Pekerjaan Konsultan (III)


Dalam tulisan sebelumnya saya menyampaikan tentang passion for knowledge. Bahwa sang konsultan harus memiliki passion terhadap pengetahuan (knowledge). Peng-alihbahasa-an passion menjadi hasrat saya kira tidak tepat. Karena passion itu lebih dari sekedar hasrat (untuk melakukan). Ketika passion, seseorang tidak hanya akan “melakukan”, tapi juga “menaklukkan”. Karena dalam passion harus ada tantangan yang ditaklukkan. Di dunia konsultasi, tantangan tersebut adalah knowledge itu sendiri.

Bagaimana segala bacaan, analisis, maupun tulisan seorang konsultan harus tidak jauh dari dari body of knowledge yang digelutinya. Apa  itu body of knowledge? Yaitu serangkaian ilmu (knowledge) yang masih terkait dengan ilmu-ilmu lainnya. Sehingga terkait secara utuh dan bermanfaat dalam menjawab permasalahan yang dialami oleh klien. Di sinilah nilai “tantangan” terhadap pekerjaan konsultan.

Sehingga dalam memahami suatu permasalahan klien, kita (baca: konsultan) tidak bisa memandangnya secara sepotong-sepotong saja. Harus comprehensive. Tidak saja secara teori yang pernah dirilis oleh para peneliti di bidang masing-masing, melainkan juga adanya tuntutan atas pemahaman terhadap permasalahan klien. Makin paham akar masalahnya, makin mudah juga merumuskan solusi yang tepat atas permasalahan klien tersebut. Istilah yang tepat digunakan adalah: “garbage in, garbage out”. Artinya, makin bagus/lengkap masukan (input) yang diperoleh dari klien dan dari berbagai referensi teori, maka makin sempurna keluaran (output) yang dihasilkan oleh konsultan.

Persoalannya adalah input dari klien tidak serta merta bisa segera digunakan untuk menjawab kebutuhan dan keinginan klien. Seringkali masih terdapat “lubang-lubang” di sana-sini yang harus dicari knowledge-nya terlebih dahulu. Hal ini karena tidak semua data maupun informasi benar-benar ada. Tidak heran, pekerjaan konsultan menuntut jumlah bacaan yang sedemikian tinggi untuk meng-cover “lubang-lubang’ knowledge yang belum terisi.

Dari gambar berikut ini, dapat kita pahami bahwa wisdom memang terbangun dari banyak sekali data yang telah terhimpun sebelumnya.

data, information, knowledge & wisdom

Pada konsultan dengan jam terbang yang lebih tinggi, “lubang-lubang” tersebut berhasil diisi lewat wisdom yang dia/mereka miliki. Karena pengalaman yang lebih banyak, seringkali wisdom dari konsultan senior tersebut benar adanya. Meski tidak bisa dipungkiri bahwa konsultan bisa saja salah, lho :D Dan kemungkinan tersebut harus terus diantisipasi oleh yang bersangkutan.

Sementara itu, kita tengok dulu ke gedung sebelah (baca: kampus). Sedikit-banyak, ini yang menyebabkan posisi dosen perguruan tinggi menjadi “kurang kuat” ketika menjadi konsultan. Semata karena banyak berinteraksi dengan mahasiswa dan kurang berinteraksi dengan keadaan riil yang terjadi di lapangan. Ini yang seakan menjadi titik lemah profesi dosen sebagai konsultan. Meskipun tidak bisa dibantah bahwa dari sisi penguasaan teori-teori yang merupakan hasil riset, dosen merupakan ahlinya.

Jadi, pekerjaan konsultan tidak terbatas di teorinya saja. Jadi bukan sekedar ilmu mendasar yang diajarkan oleh dosen-dosen di perguruan tinggi. Tidak seperti itu karena konsultan harus melakukan customization pada hasil pekerjaannya yang kemudian dipresentasikan dan diserahkan kepada para klien. Pekerjaan seperti ini tidak boleh membosankan bagi pelakunya. Karena kebosanan akan mengarahkan pada kualitas yang tidak memenuhi standar. Karena itu harus passionate.

Pekerjaan konsultan itu pekerjaan berpikir. Atau bisa disebut, banyak berpikirnya. Dan hasil olah pikir ini mungkin menurun kualitasnya bila tidak passionate. Karena olah pikirnya ditentukan olah rasanya. Standar yang sudah ditetapkan sulit diraih manakala olah rasa yang baik tidak terjadi di diri konsultan. Jadi tiap konsultan mutlak menemukan perasaan suka terhadap pekerjaannya.

Dan benang merah di antara semua aktivitas dan proses bisnis di dalamnya adalah “knowledge” . Mulai dari menghimpun berbagai data, melakukan analisis, hingga menyusun suatu laporan berisi usulan inisiatif-inisiatif yang harus dilakukan oleh klien ke depan.

Jadi ketika konsultan tidak hadir, atau tidak sedang presentasi, maka hanya dari proposal usulan proyek atau laporan hasil proyek saja sebuah konsultan dapat dinilai. Dan penyempurnaan proposal dan laporan menjadi kuncinya di sini. Rasa suka terhadap pekerjaan harus ada. Bila tiada, kedua dokumen tersebut hanya diserahkan seadanya saja kepada klien atau calon klien. Seperti profesi yang lain, tentu ada kiatnya untuk sukses.

