Go Global or Keep Local?


Globalisasi kerapkali dijadikan alasan untuk maju. Bahwa kemajuan kian identik dengan going global. Aliran informasi, uang, dan logistik yang melintas batas negara jadi tujuan mereka yang ingin berubah lebih baik. Sepintas, lokal berkesan tradisional, kuno, amatiran, dlsb.

Jadinya global seringkali dijadikan sebagai antitesis dari local. Dan demikian pula sebaliknya. Padahal, seiring kita mendalami keduanya, kita justru akan menemukan plus-minusnya masing-masing. Nah, mari kita bahas satu demi satu.

Going Global 

Global-minded. Sejauh mana human resource (sumber daya manusia) bisa belajar, berubah, dan meraih hasil. Ini biasanya dijadikan ciri global-minded. Pengalaman di luar negeri (meski baru sebatas student exchange). Experience semacam ini yang dilihat oleh global companies macam Unilever kala merekrut karyawan mereka.

Global-minded juga berarti memperoleh pendidikan yang terbaik: mengejar pascasarjana di luar negeri. Kebetulan di negeri kita masih memandang pendidikan tinggi di luar negeri punya pride dan prestise yang oke punya. Gengsinya pun dapat. Meski tidak semuanya demikian.

Penguasaan bahasa Inggris yang cas-cis-cus jadi kebutuhan utama. Tidak heran ada desa seperti desa Pare di Kediri yang menjadi tempat singgah dan belajar bahasa Inggris. Masing-masing english course di sana tumbuh organik dengan positioning masing-masing: ada yang fokus di writing, speaking, conversation, grammar, dlsb.

Teman saya yang sudah S2 di usianya yang baru 29 tahun (secara persentase, sangat sedikit lho WNI yang sudah meraih prestasi seperti ini), pun mengidam-idamkan pendidikan berkualitas baik dari lingkungan untuk putra-putrinya kelak. Meskipun yang bersangkutan saat ini masih belum menikah. :)

Berlibur/merantau/sekolah/tinggal di negeri orang jadi keinginan tersendiri. Psikografisnya: liburan sudah menjadi kebutuhan yang lebih dari sekedar basic. Lihat saja Indonesia sekarang. Bali atau Singapore bukan lagi destinasi yang diinginkan. Tapi sudah Jepang, Korea (selatan), Turki, bahkan hingga Eropa.

Cool factor. Kalo ga keren, ga mau! Kira-kira tipe anak muda sekarang yang ga cuma cari unsur fungsional aja, tapi juga seberapa keren elu di mata orang. Fesyen ga untuk nutup badan doang, tapi harus jadi alasan tampil ciamik! di mata rekan-rekan sepermainan. Lu keren, gw suka ma elu. Lu ga keren, elu bukan temen gw. Like and dislike become more intense than before.

Garuda Food. Ini adalah corporate best practice terdekat yang bisa saya jadikan contoh. Kurang puas cuma jualan kacang (salah satu industri yang sulit dimasuki oleh pemain FMCG), akhirnya jual beragam produk food and beverages (snack, biskuit, jelly, dll). Masih belum puas juga, “terpaksa” ekspansi ke Thailand, China, lalu India.

Masing-masing ada plus-minusnya. Contoh minusnya, mereka yang terlalu lama di negeri orang biasanya akan “lupa tanah air”. Sudah terlalu lama menjadi warga global. Di negara maju sana, pernikahan sudah dianggap urusan masing-masing. Lelaki dan perempuan tinggal seatap tidak digubris oleh tetangga. Sebab terlampau egois, malas memiliki anak. Ada istilahnya lho untuk yang komitmen menikah tapi tidak mau punya anak: DINKs (Double Income No Kids).

