangan tersebut.

Dipublikasi di strategi pemasaran | Tag , | Tinggalkan komentar

Makin Kaya, Makin Memberi


Bulan April-Mei ini Inventure melakukan survei khusus mengenai perilaku konsumen kelas menengah muslim di Indonesia. Salah satu hal yang melandasi riset tersebut adalah hipotesis adanya kecenderungan bergairahnya perilaku berzakat dan bersedekah di kalangan masyarakat kelas menengah muslim kita. “Makin kaya, makin banyak memberi’, begitu kira-kira pameo yang pas kita sematkan pada masyarakat kelas menengah muslim kita. Saat ini total zakat yang berhasil dihimpun baru sekitar Rp. 2,5 triliun. Semuanya merupakan akumulasi dari berbagai lembaga ZISWAF (Zakat, Infak, Sedekah, Wakaf) seperti Dompet Dhuafa, Rumah Zakat, PKPU dan lembaga ZISWAF yang lain. Menyimak data BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional) terbaru, maka perolehannya baru kurang dari 1% dari potensinya yang sebesar Rp. 270 triliun. Tetapi dalam 5 tahun terakhir, rata-rata kenaikannya adalah 24%. Kenaikan tersebut bisa dibilang luar biasa, apalagi bila mengamati perkembangan ekonomi yang nasional yang ditopang oleh tumbuhnya kelas menengah muslim di Indonesia. Kenaikan zakat nasional tersebut kami kira merupakan suatu wujud nyata kesadaran kelas menengah muslim dalam mengadopsi nilai-nilai agama Islam ke dalam kehidupan nyata bermasyarakat. Berikut adalah beberapa tren yang kami tangkap dari fenomena menggeliatnya semangat bersedekah masyarakat kelas menengah muslim kita. “Driver” Perputaran Ekonomi  Kelas menengah muslim sadar bahwa makin banyak yang disumbangkan, maka makin banyak yang dapat menerima manfaatnya. Bisa untuk belanja harian, digunakan untuk beasiswa, pengobatan bagi yang sakit, dan lain sebagainya. Kelas menengah muslim juga yakin bahwa dana “gratis” ini dapat bermanfaat maksimal dan memutar berbagai kegiatan masyarakat, termasuk meningkatkan daya beli. Jadi zakat juga berperan sebagai “driver” dalam mendorong perputaran dan pertumbuhan ekonomi. Kesadaran kelas menengah muslim akan peran zakat selaku “driver” perputaran ekonomi ini tampak dari survei Inventure tahun 2013 yang menunjukkan bahwa pengeluaran kelas menengah untuk zakat dan sumbangan mencapai 5,4% dari total pengeluaran bulanan. Yang mana, persentase tersebut lebih tinggi daripada kewajiban yang telah dibebankan selama ini, yaitu 2,5%. Zakat: Transfer dan Tunai Mas Thoriq Helmi, salah satu direktur di Dompet Dhuafa, suatu kali pernah mengungkapkan kepada kami bahwa sedekah dan zakat yang ditampung Dompet Duafa selama ini sebagian besar diperoleh dari kalangan muslim kelas menengah. Dia juga bilang, potensi zakat dari kelas menengah muslim ini sangat besar dan potensinya terus bertumbuh dari tahun ke tahun. Menariknya, “Lebih dari 90% dari mereka membayar zakat via electronic channel seperti transfer ATM, atau debit,” ujarnya.Wow…techy amat! Dan bukan berarti medium tunai ditinggalkan sama sekali. Karena seperti diuraikan salah satu responden kami, “Kalau biasa transfer, sesekali diganti dengan sumbangan langsung ke kotak amal. Kalau biasa ke lembaga zakat, kini menyumbang di masjid kompleks.” Jadi meski tunai adalah cara lama, tapi tunai tidak tergantikan oleh transfer. Karena “segar”-nya dana yang bisa digunakan langsung oleh objek zakat (mustahiq) itulah khasiatnya! Era Institusi Sedekah Selain dana segar, ada juga kelas menengah muslim yang menyedekahkan waktu dan tenaganya untuk aktif terlibat dalam institusi sedekah. Ada Sedekah Rombongan (@SRbergerak) yang dimotori oleh mas Saptuari Sugiharto (@saptuari). Komunitas ini fokus mendayagunakan dana sedekah yang terkumpul untuk membiayai pengobatan bagi mereka yang tidak mampu. Senyum lebar tersungging di bibir mereka pasca operasi berlangsung. Disamping itu ada juga Komunitas Sedekah Harian@SedekahHarian yang digerakkan oleh mas Abdul Aziz (@AbdulAzizID). Program utama yang seringkali digadang-gadang adalah #WisataBerbagi, yakni event perjalanan wisata ke Masjid, Pesantren atau Panti Sosial. Target sedekahnya adalah warga di sekitar daerah tujuan wisata. Jadi sedekah bukan domain lembaga ziswaf yang resmi saja, melainkan juga oleh para volunteer yang sangat ikhlas berbuat baik kepada sesama. Tuntutan Inovasi Program Kelas menengah muslim yang umumnya knowledgeabletelah melahirkan masyarakat yang kritis dan selalu ingin hasil yang lebih baik. Termasuk pada distribusi zakat dan berbagai program turunannya. Mereka menuntut inovasi program yang lebih baik dari para lembaga zakat selaku pengelola dana. Beberapa lembaga zakat merespon dengan sangat baik. Contohnya adalah program Superqurban dari Rumah Zakat dan Sekolah Smart Ekselensia yang digagas Dompet Dhuafa. Inovasi program Superqurban terletak pada format daging kurban dalam bentuk kemasan kalengsehingga mudah didistribusikan ke berbagai penjuru tanah air. Betapa luar biasa nilai tambah manfaat yang diberikan manakala format kemasan daging kurban diubah menjadi kemasan kaleng seperti ini! Sedangkan Smart Ekselensia adalah adalah sekolah berkualitas yang dieksekusi langsung dengan dana zakat. Kongkrit dan kontributif untuk pendidikan nasional kita. Kelas menengah muslim yang demanding menuntut pendekatan baru mengenai edukasi berzakat. Kalkulator Zakat dari lembaga zakat adalah jawaban dari tuntutan tersebut. Apalagi di era digital ini, semuanya dituntut untuk bisa adaptif dengan teknologi modern nan terbaru. Kini kalkulator zakat bisa diakses di situs lembaga zakat, dan ada pula dalam format mobile apps. Bagaimanapun juga, ber-Islam itu adalah suatu proses belajar. Hal inilah yang terutama dirasakan oleh kelas menengah muslim. Dan bukan sekedar belajar tentang, tapi juga melakukan dan menjadi Muslim. Dan ”memberi” dan “berbagi” adalah suatu proses sepanjang hayat dalam upaya menjadi Muslim itu sendiri.