Kuncinya adalah rajin dan tekun. Dalam membaca, menganalisis, dan menyempurnakan proposal maupun laporan. Hal ini pada dasarnya karena bisnis konsultasi bukan tipe business by product. Melainkan business of full service. Pada business by product, begitu produk diterima konsumen dan sudah dibayar, maka selesai sudah. Sementara pekerjaan konsultan tidak bisa demikian. Karena tidak ada produk riil-nya. Konsultan tidak akan survive bila tidak ada proyek lanjutan dari klien. Dan surviveability-nya konsultan sangat ditentukan oleh knowledge yang dia/mereka miliki dan terus dikembangkan.

Konsultan adalah salah satu profesi yang menuntut sikap tidak kenal lelah dalam memburu ilmu pengetahuan.

Dipublikasi di personal journal | Tag , , | Tinggalkan komentar

Passionate


Artikel saya kali ini terinspirasi dari seorang kawan. Beliau adalah rekan saya sesama staf di unit koperasi kampus. She found that being a SAHM is a passionate profession. Itu simpulan saya setelah menengok kembali blog dia yang muncul dalam laman Reader WordPress saya.

Katanya, bahwa mendidik anaknya sendiri adalah passion-nya saat ini. Hal ini memang tidak mudah. Dan seperti pengakuannya sendiri: very tiring (baca: sangat melelahkan). Ada challenge yang terus-menerus hadir, terutama ketika memasak untuk keluarganya. Her cooking don’t always good but they taste good, as she said. Setiap tantangan (challenge) untuk memasak datang menghadang. Bersama dengan keterampilan (skill) yang dimiliki saat ini, ternyata hasil yang diperoleh (result) hampir selalu baik.

Kedua hal tersebut (challenge and skill) sejalan dengan temuan profesor Mihaly Csikzentmihaly, penulis buku Flow: The Psychological of Optimal Experience. Bahwa terdapat “optimal experience” (pengalaman pekerjaan yang terasa optimal) manakala kita dihadapkan pada sesuatu yang sangat menantang (very challenging) dengan keterampilan tingkat tinggi (high level of skills) yang kita miliki saat ini. Sebagai catatan, kondisi optimal yang dirasakan oleh setiap orang bisa jadi sangat berbeda dengan orang lain.

Flow
Dalam riset yang dilakukannya, Prof Mihaly menemukan beberapa kondisi mental dalam grafik yang menunjukkan hubungan antara tantangan yang semakin berat dengan keterampilan yang semakin tinggi. Jadi, flow itu adalah kondisi mental ketika kita sedang passionate terhadap sesuatu. Gambar berikut ini (dari wikipedia) akan lebih menjelaskan apa itu kondisi mental Flow.

Flow adalah kondisi mental psikologi di mana tantangan tingkat tinggi (high level challenge) dan keterampilan tingkat tinggi (high level of skills). Kita ambil contoh mahasiswa. Apabila tugas yang diberikan terlalu berat dibandingkan dengan kemampuan mahasiswa, maka yang bersangkutan jadi gelisah (anxious). Tapi bila tugas tersebut terlalu mudah untuk dikerjakan, maka mahasiswa itu jadi bosan (bored). Jadi, syarat flow mental state bisa dicapai bila tantangan (challenge) pekerjaan/tugas memang sesuai dengan keterampilan (skills) yang bersangkutan. Seperti diuraikan oleh Prof Mihaly dalam “Beyond Boredom and Anxiety”. Mungkin kamu bisa menerapkan tips-tips dalam video ini.

Flow Characteristics
Ciri yang utama adalah ketika waktu terasa begitu cepat berlalu. Misalnya, pada para peneliti yang datang pagi hari di laboratoriumnya yang kemudian –entah bagaimana– merasakan waktu cepat sekali berlalu. Ciri lainnya adalah pekerjaan/kegiatan yang ditekuni terasa sangat mengikat (engaging). Konsentrasi tinggi juga termasuk ciri flow mental state. Tidak heran dalam konsentrasi dan ikatan pekerjaan yang demikian, waktu bisa sangat cepat berlalu. Mereka yang diam dan tekun dalam pekerjaannya, akan mengalami beberapa keadaan di atas. Khususnya pada profesi-profesi seperti peneliti, seniman, atlit, dsb.

Saya ingin mengulas “passion” ini secara khusus karena (1) beberapa orang tertangkap dalam rutinitas mereka. Baik itu bersekolah, maupun bekerja. Masalahnya adalah, banyak di antara mereka tidak bahagia dengan jebakan rutinitas tersebut (2) banyak kesuksesan (baik dalam karir dan pekerjaan, ataupun ketika bersekolah) terjadi pada pribadi-pribadi yang sangat passionate dalam pekerjaannya.

Authentic Happiness
Salah satu yang akan membahagiakan kita, menurut Prof Martin Seligman adalah “Good Life”. Engagement (keterikatan) kita terhadap pekerjaan yang kita lakukan–termasuk flow–adalah salah satu sumber kebahagiaan dalam hidup. Jadi bagaimana kita memandang pekerjaan (work) kita sebagai suatu “play“, yaitu aktivitas yang menyenangkan ibarat rekreasi. Dan perspektif ini lahir seiring dengan kita yang passionate terhadap pekerjaan/aktivitas yang kita lakukan. Saya pribadi bahkan tidak bisa melepaskan diri dari aktivitas tulis-menulis. Karena ini adalah passion saya.