Biarpun sudah declare mau Go Global, tapi prosesnya engga boleh setengah-setengah. Jangan sampai terjadi: sudah deklarasi menjadi pemain go global, tapi tetap bilang “Da aku mah apa atuh?” :D Ternyata kalimat ini saya temukan sebagai indikator yang kurang positif dalam corporate culture sebuah BUMN ternama yang mulai go international.

Keeping Local.
But, keeping the local one is not so bad. Menjadi yang terbaik itu pasti. Dalam konteks positioning, going global take the risk itself within.

Karena rezeki sudah ditetapkan, bahkan sejak kita masih dalam kandungan. Bayi-bayi yang baru dilahirkan, meski akan menjadi tanggungan orang tuanya, sudah membawa rezeki baginya dan keluarganya.

Masuk ke pasar lokal mendatangkan problem tersendiri. Bahasa daerah kerap menjadi tameng customer intimacy. It’s luck for them (salesmen) who can speak in local languages. Karena konsumen merasa nyaman, nyambung, dan se-daerah dengan orang-orang yang satu bahasa dengannya.

Di negeri kita ini, alhamdulillah masih peduli akan institusi pernikahan. Masih memprioritaskan keturunan. Ini berkah tersendiri. Ga usah repot marketing sampai luar negeri. Toh, market sendiri tetap tumbuh dan kita masih bisa mengaisnya. Tidak perlu terpapar risiko ekspor hingga risiko foreign exchange.

Global brand seperti McD, Pizza Hut, KFC sekalipun pada akhirnya akan berperang di pasar lokal. Proses pe-lokal-an value proposition tentu akan mendistorsi core competence mereka. Di sinilah keunggulan pemain lokal macam Gudeg Yu Djum Jogja, Rawon Setan Surabaya, Soto Kudus Kauman, dsb. Rasa lokal yang sudah pasti khas ditambah keunggulan service ala Indonesia banget jadi keunggulan tersendiri dan sulit tersaingi oleh global brand.

Dalam serangan global yang luar biasa, inisiatif-inisiatif defensif mulai diberlakukan secara tak terpola oleh para pemain lokal. Industri-industri berlabel muslim/halal/syariah mulai bangkit dan menggarap market nasional dan regional. Di sini, kita menjadi pemain pasar sekaligus konsumen yang jadi fondasi kekuatan ekonomi kita.

Mengapa? Karena Islam tidak lagi dipandang secara jadul. Tapi sudah lebih keren karena ada cool factor-nya. Lihat saja industri fesyen muslim, hotel syariah, umrah, dan lain sebagainya yang menjadi bisnis-bisnis protektor national market kita.

Simpulannya, masing-masing ada plus-minusnya. Berubah jadi lebih baik itu harus. But many times, positioning always matters. Will you Going Global atau Keep Local?

Dipublikasi di personal journal | Tinggalkan komentar

Cara Mengelola Waktu


1) Luangkan waktu untuk mencuri start pekerjaan. Target utamanya bukan mencicil, tapi memprofilkan pekerjaan itu sendiri. Misalnya serumit apa pekerjaan tersebut, berapa banyak resources diperlukan, perlu waktu berapa lama, dst.

2) Jaga konsentrasi pikiran untuk melakukan hal-hal penting terkait pekerjaan saja; Biasakan istirahat malam yang cukup & perbanyak air putih untuk meningkatkan level konsentrasi (plis deh, ini bukan iklan air mineral ya, tapi insight ini benar adanya, lho)

3) Sejak konsentrasi tinggi kita untuk hal-hal penting (atau stratejik), maka jangan habiskan waktu untuk masalah-masalah kecil yang bisa kita delegasikan kepada orang lain (terutama kepada subordinat kita)

4) Sayangi dirimu. Beri apresiasi pada setiap pekerjaan besar yang telah selesai kamu lakukan: boleh kado kecil untukmu, atau puaskan dirimu lewat makanan enak, atau mungkin kamu berwisata bersama istri/suami dan anak-anakmu.