Dipublikasi di strategi pemasaran | Tinggalkan komentar

Surviving The Middle Class Brand


Potensi disrupsi yang sangat besar mungkin dialami oleh brand yang kita kelola. Pertama karena kondisi perekonomian nasional kita yang terus bertumbuh dan menarik minat banyak pemain dari dalam maupun luar negeri. Sebab kedua adalah hiruk-pikuk social media yang kian merajalela, baik dari jumlah user yang terus bertumbuh maupun jenis socmed yang semakin bertambah. Semaraknya socmed diiringi dengan pertumbuhan social media entrepreneur, yakni para wirausahawan yang sangat mengandalkan socmed sebagai senjata marketingya. Kelompok usahawan ini meski skalanya mungil, gesit berkelit dan liat bersiasat.

Sebab pertama melahirkan segmen konsumen baru yang kita sebut kelas menengah, dengan beragam faktor psikografi dan perilaku yang sama sekali baru. Melalui kelompok ini kita mengenal istilah-istilah baru seperti, ‘mass luxury’, ‘hyper value consumer’ hingga ‘orang kaya baru’. Kelas menengah yang kami riset bersama CMCS (Center for Middle Class Consumer Studies) sejak 2012 ini, ternyata memiliki dua fondasi kuat, yakni knowledgeability dan social connection.