Mengejar passion berarti mengejar kebahagiaan

Excellent Performance
Mengapa kinerja (performance) bisa ditingkatkan ketika kita passionate dalam pekerjaan kita? Karena dalam keadaan flow mental state, kenikmatan pekerjaan kita rasakan. Passion akan membuahkan kinerja yang bermanfaat dan bermakna. Inilah kinerja (yang mendatangkan kesuksesan) yang sesungguhnya.

Find Your Flow
Passion itu hanya bisa ditemukan oleh diri kita sendiri. Bukan dengan menjawab pertanyaan career counselor “apa passion anda?”, tapi melalui perenungan atas aktivitas-aktivitas yang membuat kita senang/bahagia atau berada dalam kondisi mental yang terbaik. Mengapa hal ini penting? Karena motivasi itu datang dari dalam diri. Jangan heran mengapa para introverts tampak lebih banyak memiliki passion-nya ketimbang para extroverts. 

Authentic Brand is Passionate Brand 
Being passionate is being authentic. Punya passion berarti ingin menjadi pribadi yang apa adanya tapi ada kualitasnya. Alias otentik; original; genuine. Bukan yang palsu, tapi meniru-niru. Bukan ikut-ikutan, tapi adanya memang demikian. Makanya dalam personal brand, mereka yang authentic adalah mereka yang passionate di bidangnya. Lihat beberapa musician brand berikut: Yovie Widianto, Iwan Fals, Ahmad Dhani. Nama besar mereka dalam bidang musik, memang ditunjang oleh passion mereka dalam bermusik.

Brand yang authentic adalah brand yang berusaha mengembangkan keterampilan (skill)-nya, sekaligus selalu berusaha mengatasi tantangan (challenge) yang lebih sulit lagi. Maka dari itu, mulailah passionate dalam pekerjaan sejak sekarang. Kalau bukan dari sekarang, kapan lagi? :)

Dipublikasi di personal journal | 1 Komentar

Heritage Brand


Dua hari lalu saya menonton The Raid 2: Berandal  di bioskop. Ini adalah sekuel dari film pertama, The Raid: Redemption. Bagi saya pribadi, sekuel ini tetap harus ditonton, meski tidak sebagus yang pertama (khususnya dalam hal koreografi bela diri). Bagaimanapun, dua jempol harus tetap kita acungkan.

Saya kira kita sebagai masyarakat Indonesia tetap perlu melestarikan berbagai kekayaan budaya nusantara. Mengapa? Karena bela diri pencak silat ala Mas Iko Uwais dan Kang Yayan Ruhian jadi unsur utama dalam film tersebut. Konten “Pencak Silat” ini menjadi differentiator “The Raid 2: Berandal” sebagai sebuah film laga. Om Sutradara Gareth Evans sukses menjadi master mind yang berhasil memukau para penonton dalam kedua film laga tersebut.

Jadi ada banyak sekali kekayaan lokal nusantara yang bisa digunakan untuk me-leverage local/national brand dari kita. Dan pencak silat dalam film The Raid (baik pertama maupun kedua) adalah salah satu dari sekian banyak di antara kekayaan lokal tersebut. Saya kira, asset berharga seperti ini dapat kita kemas lebih lanjut dalam upaya-upaya branding yang kita lakukan. Ini yang saya sebut heritage brand(ing).

Gudeg Yu Djum adalah contoh heritage brand yang lain. Jadi bagaimana tim manajemen (yang kini sudah dipegang oleh generasi keempat) mempertahankan orisinalitas dan kelokalan rasa gudeg menjadi kunci sukses eksistensi brand Gudeg Yu Djum. Apalagi di tengah-tengah serangan brand-brand internasional yang kian me-lokal dan mempopulerkan diri di pasar domestik.

Gudeg Yu Djum ini adalah gudeg kering yang sangat cocok untuk oleh-oleh–karena bisa bertahan cukup lama. Tidak hanya rasanya yang luar biasa enak, brand gudeg ini turut menjual “experience” lewat proses pembuatan gudeg yang bisa dilihat langsung. Antrian panjang ketika membeli kian memperkuat “effort” pembeli untuk “meraih” citarasanya. Hebatnya Gudeg legendaris Yu Djum juga mengangkat brand Kota Yogya menjadi lebih populer. Ibarat kata, belum ke Kota Yogya kalau belum makan Gudeg Yu Djum.

Maskapai nasional kebanggaan kita, Garuda Indonesia tidak main-main dengan konsep service terbaru mereka: Garuda Indonesia Experience. Sama, tim manajemen yang dipimpin oleh Pak Emirsyah Satar (dengan Pak Faik Fahmi sebagai master mind), sangat memahami dan meyakini bahwa ada banyak kekayaan lokal intelektual yang serta merta dapat me-leverage brand Garuda Indonesia.