5) Karena kita sudah melakukan langkah pertama untuk curi start, maka kita kemudian tahu kapan harus berhenti. Tidak hanya itu, kita bahkan mampu menyusun jadwal sendiri yang secara bertahap (eskalatif) untuk menyelesaikan rangkaian pekerjaan tersebut.

Dipublikasi di personal journal | Tag , | Tinggalkan komentar

Cara Mengelola Stress


Sometimes saya engga paham dengan mereka yang bisa bekerja sedemikian kerasnya, bahkan hingga lelah merontokkan semua sendi dan tulang di tubuhnya :) To be honest, saya selalu memberikan ruang (di pikiran dan waktu) lega untuk mengatasi stress dan penat dan kembali beraktivitas dengan segar di esok hari.

Background-nya adalah pekerjaan saya sebagai konsultan yang tidak kenal waktu dan tempat untuk bekerja. Sementara hasil pekerjaan menuntut hasil yang kreatif menghindari persaingan dan solutif menjawab permasalahan. Jadi ketika datang saatnya bekerja, maka saya harus dalam keadaan bebas-stress. Berikut adalah hal-hal yang saya lakukan dalam mengelola stress:

1) Atur mana yang harus dipikirkan. Pikirkan yang penting saja, untuk yang kurang penting ambil kebiasaan yang lalu-lalu saja. Ga usah pusing besok pakai apa. Pakai yang semodel saja, seperti Steve Jobs dengan turtleneck, jeans, dan sepatu ketsnya. Supaya kita tidak terjebak di hal-hal remeh yang menjadikan otak buntu. Kata kuncinya: ngikuti gaya hidup orang bisa membuat pikiranmu buntu.

2) Atur juga makanan yang masuk ke perutmu. Tidak usah yang aneh-aneh, stylish, mewah (menggambarkan selera tinggimu) tapi cukup yang itu-itu saja dan sehat. Kata kuncinya adalah bergizi dan bervariasi. Cukupi seratmu agar perutmu merasa kenyang, lalu perbanyak air putih supaya ginjalmu bersih. Tidak usah yang terlalu mewah, karena mewah hanya mengubah kita menjadi pemilih-milih makanan.

3) Supaya gak boring, gunakan waktu malam untuk kegiatan santai nan menyegarkan. Bermain dengan keluarga kecilmu. Lupakan pekerjaan yang menguras kinerja otak. Supaya besok kita bisa bekerja dengan otak yang fresh. Kata kuncinya: makin malam, pikiran kita makin ga produktif. Sebaliknya: makin pagi di kantor, gunakan untuk mempertimbangkan yang penting dan stratejik (jangka panjang, berimpak besar) bagi perusahaan.

4) Tidur dengan jadwal yang teratur. Sudah, ikuti saja jadwal yang terbaik untukmu. Saya sendiri harus tidur pukul 11 malam supaya tetap bisa bangun shalat subuh. Matikan TV dan laptop-mu. Jangan ikuti jadwal tidur yg tidak konsisten sebab itu makin membebani masalah yang belum selesai kamu pikirkan. Because when you think the simple things, you make it more complex. Kata kunci: makin cepat kita tidur, makin cepat kita bangun.

5) Berolahraga akan mengurangi berat alam sadarmu terhadap pekerjaan di kantor. Boleh juga berendam/mandi yang lama di bawah shower. Saya memilih melakukan keduanya. Saat satu di antara keduanya selesai, tidak jarang saya malah menemukan ide-ide segar untuk pekerjaan saya.

Pre-work dari semua saran di atas sebenarnya adalah passion kita. Kalau udah passion, tujuan akan tercapai. Tapi passion bisa membuat stress (tekanan). Sebab itu saya sampaikan cara mengelola stress versi saya seperti sudah tersebut-sebut di atas.