Sebab kedua mengakibatkan perilaku baru konsumen dalam mengkonsumsi media itu sendiri. Selain konsumsi media satu arah seperti internet 1.0, kelas menengah juga memproduksi dan mengkonsumsi media melalui internet 2.0 seperti social media. Kelompok konsumen ini lebih bahagia dengan conversation dan narsisme diri mereka sendiri. Kecilnya social circle mereka bisa jadi kesulitan tersendiri bagi brand untuk masuk dan memberikan pengaruhnya.

Selain itu, internet dan social media juga mengajarkan konsumen menjadi lebih pintar. Kami kira tidak hanya di industri otomotif di mana para calon pembeli mencari informasi dulu di internet baru berangkat menuju outlet (dealer mobil). Bahkan pada level tertentu, konsumen lebih dulu tahu update teknologi otomotif yang belum hadir di Indonesia. Sudah dibicarakan di komunitas, baik online atau ketika kopi darat, tapi belum tentu para pemain bisnis bisa mengikuti kecepatan kelas menengah ini.

Berbagai latar belakang di atas mestinya membukakan mata para pelaku bisnis, menuntut dibukanya telinga lebar-lebar, agar jangan sampai brand milik sendiri terdisrupsi sedemikian rupa. Tiga usulan di bawah ini bertujuan untuk menjaga dan mempertahankan brand tidak hanya dari kepunahan, tetapi juga untuk bangkit dan beradaptasi dengan pola-pola baru.

Branding is about building relationship

Relasi alias hubungan itu dapat dibangun pada berbagai tingkat kedekatan (intimacy). Di mana, salah satu yang paling pertama dan utama adalah membangun conversation itu sendiri. Sekarang ini, conversation terjadi di mana-mana. Baik online maupun offline. Apalagi conversation di ranah maya kian beragam. Perceived quality suatu brand adalah topik penting yang sering dibicarakan. Maka dari itu, building conversation is a brand investment. Sebelum ditinggal trend, dilupakan konsumen dan mati tak meninggalkan jejak.

Bagaimana caranya? Pada dasarnya, konsumen suka mendengar story dari brand builder. Yang dibutuhkan oleh konsumen saat ini adalah konten-konten yang mampu mengisolasi mereka ke dalam komunitas mereka. Konten yang mengikat mereka dan dapat menyentil anxiety and desire mereka sebagai suatu common values. Hal ini tidak mudah memang. Karena building brand is long term process. Tetapi manfaat jangka panjangnya akan sangat terasa. Brand membuat konsumen lebih mudah dalam memilih produk atau jasa yang tepat untuk mereka sendiri.

Branding is Word of Mouth  

Sangat berat bila hanya mengandalkan otot sendiri untuk membangun brand. Banyak dana harus dikeluarkan, sejumlah integrated marketing communication (IMC) plan harus dirancang, dan lain sebagainya. Bisa pingsan kehabisan tenaga sebelum tujuan marketing tercapai. Tapi kini ada metode yang sifatnya low budget high impact. Kuncinya adalah melibatkan konsumen sebagai pembicara dalam diskusi, dalam percakapan. Karena konsumen terkini lebih sering percaya teman atau kolega mereka atau orang yang bernasib sama dengan mereka. Jadi konsepnya adalah your customer as your salesman.

Branding is About ‘Relevanism’

Brand yang berhasil survive itu selalu relevan terhadap permasalahan yang dihadapi konsumennya. Relevansinya adalah sejauh mana brand tersebut mampu menjadi solusi bagi konsumennya. Karena ternyata, secara sosial (hubungan antar manusia), konsumen itu suka ‘ditaklukkan’. Dalam arti ketika kebutuhan (needs) atau keinginan (wants) berhasil terpuaskan oleh brand builder. Lebih lanjut, konsumen akan semakin ‘cinta’ dengan brand yang mampu memposisikan diri selaku ‘trusted source’. Yaitu sumber informasi terpercaya yang relevan dengan kebutuhan konsumen itu sendiri.

Apalagi kini dengan lahirnya smart consumers. Alias kelas menengah Indonesia yang sangat memperhitungkan berapa yang dia ‘give’ dan berapa banyak yang dia ‘get’. Kelas menengah yang seperti ini sangat mempertimbangkan brand apa yang dia beli dan konsumsi. Bagi kelompok ini, paham ‘relevanism’ adalah ketika brand mampu men-twist knowledgeability dan social connection yang mereka miliki selaku kelas menengah.