Masih menurut Pak Emir, bahwa keberagaman (diversity) budaya di tanah Indonesia adalah kekayaan sekaligus ciri khas unik negeri Indonesia yang dapat “dipasarkan” ke masyarakat luar negeri. Lebih khususnya adalah penumpang Garuda Indonesia. Jadi, Indonesian Hospitality ala Garuda Indonesia itu memang bisa ditawarkan dan dijual kepada penumpang internasional dengan kekayaan budaya lokal kita sebagai service differentiator-nya.

Kemudian ada Hotel Santika, pemain di industri hospitality. The meaning of Santika are tough and peaceful. Alias “kokoh”, tetapi “damai”. Seakan kontradiktif, tapi tak terpisahkan antar keduanya. Dan bukannya meruntuhkan, malah saling menguatkan. Filosofi ini bagai Yin dan Yang.

Service differentiator-nya diterapkan dalam setiap touch point dengan pelanggan. Hotel Santika mengkombinasikan sentuhan yang bersifat natural (Natural Touch) dengan kekayaan tradisi lokal (Local Tradition) ke dalam layanan hospitality. Ditunjang pula dengan pendekatan ala keluarga (Family Values) kepada setiap tamu hotel.

Keunggulan
Strength dari heritage brand adalah kekuatan dari story-nya. Bagaimana cerita-cerita yang disampaikan kepada konsumen menjadi fondasi kekuatan brand awareness maupun brand association dari heritage brand tersebut. Sudah barang tentu bahwa Gudeg Yu Djum mengalami proses marketing by their customers ini. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Pak Irvan Permana@fun_branding” bahwa konsumen pada dasarnya senang diceritai segala hal mengenai brand. Btw, diskusi tentang brand bersama beliau, memang selalu “menyenangkan” dan “mengenyangkan”.

Dan di era social media (socmed) ini, story akan menjadi konten yang kuat untuk diteruskan dari satu socmed user ke user lainnya. Authenticity adalah syarat utamanya.

Authentic
Ada passion yang tersembunyi dari para founder heritage brand. Passion ini mengalir dalam setiap service yang diberikan kepada pelanggan. Dalam setiap touch point dengan customer, selalu ada ciri khas heritage brand yang disematkan. Passion dan ciri khas ini kemudian mengalir sebagai story dari satu konsumen ke konsumen yang lain. Rasa “authentic” kemudian menjadi simpulan konsumen manakala untuk memperoleh sang heritage, perjuangan berat harus dilakukan. Misalnya ikut mengantri panjang.

Turut Menikmati
Di tengah himpitan globalisasi serta arus-arus perubahan yang begitu kuat, ternyata masih ada celah-celah kosong di mana kita masih bisa berkontribusi dalam pengembangan Heritage Brand. Tidak perlu sedu-sedan kepada pemerintah sekarang dan para calon legislatif (caleg) yang sedang ramai-ramai berkampanye. Tidak usah rajukan-rajukan perlindungan usaha atau pendampingan bisnis yang tidak terasa nyata hasilnya.

Yang harus kita lakukan adalah, cukup dengan berbelanja dan menggunakan produk atau jasa yang ditawarkan oleh para Heritage Brand yang ada. Tentu saja, ini adalah salah satu bentuk komitmen kita dalam membela dan mempertahankan Heritage Brand kita.

Dipublikasi di strategi pemasaran | Tag , , | Tinggalkan komentar

Popular Brand


Tengah tahun nanti, ada perhelatan besar di Brazil. Tiap empat tahun sekali, event olahraga besar (kalau bukan yang terbesar) ini kembali diselenggarakan. Dan bulan Juni-Juli nanti adalah puncaknya. Tapi, meriahnya sudah bisa kita rasakan saat-saat ini.

Di beberapa titik di sekitar kita, outlet-outlet Si Merah dan Si Biru bersaing berebut perhatian. Mumpung tren Piala Dunia 2014 mulai marak, maka kedua channel tersebut mulai memampangkan berbagai merchandise terkait tim-negara-tim yang akan berlaga. Jadi saya benar-benar memperhatikan, bahwa sejak Januari lalu, kedua tipe outlet ini mulai melancarkan gerilya marketing, berharap ada impulse buying yang terjadi. Mumpung Jules Rimet Trophy belum disematkan kepada Sang Juara Dunia (sepak bola), maka ini saatnya meraih penjualan. Mudah-mudahan yang juara bukan Spanyol ya :D

Memanfaatkan popularitas suatu event sepakbola yang sedang happening bisa jadi cara mengangkat brand kita. Demikian yang dilakukan oleh Si Merah dan Si Biru. Saya kira, ada tiga cara dalam mempopulerkan brand yang sedang kita garap.

Tren dalam Bisnis
Popularitas merek bisa dibangun dengan menumpang tren yang ada. Tapi marketer harus berhati-hati membedakan mana tren dan mana yang bukan tren. Simak kata opa-opa pemasaran, Al Ries dan Jack Trout berikut:

“whenever business is growing rapidly, the smart approach is to treat it like a fad.”

Seperti air pasang di laut, tren (yang dimaksud) adalah tren yang hampir tidak terlihat, tapi sangat powerful dalam jangka panjang. Karena itu jangan salah melihat tren dan bukan tren. Marketer harus paham tren yang sebelah mana, dan memanfaatkan bukan trend (kita sebut fad) tersebut sebagai cara untuk jualan.