Dipublikasi di personal journal | Tag , , | Tinggalkan komentar

Gotham and Storytelling


Belakangan ini saya rajin mengunduh dan menonton serial “Gotham“. Sekarang sudah 9 episodes. Ratingnya lumayan lho, 8.2 dari total 10. Artinya, banyak yang suka. Terkait hal ini, saya punya duga-dugaan yang belum terkonfirmasi ke para pemirsa yang sebenarnya. Yah, tapi minimal udah terkonfirmasi ke saya gitulah, hehe :D

Jadi serial ini berlatar belakang kota Gotham (ya, Gotham yang Batman itu lho) sebelum Batman lahir, hadir, dan “menjaga” kota tersebut. Di serial ini, Bruce Wayne kecil selalu curious alias kepo banget mengenai bagaimana kota tersebut “bekerja”. Terlebih banyak peristiwa-peristiwa janggal (sekaligus menarik) yang menjadi lakon utama di tiap episodenya pasca kematian pasangan Wayne di hadapan Bruce kecil.

Protagonisnya adalah James (Jim) Gordon, alias pak komisaris polisi di film-film Batman. Di sini diceritakan bahwa karakter ini masih rookie di GCPD. Baru gabung di kepolisian, tapi masih punya idealisme tinggi. Sehingga sisi idealisme-nya (dan itu yang selalu menjadi bawaan khas di perannya) dapat dieksplorasi besar-besaran oleh produser dan sutradara yang bersangkutan di serial ini.

Di samping ketokohan protagonis, masing-masing antagonis juga dideskripsikan detil. Lihat bagaimana Oswald “Penguin” Cobblepot mampu tampil cengengesan dan lemah, tapi di saat lain pandai menipu, bahkan menjadi sadis. Ada juga Selina Kyle, tokoh yang mestinya jadi Cat Woman di versi film. Tindak-tanduk dan kelakuannya udah sama cem Cat Woman yang asli. Gerakan lincah, badan lentur, dengan mata yang bisa melihat dalam kegelapan malam.

Jadi, ternyata.. –eh, kasi tau gak ya; kasi tau gak ya; spoiler dikit nih soale :D — warga kota Gotham itu menaruh harapan pada “pahlawan terselubung” yang “beraksi” membasmi orang-orang jahat –semisal letnan yang korup atau pengusaha yang filantropi-nya cuma pura-pura. Tidak lain karena GCPD tidak selalu bisa diharapkan. Sebab itu ada sebagian warga yang main hakim sendiri. Pola seperti ini yang kemudian dilakukan secara persis oleh The Dark Knight seperti Batman.

Lewat serial Gotham ini, produser dan sutradara jadi mampu mengeksplorasi dan mengeksploitasi ruang-ruang cerita di kehidupan pra-Batman. Which is, selama ini hanya era-nya Batman yang kita tahu. Pola ini mirip dengan trilogi “Lord of The Ring” yang diikuti dengan prekuel trilogi “The Hobbits“. Trilogi kedua (yang berkisah mengenai para hobbit) adalah pemberi penjelasan behind the story why there was “Lord of The Ring“. Ada story, ada demand. kalau demand berlanjut? Baru kita teruskan story-nya :)

The storytelling part
Sengaja atau tidak sengaja, selalu ada cerita yang tersirat di balik setiap word of mouth (WOM) yang tersaji. Demikian pula di setial “Gotham” ini. Batman sebagai sebuah legenda yang menemani kisah-kisah generasi saya di masa kecil dulu, adalah salah satu di antaranya. Dan kini, ketika “potret” kehidupan di kota Gotham disajikan secara epik melalui rangkaian episode ke episode, nostalgia tersebut terulang kembali.

Dan dalam setiap nostalgia tersebut, selalu ada cerita-cerita tertentu di dalamnya. Inilah yang biasa kita sebut “storytelling” alias story to be told. Cerita-cerita yang menjadi konten dalam setiap getok tular yang kita sebarluaskan. Di sini saya juga menjadi salah satu storyteller alias customer-marketer atas serial Gotham ini. Yang membuat anda penasaran, turut men-download, hingga ikut menyaksikan.