Para brand builder boleh menepuk dada dan mengaku “saya sukses dalam mengelola survival brand ini” ketika brand builder berhasil membuat kelas menengah merasakan dan bersorak “ini brand gw banget!!!”. Terutama ketika konsumen merasakan experienced yang sama setelah 2-3 kali menggunakan brand tersebut.

Dipublikasi di strategi pemasaran | Tinggalkan komentar

Pasar Kelas Menengah Muslim


Pasar kelas menengah muslim bakal menjadi pasar dominan di Indonesia karena dua alasan. Pertama, secara size memang luar biasa besar. Ya, karena sekitar 87% (2010) masyarakat kita adalah muslim. Kedua, karena sejak beberapa tahun terakhir muncul tren kegairahan baru peradaban Islam di Indonesia mencakup berbagai lapangan kehidupan mulai dari: ekonomi (maraknya bank syariah);ilmu pengetahuan, seni dan budaya (maraknya novel dan film bertema keislaman);dunia dakwah (fenomena ustad kontekstual), gaya hidup (tren hijabers), hingga kewirausahaan (menjamurnya komunitas wirausahawan muslim). Kegairahan baru ini berpotensi semakin mendorong menggeliatnya pasar lukratif ini. Kalau dalam buku Consumer 3000 (2012) kami konfiden mengatakan bahwa pasar kelas menengah merupakan “the biggest and the most profitable market in Indonesia”, maka tak berlebihan jika kini kami mengatakan bahwa pasar konsumen kelas menengah muslim merupakan “the biggest and most profitable middle class segment in Indonesia”. Dengan potensi yang demikian besar, tentu saja segmen ini tidak bisa diabaikan begitu saja oleh para pemasar dari berbagai industri baik besar, menengah, maupun kecil.Mengabaikan pasar ini berarti Anda akan menyesal selamanya. Selama setahun terakhir kami intens mengamati pasar kelas menengah muslim di Indonesia. Puncaknya, bulan puasa mendatang kami akan meluncurkan hasil survei kualitatif/kuantitatif mengenai perilaku dan prospek pasar menggiurkan ini. Dari pengamatan tersebut kami melihat sektor-sektor yang bakal tumbuh pesat. Eksistensi Bank Syariah Sejak pertama kali dirintis Bank Muamalat pada tahun 1991, bank syariah di Indonesia tumbuh luar biasa mencapai hampir 40% tiap tahunnya, jauh melebihi pertumbuhan bank konvensional yang tak sampai 20%. Memang penetrasinya belum mencapai 5% (total aset) dari total pasar perbankan, namun geliat perkembangannya sungguh menjanjikan. Hingga akhir 2013 setidaknya kita telah memiliki 11 bank umum syariah (BUS), 23 bank syariah dalam bentuk unit usaha syariah (UUS), dan 160 bank pembiayaan rakyat syariah (BPRS). Kantor cabangnya mencapai 2.925 dan telah menggaet sekitar 12 juta lebih akun nasabah dengan dana pihak ketiga (DPK) yang diraup mencapai lebih dari Rp 175 triliiun. Luar biasa!!! Fesyen Hijab Tren bisnis hijab meroket seiring dengan tren berhijab yang kian moncer. Frekuensi pembelian makin meningkat. Variasi model dan warna makin dikehendaki oleh para konsumen. Bagi yang muda, pertama kali berhijab adalah momen transformasi bahwa diri mereka sudah menjadi lebih dewasa. Bagi kalangan yang lebih senior, berhijab adalah upaya menjalankan nilai-nilai agama yang telah diperintahkan. Revolusi hijab terjadi di mana-mana dan menjangkiti berbagai kelompok usia. Di samping