Saya kira #selfie itu bukan tren. Tapi keisengan (fad) yang memang bisa ditunggangi oleh para marketer untuk sementara waktu. Yang tepat kita sebut sebagai tren itu contohnya, Instagram. Jadi memanfaatkan visual social media tersebut untuk aktifitas komunikasi pemasaran. Youtube juga bisa dimanfaatkan dengan cara yang sama. Mengingat kelebihannya untuk memvisualisasikan gambar bergerak. Social media marketing memang tren yang baru dalam pemasaran dan masih akan berlangsung untuk waktu lama.

Tren #selfie ini mudah menyebar karena mudah diadaptasi. Istilahnya, gampang ditiru. Jadi yang mau meniru serba ga repot, tinggal narsis aja. Bareng temen-temen malah lebih oke. Karena narsis memang sudah menjadi kebutuhan. Apalagi ada tongsis (tongkat narsis) yang bantu foto sendiri jadi lebih mudah. Adaptabilitas memang salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas suatu trend.

Fenomena lain yang baru terjadi kurang dari setahun ini adalah maraknya olahraga lari. Saya sudah sampaikan sebelumnya, bahwa makin mudah diadaptasi maka makin mudah menjadi perilaku baru bagi target segment. Tinggal pakai sepatu, lalu melangkah, koq. Apalagi berbagai aplikasi (Nike+) dan social media semakin menunjang. Jadi, narsis-nya dapat, olahraganya juga dapat.

Lokal Bisnis
Kalau ingin berhasil, setiap bisnis harus berani me-”lokal”-kan dirinya sendiri. Karena transaksi jual-beli dengan konsumen justru terjadi di tingkat lokal. Betul kan?

Produk dibuat di pabrik, brand dibuat di benak konsumen, tapi jual beli antar keduanya terjadi di tingkat lokal kan? “Ada uang, ada barang” jadi istilah yang tepat, saya kira.

Saya menggarisbawahi konsep lokasi ini, karena konsumen punya asosiasi mental tertentu dengan lokasi. Seperti kita mengasosiasikan brownies kukus Amanda dengan kota Bandung. Buat pulang kampung ke Balikpapan, ini oleh-oleh yang paling sering kami beli. :D

Bicara tentang kota Bandung, kota ini memang punya keasyikan tersendiri untuk dikunjungi. Banyak yang datang ke Bandung semata untuk datang ke taman-tamannya serta membeli oleh-oleh khas Bandung. 

Akhirnya, segala yang diasosiasikan dengan “dari Bandung”, bisa dijual dengan lebih mudah di luar Bandung. Jadi ada brand relationship antara “kota Bandung” dengan segala yang “dari Bandung”. Brand “kota Bandung” juga semakin baik karena segala yang “dari Bandung”. Saling memperkuat ini yang akhirnya mempertajam positioning bandung sebagai kota kuliner.

Memang ada emosi yang kuat dan menyenangkan pada berbagai brand yang terasosiasi lekat dengan kota Bandung. Seakan selalu ada cerita yang kuat di balik setiap brand yang dilahirkan di kota tersebut.

Talkable
Populer itu tidak sekedar dikenal. Tapi juga dibicarakan. Nah ini yang agak sulit. Karena cerita tentang merek (brand story) harus talkable alias memiliki kencenderungan tinggi untuk dibicarakan. Authenticity jadi satu syarat untuk sering dibicarakan. Tidak hanya di dunia riil saja, syarat authenticity ini berlaku. Tapi juga di dunia social media.

Jokowi itu personal brand yang authentic. Maka menjadi populer brand. Meski baru saja melakukan backfire, karena menjilat ludah sendiri ketika berjanji akan menuntaskan masa kepemimpinannya di ibukota, tapi Jokowi tetap saja populer–minimal bagi warga Ibu Kota. Kali ini popularitasnya karena “pengkhianatan”-nya bagi warga DKI Jakarta.

Penutup
Popularitas tidak bisa dibangun sekali-sekali saja. Di luar sana, brand kita bertarung ketat dengan banyak brand yang lain. Berebut perhatian target customer kemudian menjadi sangat ketat. Bagaimana menjadi populer ketika menjadi terkenal saja masih sulit.

Apple Computer tidak pernah mengiklankan iPod, MacBook, iPhone dan iPad di Indonesia, lho. Tapi produk Apple sangat dibicarakan di sini. Bahkan, justru perusahaan lain yang berani mengiklankan. Saya simpulkan ini, setelah melihat baligo besar Telkomsel yang menampilkan bundling produk mereka dengan iPhone. Telkomsel sudah menjadi advocator bagi Apple di Indonesia.

Kemudian, populer tidak bisa disamakan dengan terkenal. Brand awareness yang tinggi, itulah yang kita sebut terkenal. Being popular brand is being a brand that discussed by people.

Dipublikasi di personal journal | Tag , , | Tinggalkan komentar

Brand is like a donut


Brand is not a logo
Logo is not a brand
Brand is beyond logo

Kutipan di atas adalah kutipan khas dari pak Irvan Permana, pengelola blog bincangbranding. Saya mengikuti #kelaspengetahuan dari Komunitas Memberi dengan beliau sebagai pembicara.