Storytelling juga yang mendasari tersebarnya Mini Drama AADC yang menjadi konten dari promo fitur “Find Alumni” yang lalu dari brand Line. Jadi bukan asal “film laris tentang hubungan asmara“. Melainkan ada headline “Rangga dan Cinta yang sudah 12 tahun gak ketemu” diikuti story “CLBK-nya Rangga ma Cinta”. Keduanya membuat videonya jadi ditonton, meme-nya di-retweet and di-share kemana-mana. Ini enelan lho, ada riset yang menyatakan bahwa di Indonesia, social media itu dipakai untuk CLBK-an. Hehe.. :D Jadi ngerti kan, kenapa mini drama tersebut tersebut dan meluas dalam waktu singkat? Hehe.. There is always story to be told, that’s why we call it storytelling :)

Dipublikasi di strategi pemasaran | Tag , , | Tinggalkan komentar

Pilih Manajemen Keuangan atau Manajemen Pemasaran


Dalam artikel terdahulu, saya menyampaikan alasan-alasan mengapa memilih program studi manajemen. Lalu, setelah sudah di dalam, kamu mau fokus ke konsentrasi yang mana? Pertimbangannya bisa karena apa yang kamu sukai, atau bidang pekerjaan yang ingin kamu tekuni nanti.

Ada beragam pilihan, tergantung bagaimana kampus kamu memetakan konsentrasi-konsentrasi tersebut. Yang paling sering saya temui adalah pengelompokan konsentrasi berdasar: marketing, finance, human resources, dan operation. Bagi saya, human resources dan operation itu agak rumit. Jadi kita bahas yang konsentrasi marketing dan finance aja ya :D

Kalau marketing, enak dipelajari. Apalagi studi-studi kasusnya itu, lho. Baik yang berhasil (bisa kita tiru dan modifikasi), atau yang gagal (supaya kita bisa hindari). Bidang pekerjaannya tentu saja di direktorat marketing dan sales. Dulu di kampus saya mata kuliah yang sering dibuka adalah brand management, service marketing, dan customer behavior.

Kalau finance, sebenarnya sama rumitnya. Tetapi saya kira ini penting untuk saya pahami (secara pribadi). Mata kuliah yang dibuka biasanya investment project analysis, risk management, dan capital market. Kalau tertarik berkarir di bidang keuangan, bisa berkarya di perbankan, asuransi, atau perusahaan investasi. Bisa juga bekerja di fungsi-fungsi tersebut, terutama treasurer (bendahara).

Lalu, bagaimana dengan saya? Saya menilai untuk marketing bisa saya pelajari sendiri. Sebab sejak bertahun-tahun sebelumnya saya sudah membaca tentang marketing, khususnya buku-buku populer mengenai marketing. Akhirnya saya mengambil 3 mata kuliah pilihan di konsentrasi finance dengan tugas akhir (tetap) di konsentrasi marketing.

Saat ini, saya sendiri sekarang aktif bekerja di sebuah konsultan pemasaran. Mudah-mudahan artikel pendek ini bermanfaat untuk kamu yang bimbang menentukan pilih manajemen keuangan atau manajemen pemasaran.

Dipublikasi di kuliah | Tag , , | Tinggalkan komentar

Menanggapi Kenaikan BBM


Tadi malam (17/11/2014) pukul 22.00, Presiden Jokowi mengumumkan kenaikan bahan bakar minyak (BBM). Untuk solar menjadi Rp7.500,- dan premium menjadi Rp8.500,. Menanggapi Kenaikan BBM ini, mari kita jadikan peristiwa ini sebagai sebuah studi kasus.