itu, influencer-nya sebagai pendongkrak pasar ini juga datang dari mana-mana. Mulai tokoh sinetron yang berhijab, artis yang bangga berbusana muslimah, hingga desain yang kian menarik dan terpajang di berbagai ritel fesyen muslim. Apalagi berhijab semakin menunjang aspek penampilan. Wanita yang pada dasarnya sudah stylish semakin dimanjakan dengan penampilan yang fashionable lewat hijab. Melalui hijab, aspek spiritual dan sosial (tampil menawan di hadapan orang lain) dari kelas menengah muslim kian terakomodasi. Halal Foods Pasar lain yang bakal meroket adalah makanan/minuman dengan label halal.Hal ini terjadi karena kelas menengah muslim semakin sadar mengenai pentingnya menjaga kehalalan dari makanan/minuman yang mereka konsumsi. Aspek spiritual semakin mendapat prioritas dalam berbagai lapangan kehidupan, termasuk kuliner.Seiring waktu,pemahaman kelas menengah muslim akan nilai-nilai agama semakin meningkat. Hal ini tidak lepas dari perkembangan informasi yang kian cepat dan melimpah. Salah satu channel informasi yang kian mendongkrak kesadaran label halal adalah media sosial. Media sosial kini kian massif menjadi medium terbuka untuk bertanya, memberi informasi, dan mendiskusikan berbagai topik mengenaimakanan/minumanhalal. Akun media sosial @halalcorner jadi contoh akun yang secara khusus mendedikasikan diri untuk mengedukasi umat muslim melalui medium baru ini. Pendidikan Islami Sekolah-sekolah bermuatan dan bernuansa Islami juga bakal kian marak di Tanah Air. Ada beberapa faktor penarik merebaknya pendidikan bernuansa Islam.Pertama adalah kebutuhan akan pendidikan karakter Islam. Di dunia yang berubah cepat dan kian modern, orang-orang tua muslim makin melihat bahwa karakter Islam merupakan nilai-nilai yang kian penting untuk dijadikan pegangan bagi anak-anak mereka. Globalisasi yang semakin merasuk ke dalam sendi-sendi kehidupan menuntut pendidikan yang mampu memberikan bekal kepada anak didik untuk merespons globalisasi dengan arif melalui kematangan karakter. Di sini pendidikan Islam menjadi solusi yang cespleng. Karena itubisnis pendidikan yang sanggup memberikan solusi tersebut melalui pembentukan karakter keislaman akan kian diminati orang tua kelas menengah muslim.Di samping pengetahuan dan ketrampilan umum seperti bahasa Inggris dan teknologi informasi anak didik juga memerlukan tameng nilai-nilai keislaman yang memeungkinkan mereka arif merespons modernitas dan globalisasi. Nah, sekolah-sekolah yang bisa menggabungkan keduanya akan mendapat tempat di hati orang-orang tua kelas menengah muslim. Kami melihat, mempelajari, memahami, dan mendalami kelas menengah muslim adalah pekerjaan rumah paling penting bagi para pemasar saat ini.Mumpung geliat pasar kelas menengah muslim ini masih di fase awal, maka Anda masih punya waktu untuk mengeksplorasinya. Ke depan, seiring dengan kian tumbuhnya pasar ini, kebutuhan dan perilaku mereka akan kian kompleks. Karena itu tak ada kata lain kecuali Anda harus mulai sekarang menggarapnya. Persis seperti dibilang Elvis Presley, “now or never”: Bergerak sekarang, atau Anda tak akan mendapatkannya selamanya. “Let’s get action!!!”