Bicara tentang logo, tidak bisa di-judge bagus atau jelek. Begitu kata beliau. Karena tidak ada logo yang jelek. Yang ada adalah logo yang kurang benar. Di situlah letak perkaranya. Apakah para brand owner sudah benar –secara metodologi–melakukannya?

Permasalahan umum yang beliau temui adalah, banyak pemilik brand yang bingung. Bagaimana menempatkan core message-nya pada tiap elemen brand yang tersedia. Jadi brand yang hebat adalah brand yang tahu persis bagaimana memprioritaskan dan mendistribusikan segala core message yang ada.

Brand yang hebat itu seperti (Bank) BCA. Engga pake simbol yang macem-macem. Font-nya juga sederhana, dan tidak pernah berganti. Tetapi image-nya itu lho yang luar biasa: modern dan canggih. Ada juga brand yang seperti National Geographic. Kotak persegi panjang berwarna kuning yang simpel–tanpa tulisan sama sekali. Betapa sederhananya logo tersebut. Tetapi banyak orang berhasil menebak dengan benar pada pandangan pertamanya.

Membangun brand itu, suatu proses tanpa henti. Prosesnya sama persis seperti membangun hubungan. Hanya, target hubungan kita adalah konsumen kita sendiri. Ketika kita berhenti berkomunikasi dengan pelanggan kita, itu berarti kita berhenti membangun brand. Kualitas hubungan yang semakin baik adalah hubungan yang semakin dekat.

Hubungan dengan brand itu dibangun setahap demi setahap. Dan brand yang bagus, tahu persis cara deliver the right expression and get the right impression from the audience. Makanya brand owner tidak boleh membombardir customer dengan banyak mesej secara bersamaan. Karena konsumen akan bingung lalu tidak bisa memberikan respon apapun.

Bicara branding itu selalu ‘menyenangkan’, demikian kata Pak Irvan. Karena bincang tentang branding pasti selalu berhubungan dengan aspek marketing yang lain. Selain itu, bicara tentang branding jelas ‘mengenyangkan’. Karena “berisi”-nya itu, lho.

Oleh sebab itu, Pak Irvan selalu menganalogikan brand dengan donat. Sebab donat itu ‘menyenangkan’ dan ‘mengenyangkan’. Seperti buku terbaru beliau berikut ini.

brand-is-like-a-donut

Jadi, sekalipun sama-sama jualan fashion, atau sama-sama bisnis kuliner, tapi percaya deh. Brand yang dibangun dengan fondasi mimpi dan passion, tidak pernah akan terasa sama bagi konsumen. Maka bangun brand anda dengan segala imajinasi dan aksi yang passionate.

Menara BCA, 9 Maret 2014

Dipublikasi di strategi pemasaran | Tag , , | Tinggalkan komentar

Gairah Keislaman Saat Ini


Selama beberapa tahun terakhir, telah terjadi tanda-tanda kegairahan dalam kehidupan keislaman. Semua tanda-tanda tersebut tercakup ke dalam berbagai lapangan kehidupan: dakwah, budaya, ekonomi, gaya hidup, dan semangat berbagi.

Jadi meskipun di sekitar kita begitu banyak perubahan yang terjadi dengan begitu cepatnya, ternyata bukan menjadikan diri kita semakin menjadi robot atau menjadi jauh dari nilai-nilai dasar seorang manusia. Justru kemajuan peradaban umat manusia (khususnya di ranah teknologi digital), pada akhirnya menjadikan kita umat manusia semakin menemukan kemanusiaan kita.

Dakwah Modern
Dakwah tidak lagi dilakukan secara tradisional. Beberapa tahun yang lalu, Aa Gym mulai mengenalkan konsep “manajemen kalbu”-nya. Almarhum Jefry Al Buchory yang turut memasarkan busana muslim khas “Uje”. Dan ustadz Yusuf Mansur dengan “Matematika Sedekah” dan berbagai konsep sedekah lainnya. Ini artinya para pendakwah mulai mengenal konsep marketing. Khususnya konsep segmentasi dan diferensiasi.

Jadi para pendakwah sudah mulai memetakan seperti apa struktur segmen-segmen objek dakwah yang ada di masyarakat, lalu memetakan strategi pemasaran yang tepat. Tidak lupa, sambil berusaha menciptakan diferensiasi dibandingkan dengan pendakwah yang lain.

LAZ sadar Branding
Tidak hanya para pendakwah saja yang sadar pentingnya mengenal dan menerapkan konsep-konsep pemasaran. Tapi juga para LAZ (Lembaga Amil Zakat). Mereka mulai berkomunikasi lewat media gambar–termasuk logo & warna kelembagaan. Kemudian dengan konsisten menerapkannya ke beragam saluran komunikasi yang mereka miliki.

Meski masih berfokus di pesan generik seputar edukasi berzakat, tapi LAZ terus berbenah. Terutama dalam melakukan segmentasi dan berkreasi untuk menghasilkan strategi pemasaran yang lebih tepat. Hasil riset terkait dapat dilihat di sini.