Dalam TOWS analysis, situasi seperti kenaikan BBM ini dimasukkan ke dalam kelompok threat (ancaman) dari lingkungan eksternal. Artinya, adalah kita harus melakukan tindakan antisipatif terhadap ancaman-ancaman semacam ini yang mungkin dapat meluluhlantakan bisnis kita.

TOWS analysis ini biasa menjadi bagian dari rapat besar mengenai strategi dan taktik perusahaan ke depan. Range waktu yang digunakan antara 1-3 tahun ke depan. Tentu ini menyesuaikan dengan seberapa cepat perubahan-perubahan terjadi di lingkungan usaha perusahaan anda.

Pasar (yang terdiri dari perusahaan kita, para pemain, dan para kompetitor) tidak akan bersikap wait and see menanggapi threat kenaikan BBM ini. Harga jual produk akan menyesuaikan dengan marjin laba yang ditargetkan dan persentase kenaikan barang modal. Tentu saja para kompetitor juga akan berpikir yang sama. Penyesuaian pasar terjadi sejak h+1 hingga 3 bulan ke depan.

Bagi yang sudah menyiasati kemungkinan ini dengan lebih strategis, harga-harga jual dinaikkan terlebih dahulu di awal tahun 2014. Satu pertimbangan paling utama dari yang sudah menaikkan harga jual adalah adanya pergantian kepemimpinan nasional, baik dalam kategori eksekutif (pemerintah yang dipimpin oleh presiden hasil pemilu langsung) maupun kategori legislatif (policy dari parpol pemenang pemilu yang menguasai parlemen).

Seorang rekan di kampus dahulu menyatakan rata-rata kenaikan harga di kisaran 5%-10%. Dan di hari kedua kenaikan BBM, harga-harga mulai menyesuaikan. Cabe, bawang, sayur-sayuran di pasar tradisional sampai ongkos angkutan umum sudah menaikkan harga. Nah, menyikapi informasi seperti ini, apa yang bisa kita lakukan kemudian?

Business is about surviving in the long competition but winning in every stage of it.

Menanggapi kenaikan BBM ini memang susah-susah gampang. Karena berimpak pada target marjin laba dan harga jual yang harus tetap kompetitif. Bila brand sudah kuat, harga yang tinggi tidak akan dipermasalahkan oleh our new & existing customer. Inilah pentingnya membangun brand sejak awal. Posisi merek yang kuat akan membuat klien bergantung pada bisnis kita.

Nah, bagi yang belum mempersiapkan diri sejak awal tahun 2014, mulai meraba-raba cost structure yang baru. Tidak hanya struktur biaya untuk produk saja, tetapi juga marketing budget yang komponennya sudah masuk ke dalam struktur biaya setiap produk/layanan. Prediksi saya, tidak semua langsung mencantumkan harga baru. Adakalanya mereka menunggu hasil riset yang lebih valid dari lembaga kredibel lalu merumuskan harga hasil penyesuaian.

Yang paling penting adalah cash perusahaan atau budget per produk/layanan yang harus dijaga. Cash jadi penting sambil melihat-lihat situasi, lha. Kira-kira akan seperti apa formula struktur biaya utama (biaya tetap & variabel), marjin laba, harga jual, biaya komunikasi pemasaran, biaya pengiriman barang (distribusi), dsb.

Dipublikasi di strategi pemasaran | Tag , , | Tinggalkan komentar

Menikah


Bagaimana sepasang manusia akan menikah tanpa aturan agama, padahal semua rukun nikah itu diatur oleh agama?! (1) pengantin pria (2) pengantin wanita (3) wali pengantin wanita (4) dua orang saksi lelaki (5) ijab dan qabul.

Betapa egoisnya orang yang mau menikah dengan prosesi agama tapi tidak ikuti aturan agama dalam mencari jodoh. Ingat lagi cara mencari jodoh: karena hartanya, karena nasabnya (keturunannya), karena kecantikannya dan karena agamanya. Maka utamakan memilih istri karena agamanya. (H.R. Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud)

Oleh karena itu, meninggalkan aturan agama dalam pernikahan adalah absurd. Ikuti panduannya sejak mencari jodoh, hingga pelaksanaan akad dan resepsi.