Dipublikasi di strategi pemasaran | Tinggalkan komentar

Diet Marketing


Saya kini punya istilah baru: “diet marketing”. Istilah ini mulai saya populerkan sejak saya sadari bahwa jadi marketer itu harus seperti penembak jitu (sniper). Jadi para sniper itu sadar bahwa mereka punya target (market), sementara amunisi (marketing resources) yang dimiliki serba terbatas.

Maka para marketer harus perhitungan dan berhati-hati dalam menggunakan amunisi. Jangan sampai amunisi (sumber daya pemasaran) habis, sementara dana tunai hasil penjualan belum juga masuk ke kantong sendiri. Perusahaan bisa kolaps sebelum waktunya. (Karena itu laporan keuangan yang benar secara akuntansi, akan memberikan informasi piutang yang tepat untuk ditagihkan kepada pembeli.)

Inti pesan kampanye “diet marketing” adalah setiap aktivitas pemasaran yang dilakukan harus dapat dipertanggungjawabkan hasilnya. Apakah itu berupa brand awareness, kenaikan hasil penjualan, bertambahnya outlet/channel penjualan yang baru, dan lain sebagainya. Data-data seperti ini (bila rajin dicatat) akan sangat membantu pengambilan keputusan bisnis di kemudian hari.

Oleh sebab itu, berbagai aturan main pun digelar di dalam perusahaan. Di perusahaan berskala besar, ada aturan bahwa salesman tidak boleh sembarang membuat program penjualan. Setiap program harus dibuatkan usulan (proposal)-nya, setelah disetujui oleh atasan baru anggaran program bisa turun. Ini yang sifatnya taktikal, untuk yang stratejik berbeda lagi.

Jauh sebelum proposal program taktikal disusun, setiap program marketing atau selling harus direncanakan masak-masak. Minimal untuk setahun ke depan. Apalagi setelah dunia bisnis kian turbulen, perusahaan tidak lagi memiliki rencana-rencana jangka panjang. Maksimal rencana adalah 3 tahun. Itu pun untuk keseluruhan operasional perusahaan. Bagian marketing? Setiap akhir tahun sudah menyusun rencana baru untuk tahun depannya dan bersiap dengan berbagai program dadakan (seperti contoh di atas) di lapangan yang harus digelar untuk adu siasat dengan kompetitor.

Kurang lebih 10-12 tahun yang lalu, ada konsep dalam dunia keuangan mikro perusahaan yang disebut dengan ROMI. Alias Return on Marketing Investment. Prinsipnya sama, bahwa tidak boleh ada resources yang terbuang sembarang. Semuanya harus memiliki hasil yang bisa diukur (baca: return). Karena jelas, semua yang bisa diukur berarti bisa dikelola (dengan) lebih baik lagi.

Low Cost Marketing Era

Dan di era internet dan social media ini, segala aktivitas pemasaran terasa lebih mudah dan murah (bahkan bisa gratis) karena bisa dibuat digital. Format bisa gambar (instagram), tulisan (twitter, wordpress) atau video (youtube). Tinggal ide kreatif serta eksekusi yang oke punya. Berbagai social media agency juga dapat membantu. Dari yang murah meriah tapi terjangkau hingga yang mahal tapi mampu menembus berbagai medium internet (portal site, aggregator site, news site, dll).

Alokasi biaya pemasaran juga makin bergeser. Digital kini menempati porsi yang tidak sedikit. Dan dari porsi tersebut, kemudian terdistribusi lagi ke berbagai website, blogger, online advertising, affiliate marketing, social media, SEO, dan lain sebagainya. Tidak hanya di marketing, dunia politik pun tidak bisa lagi menganggap sebelah mata para calon pemilih di era digital. Perhatian dan alokasi anggaran kini dialihkan ke yang riil dan yang digital.

Keep the Basic Marketing

Meskipun dunia kini seakan terbagi dua, yaitu dunia nyata (riil) dan dunia maya (digital), tapi konsep-konsep marketing masih tetap relevan. Target market di dunia digital tetaplah target market yang riil dan  “manusiawi” sehingga konsep marketing yang relevan tetap diperlukan sebagaimana di dunia nyata. Ke depannya, teknologi yang “humanly” adalah teknologi yang akan sukses.

Akan tetapi, ilmu marketing bukan ilmu tentang lipstick dan make up. Marketing bukan mendandani produk atau jasa (atau politik) sedemikian rupa sehingga terlihat begitu menarik bahkan melupakan apa esensi terbaik dari produk atau layanan (atau seseorang). Tetapi aktivitas marketing adalah booster dari object marketing itu sendiri. Karena setiap object marketing harus mampu mengeksiskan dan memasarkan dirinya sendiri. Lalu di-boosting oleh berbagai program pemasaran.

Eksistensi object marketing dibangun dari tiga hal: positioning, differentiation, dan brand(ing). Jadi secara positioning (content), sudah harus berbeda sejak awal. Lalu differentiation (context), meski mirip tetapi harus punya pembeda supaya tetap eksis meski hampir sama. Dan brand(ing) akan terbentuk manakala content dan context-nya berhasil ditangkap oleh target market.