Gerakan Sedekah
Contohnya adalah “Sedekah Rombongan”. Brand ini adalah brand dari suatu gerakan sedekah yang berawal di Yogyakarta. Sedekah memang tidak wajib. Ibaratnya, sedekah adalah komplemen dari zakat—yang lebih wajib. Tapi meski tidak wajib, sedekah kini sudah menjadi mindset dan akan terus berkembang.

Dakwah melalui Seni
Novel atau film kini turut dijadikan sebagai media syi’ar oleh para pendakwah. Contoh paling gres –meski sudah agak lama—adalah Ayat-Ayat Cinta (AAC). Bahkan presiden SBY turut menjadi endorser film tersebut. Tidak beberapa lama setelah AAC, menyusul Ketika Cinta Bertasbih (KCB) 1 & 2. Berlanjut dengan Negeri 5 Menara. Semuanya berawal dari novel, yang kemudian difilmkan. Serta sarat dengan nuansa islami di dalamnya.

Ini tidak lepas dari dari masyarakat umum yang ingin belajar agama lebih mendalam, tetapi dengan kontekstualisasi yang sesuai dengan kehidupan sehari-hari. Maka format seni, menjadi jalan bagi pendakwah untuk turut mengedukasi masyarakat secara umum.

Komunitas Pengusaha
Tangan Di Atas (TDA) adalah komunitas pengusaha dengan nilai-nilai (values) yang sesuai namanya, yaitu saling memberi dan berbagi. Saling belajar dan mengajarkan adalah prinsip kental yang dianut oleh para member-nya. Jadi meskipun kental dengan nilai-nilai ke-Islam-an, tidak lantas menutup diri terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di sekitar. Mas Badroni Yuzirman sendiri adalah pengusaha muslim yang bersikap terbuka terhadap perubahan-perubahan modern, khususnya yang banyak terjadi di sekitar beliau.

Hijaber Revolution
Alhamdulillah. Revolusi ini harus dipandang sebagai kesadaran umat muslim untuk mulai menutup tubuh sesuai dengan syariat yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW. Di samping kesadaran dari dalam diri kebanyakan perempuan tersebut, hal ini juga didorong dan ditunjang oleh keberadaan industry fashion muslimah –dan muslim—dalam beberapa tahun terakhir.

Hijaber Revolution ini dengan baik ditunggangi oleh pemain kosmetik seperti Wardah. Dengan mengusung konsep kosmetik yang halal –dapat juga digunakan oleh non muslim—dari jenis bahan yang digunakan, Wardah berhasil “mengendarai” trend fashion terbaru ini.

Sebagai pemasar, salah satu tugas kita memang “Riding the Wave”. Artinya, bagaimana memanfaatkan trend yang sedang “in” untuk dikaitkan dengan aktivitas pemasaran yang sedang dilakukan. Bisnis hijab ini bisa kategorikan sebagai bisnis long tail. Karena pemainnya relatif kecil dan jumlah yang begitu besar–meski tidak lantas memakan satu sama lain. Alias masing-masing punya penggemar berat. Tipe bisnis seperti ini memang cocok untuk menerapkan “strategi kolam kecil”.

Penutup
Bapak Yuslam Fauzi, dalam bukunya yang berjudul “Memaknai Kerja”, pada tahun 2002 lalu mengungkapkan bahwa,“Kita harus menampilkan Islam dengan wajahnya yang benar:  yang menebar bukti-bukti kasih sayang Allah bagi manusia dan semesta  raya (rahmatan lil ‘alamin)”.

Yang kemudian dilanjutkan dengan, “Seringkali kita salah memaknai akhlak dengan adab. Akhlak bukanlah adab. Akhlak adalah  memberi manfaat bagi kemanusiaan, karena itu ia bersifat universal.”

Jadi keber-Islam-an kita yang sedang bergairah seperti sekarang ini tidak boleh diisi dengan caci-maki atau menjelek-jelekkan kelompok muslim yang lain. Ada banyak cara dalam ber-Islam dan beragam cara tersebut ikut menimbulkan keberagaman kelompok Islam di antara kita. Mari sikapi kegairahan ber-Islam ini dengan lebih positif.

Dipublikasi di strategi pemasaran | Tag | 1 Komentar

Sedekah Mindset


Di koran Kompas edisi Jumat lalu, 14 Februari 2014, pada halaman 7, Dawam Raharjo menuliskan tentang peran Dompet Dhuafa selaku  institusi sosial yang turut serta dalam pembangunan. Khususnya melalui berbagai program pendidikan dan kesehatan yang mereka jalankan. Akumulasi donasi ini berperan besar dalam pembangunan infrastruktur (sekolah, rumah sakit, puskesmas, posyandu, dsb) hingga dapat membiayai berbagai jenis biaya operasional (beasiswa, gaji karyawan Dompet Dhuafa, dsb).

Konsep sedekah sebanyak-banyaknya juga kian didengungkan oleh para pebisnis. Khususnya dari kelompok UKM (usaha kecil menengah). Kelompok pengusaha ini meyakini bahwa makin banyak memberi, akan berdampak positif pada omzet dan cash inflow perusahaan. Keyakinan ini yang mereka sebarluaskan. Baik lewat media seperti buku populer, website dan akun social media, hingga offline movement yang langsung turun menjemput dan mendistribusikan sedekah. Contoh: Sedekah Rombongan yang dipopulerkan oleh mas @Saptuari.