Orang yang sudah menikah juga disebut sudah menggenapkan separuh diin. Ini tidak main-main. Separuh agama ini digenapkan dengan menikah. Bagaimana kalau seorang Muslim menikah tanpa agama?

Dalam Islam, sampai kapan pun orang tua memiliki hak atas anak-anaknya. Tidak ada yang ‘jalan sendiri-sendiri’. Silaturahmi ke orang tua (sendiri dan mertua) harus dirutinkan. Apalagi ketika orang tua masih ada. Oleh karena itu, pernikahan pada hakikatnya bukan perjanjian antara 2 insan saja, melainkan juga 2 keluarga.

Apa ikatan yg lebih kuat daripada agama? Nah, itulah sebabnya pernikahan tdk mungkin dilakukan tanpa agama.

Selain itu, dalam Islam, pernikahan sejak awal sudah harus mempertimbangkan adanya keturunan. Memang fitrah manusia menghendaki keturunan, dan jalan sah utk mendapatkannya hanya pernikahan. Jangan DINKs (double income no kids), yaitu menikah tetapi tidak berharap hadirnya keturunan.

Tapi janganlah menjadikan keturunan sebagai beban. Keturunan semestinya menjadi pemicu semangat untuk bekerja lebih giat lagi. In shaa Allah, turut berkontribusi lewat penambahan jumlah segmen pasar (baca: menambah anggota keluarga) juga berarti menambah rezeki keluarga.

Akan tetapi, tidak wajar jika seorang Muslim membiarkan begitu saja anggota keluarganya menjadi mangsa api neraka. Silakan cek QS. 66:6 utk melihat pesan Allah SWT agar kita menjaga anggota keluarga kita dr neraka.

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (QS.66:6)

Semoga Allah SWT melindungi kita dan keluarga kita dr kekafiran, aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin…

(sebagian tulisan di atas merupakan tweets dari kang @malakmal). Semoga beliau keep inspiring.

Kalau mau nyambung-nyambungin menikah sama marketing juga bisa lho. :D Kita pake STP (segmenting-targeting-positioning) ya. Jadi pasarnya (baca: calon-calon suami/istri) kita bagi dulu ke dalam segmen-segmen. Kalau sudah pilih yang dimaui, berarti targeting udah selesai. Tinggal positioning nih. Cek ke diri kamu ya. Apakah ‘posisi’ kamu udah pas sama ‘posisi’ dia? hehehe :D

Cek juga blog teman saya ini, katanya “menikah itu ibarat mengerjakan TA (tugas akhir)”. Jadi ada latar belakang & tujuan, sistematika, landasan teori, metodologi, pengumpulan & analisis data, hingga kesimpulan. (weekkk banget ya per-ibarat-annya :p )

Single dalam konteks bisnis dan ekonomi itu memang oke. Cek artikel “singlenomics” ini untuk pemahaman lebih mendalam. Bagaimanapun juga, kasihan para jomblo ini. Duit udah punya, tapi pasangan belum punya :p *ngeledek mode ON* :D Mudah-mudahan mereka bisa segera menikah dalam waktu dekat. *teteup ngadoakeun*

Dan jangan bosan bila ditanya, “kapan? kapan? kapan?” karena sebenarnya itu adalah doa dari mereka agar kamu segera dan menyegerakan menikah. *diplomatis dikit* :p Jangan lupa untuk menindaklanjutinya dengan kosakata penutup yang termasyhur itu: “aamiin..:)

Pas masih single nan jomblo, saya juga udah pernah tulis tentang ‘menikah’, lho. Boleh cek di mari.

sumber gambar: http://sukmadyu.wordpress.com

Dipublikasi di personal journal | Tag , , | Tinggalkan komentar