Maka dari itu, membanjiri social media dengan berbagai pesan tidaklah bijak. Target market tetap harus dibidik, pelanggan tetap harus dikelola — dan dibentuk komunitas. Buat akun yang riil dan cocok dengan brand character si brand itu sendiri. Bangun komunitas offline, bangun juga komunitas online-nya.

Authentic Diet

Brand “Holycow” adalah brand resto steak hotel yang sangat mengandalkan promosi lewat social media. Terutama di awal-awal kelahiran brand tersebut. Caranya lewat “promotion tweet” yaitu tamu resto dipersilakan mention akun @holycowsteak untuk mendapat “bonus” satu porsi tiramisu gratis.

Demikian pula dengan “D’Cost”. Resto seafood yang operasionalnya sangat efisien ini, selalu mengandalkan program promosi kreatif yang “getok tular” dan menjadi bahan pembicaraan di mana-mana. Tanpa perlu membiayai program mahal di Above The Line (ATL), justru direktur-nya sempat mengisi acara talkshow selama 20 menit di TV karena program “Nikah gratis, hamil baru bayar”.

Jadi, object marketing yang authentic tidak perlu membayar mahal untuk bisa eksis. Program promosi yang kreatif (seperti D’cost) atau promosi lewat social media (seperti Holycow) akan menjadi jalur sutra menuju Word of Mouth (WOM) yang nyaris gratis tapi berefek luar biasa. Dua brand ini bisa menjadi contoh bahwa sukses tidak harus berbiaya mahal. Menjalankan aktivitas marketing seperti menjalankan diet bisa menjadi kunci suksesnya.

Sebagai penutup, diet tidak akan berhasil tanpa niat yang sungguh-sungguh dan dari hati yang paling dalam. Boleh melakukan diet dengan “ingin penampilan fisik yang lebih baik”, tapi niat yang paling benar adalah “hidup sehat”. Akhirnya penampilan fisik yang lebih baik adalah bonus. Sementara itu, diet marketing bukan membatasi berbagai langkah-langkah pemasaran, melainkan secara cerdas dan bijak mengelola berbagai pengeluaran untuk aktivitas komunikasi dan pemasaran.

Dipublikasi di strategi pemasaran | Tag , , | Tinggalkan komentar

Pekerjaan Konsultan (III)


Dalam tulisan sebelumnya saya menyampaikan tentang passion for knowledge. Bahwa sang konsultan harus memiliki passion terhadap pengetahuan (knowledge). Peng-alihbahasa-an passion menjadi hasrat saya kira tidak tepat. Karena passion itu lebih dari sekedar hasrat (untuk melakukan). Ketika passion, seseorang tidak hanya akan “melakukan”, tapi juga “menaklukkan”. Karena dalam passion harus ada tantangan yang ditaklukkan. Di dunia konsultasi, tantangan tersebut adalah knowledge itu sendiri.

Bagaimana segala bacaan, analisis, maupun tulisan seorang konsultan harus tidak jauh dari dari body of knowledge yang digelutinya. Apa  itu body of knowledge? Yaitu serangkaian ilmu (knowledge) yang masih terkait dengan ilmu-ilmu lainnya. Sehingga terkait secara utuh dan bermanfaat dalam menjawab permasalahan yang dialami oleh klien. Di sinilah nilai “tantangan” terhadap pekerjaan konsultan.

Sehingga dalam memahami suatu permasalahan klien, kita (baca: konsultan) tidak bisa memandangnya secara sepotong-sepotong saja. Harus comprehensive. Tidak saja secara teori yang pernah dirilis oleh para peneliti di bidang masing-masing, melainkan juga adanya tuntutan atas pemahaman terhadap permasalahan klien. Makin paham akar masalahnya, makin mudah juga merumuskan solusi yang tepat atas permasalahan klien tersebut. Istilah yang tepat digunakan adalah: “garbage in, garbage out”. Artinya, makin bagus/lengkap masukan (input) yang diperoleh dari klien dan dari berbagai referensi teori, maka makin sempurna keluaran (output) yang dihasilkan oleh konsultan.