Sedekah yang banyak, lalu bangun network seluas-luasnya, kemudian berharap omzet turun dari langit. Laba yang diterima, dipakai untuk pengembangan usaha. Sedekah mindset-nya tidak salah, tetapi tidak bisa hanya satu cara tersebut dipakai untuk membesarkan bisnis. Karena membesarkan bisnis itu ada strateginya. Klub sepakbola saja ada strategi bisnisnya. :)

Para pemimpin wilayah terkini, khususnya mereka yang sedang beken dan belakangan banyak disebut di media adalah para pemimpin yang men-sedekah-kan dirinya untuk masyarakat. Ambil contoh Kang Emil di Bandung, Bu Risma di Surabaya, Pak Jokowi di Solo, dan beberapa contoh lainnya. Mereka adalah pejabat kota yang ikhlas bekerja untuk kotanya dan rakyatnya. Tidak tampak unsur pencitraan (untuk personal branding), atau keinginan untuk melakukan korupsi. Mindset-nya sudah bersedekah, alias sudah “memberi”.

Di samping tokoh-tokoh politik dengan sedekah mindset, juga lahir beragam komunitas dengan sedekah mindset. Mulai dari akademi  berbagi, Komunitas Memberi, TEDx, dan lain sebagainya.

Tentang Komunitas Memberi. Ini adalah komunitasnya UKM (usaha kecil menengah), dan komunitasnya para profesional. Kelompok UKM-nya tergabung sebagai penerima manfaat, sedangkan kelompok profesionalnya mengerucut menjadi “pemberi” manfaat. Bisa tebak sendiri ya mengapa namanya “Komunitas Memberi”. :)

Bagian tak terpisahkan dari Bisnis
Saya kira Google adalah perusahaan ber-“sedekah mindset” terbesar di dunia. Betapa tidak, hampir semua kebutuhan internet kita sudah diberikan secara gratis oleh Google. Pembayarnya sudah ada. Jadi model bisnisnya memang sangat menguntungkan kita sebagai pengguna – karena diberi secara cuma-cuma —tetapi perusahaan tersebut tetap bisa untung (profitable), bahkan tumbuh berkembang ke seluruh dunia.

Model bisnisnya seperti kita menonton saluran televisi di Indonesia. Kita tinggal menyaksikan layar kaca saja. Jadi pihak pengiklan yang membayar ke saluran televisi. Sebagian besar model bisnis Google memang seperti itu. Misal, gratis menggunakan mesin pencari. Tapi bagi yang ingin tampil di deretan atas mesin pencari (sebagai iklan), silakan membayar. Atau, gratis menggunakan Google Drive, tetapi hanya sampai kapasitas tertentu. Untuk kapasitas berlebih harus membeli.

Di negeri sendiri, ada direktur utama perusahaan negara (baca: BUMN),yang menggelorakan great spirit IHSAN di kantornya. IHSAN adalah kata dalam bahasa arab. Artinya kurang lebih “to be the best”. Beliau adalah Pak Arief Yahya, Dirut TELKOM. Sebagaimana tercantum dalam buku terbaru beliau, Great Spirit Grand Strategy: “Saat kita tidak mengharapkan semuanya, justru kita akan mendapatkan semuanya.”

Creating Shared Value
Tidak cukup hanya dengan sedekah mindset saja. Tapi kebaikan dan manfaat yang lebih besar bisa kita petik, manakala kita menyatukannya dengan bisnis. Inilah yang digagas oleh Michael Porter, seorang begawan strategi bisnis yang sudah mendunia. Menurut beliau, persoalan pada lembaga non-profit semacam LSM (lembaga swadaya masyarakat) atau konsep CSR (Corporate Social Responsibility) yang dieksekusi oleh perusahaan-perusahaan adalah  lemah pada tingkat scalability. Alias sulit untuk dibuat menjadi besar (atau sangat besar) karena terkendala kurangnya resources.

Proyek-proyek LSM sulit ditingkatkan penerima manfaatnya, karena dananya hanya berasal dari donasi dan kebaikan hati orang lain. Kegiatan-kegiatan CSR juga berat untuk dibuat dalam ukuran yang lebih besar, semata karena mengandalkan sekian persen dari laba perusahaan di tahun finansial yang lalu. Jadi ide yang paling mendasar dari Professor Michael Porter ternyata relatif sederhana –meski harus menggunakan perspektif yang tepat. Yaitu, bagaimana menyusun business model (suatu pendekatan dalam memandang apa saja yang kita lakukan dalam bisnis) yang tepat untuk dapat menyelesaikan masalah-masalah sosial yang terjadi –dan tetap mendapatkan untung.

Penutup
Sedekah mindset kini menjadi suatu social proof. Artinya adalah semakin banyak orang yang melakukan, maka semakin terasa hal tersebut terasa benar/baik untuk mereka yang belum melakukan. Social proof adalah bukti dari lingkungan sosial bahwa ikut terlibat di dalam aksi-aksi sosial yang semakin mewabah, merupakan hal yang baik.

Utan Kayu, 16 Februari 2014

Dipublikasi di entrepreneurship | Tag , , | Tinggalkan komentar