Persoalannya adalah input dari klien tidak serta merta bisa segera digunakan untuk menjawab kebutuhan dan keinginan klien. Seringkali masih terdapat “lubang-lubang” di sana-sini yang harus dicari knowledge-nya terlebih dahulu. Hal ini karena tidak semua data maupun informasi benar-benar ada. Tidak heran, pekerjaan konsultan menuntut jumlah bacaan yang sedemikian tinggi untuk meng-cover “lubang-lubang’ knowledge yang belum terisi.

Dari gambar berikut ini, dapat kita pahami bahwa wisdom memang terbangun dari banyak sekali data yang telah terhimpun sebelumnya.

data, information, knowledge & wisdom

Pada konsultan dengan jam terbang yang lebih tinggi, “lubang-lubang” tersebut berhasil diisi lewat wisdom yang dia/mereka miliki. Karena pengalaman yang lebih banyak, seringkali wisdom dari konsultan senior tersebut benar adanya. Meski tidak bisa dipungkiri bahwa konsultan bisa saja salah, lho :D Dan kemungkinan tersebut harus terus diantisipasi oleh yang bersangkutan.

Sementara itu, kita tengok dulu ke gedung sebelah (baca: kampus). Sedikit-banyak, ini yang menyebabkan posisi dosen perguruan tinggi menjadi “kurang kuat” ketika menjadi konsultan. Semata karena banyak berinteraksi dengan mahasiswa dan kurang berinteraksi dengan keadaan riil yang terjadi di lapangan. Ini yang seakan menjadi titik lemah profesi dosen sebagai konsultan. Meskipun tidak bisa dibantah bahwa dari sisi penguasaan teori-teori yang merupakan hasil riset, dosen merupakan ahlinya.

Jadi, pekerjaan konsultan tidak terbatas di teorinya saja. Jadi bukan sekedar ilmu mendasar yang diajarkan oleh dosen-dosen di perguruan tinggi. Tidak seperti itu karena konsultan harus melakukan customization pada hasil pekerjaannya yang kemudian dipresentasikan dan diserahkan kepada para klien. Pekerjaan seperti ini tidak boleh membosankan bagi pelakunya. Karena kebosanan akan mengarahkan pada kualitas yang tidak memenuhi standar. Karena itu harus passionate.

Pekerjaan konsultan itu pekerjaan berpikir. Atau bisa disebut, banyak berpikirnya. Dan hasil olah pikir ini mungkin menurun kualitasnya bila tidak passionate. Karena olah pikirnya ditentukan olah rasanya. Standar yang sudah ditetapkan sulit diraih manakala olah rasa yang baik tidak terjadi di diri konsultan. Jadi tiap konsultan mutlak menemukan perasaan suka terhadap pekerjaannya.

Dan benang merah di antara semua aktivitas dan proses bisnis di dalamnya adalah “knowledge” . Mulai dari menghimpun berbagai data, melakukan analisis, hingga menyusun suatu laporan berisi usulan inisiatif-inisiatif yang harus dilakukan oleh klien ke depan.

Jadi ketika konsultan tidak hadir, atau tidak sedang presentasi, maka hanya dari proposal usulan proyek atau laporan hasil proyek saja sebuah konsultan dapat dinilai. Dan penyempurnaan proposal dan laporan menjadi kuncinya di sini. Rasa suka terhadap pekerjaan harus ada. Bila tiada, kedua dokumen tersebut hanya diserahkan seadanya saja kepada klien atau calon klien. Seperti profesi yang lain, tentu ada kiatnya untuk sukses.

Kuncinya adalah rajin dan tekun. Dalam membaca, menganalisis, dan menyempurnakan proposal maupun laporan. Hal ini pada dasarnya karena bisnis konsultasi bukan tipe business by product. Melainkan business of full service. Pada business by product, begitu produk diterima konsumen dan sudah dibayar, maka selesai sudah. Sementara pekerjaan konsultan tidak bisa demikian. Karena tidak ada produk riil-nya. Konsultan tidak akan survive bila tidak ada proyek lanjutan dari klien. Dan surviveability-nya konsultan sangat ditentukan oleh knowledge yang dia/mereka miliki dan terus dikembangkan.

Konsultan adalah salah satu profesi yang menuntut sikap tidak kenal lelah dalam memburu ilmu pengetahuan.

Dipublikasi di personal journal | Tag , , | Tinggalkan komentar