Singlenomics


Beberapa waktu lalu kami sempat menulis tentang “Revolusi jomblo”. Fenomena ini  masih kait-mengkait dengan revolusi kelas menengah. Yaitu, revolusi kelas sosial masyarakat dari kelas bawah (daya beli kecil atau pas-pasan) ke menengah (daya beli cukup dan cenderung tinggi), yang didorong oleh tingkat pendidikan tinggi, dan koneksi sosial tinggi, sehingga terjadilah mobilisasi sosial secara massif dan revolusioner.

Salah satu bentukan dari revolusi ini adalah ekonomi yang tumbuh berkat para jomblo kelas menengah yang (lagi-lagi) knowledgeable, koneksi sosial tinggi dengan daya beli kuat. Sebagai konsumen, mereka adalah pasar yang layak anda incar, karena jumlah individunya banyak dengan daya beli yang tinggi. Kami mengistilahkan ekonomi para jomblo ini dengan sebutan “singlenomics”.

Sebagai perbandingan, usia rata-rata ketika menikah saat ini berada pada kisaran 25 tahun. Biasanya pilihan tersebut berlaku setelah lulus kuliah dan cukup lama bekerja (atau bekerja dahulu hingga mapan). Sangat berbeda bila dibandingkan dengan masa orang tua kita dahulu, dengan tingkat pendidikan yang masih rendah dan jenis pekerjaan masih homogen (bertani, berkebun, melaut), rata-rata usia ketika menikah cenderung di bawah 20 tahun.

Sebagai kelas menengah dengan ciri-ciri tersebut di atas, mereka tak jarang memilih untuk menunda pernikahan (sehingga tetap berstatus single) dengan alasan mengejar kemapanan karir, memuaskan gejolak kawula muda (salah satunya lewat gaya hidup konsumtif), serta masih senang bersosialisasi dengan teman (online lewat media sosial maupun offline via kopi darat), dan berbagai alasan lainnya. Tapi, melalui artikel ini mari kita bahas tiga yang pertama.

Mengejar Karir
Salah satu faktor penting dalam karir adalah tingkat pendidikan. Ini terlihat dari indikasi jomblo-ers yang mengambil S2 sebelum menikah sebagai syarat meraih posisi yang lebih tinggi di dalam perusahaan. Baik lewat kelas malam atau kelas akhir pekan, semuanya dikejar oleh para jomblowan/jomblowati. Tak perlu heran, banyak kampus menggelar berbagai manuver untuk menggaet mahasiswa baru yang bercita-cita menjadi eksekutif papan atas di negeri ini.

Tidak hanya di dalam negeri, banyak pula para jomblo-ers yang mengejar kuliah S2 hingga ke luar negeri. Baik Eropa (Jerman, Belanda), Amerika Serikat maupun negara-negara tetangga di Asia (Jepang, Korea Selatan). “Hitung-hitung merasakan bagaimana rasanya tinggal di negeri orang”, sebagaimana komentar seorang rekan. Tidak hanya bisnis pendidikan langsung yang merasakan manisnya dana pendidikan dari mahasiswa S2, tapi juga agensi pendidikan.

Sebelum keberangkatan, agensi pendidikan–yang berupaya menghubungkan para calon mahasiswa dengan kampus-kampus di luar negeri–pada akhirnya turut merasakan gurihnya dana pendidikan para pengejar karir. Kemudian, sekembali dari luar negeri, para pengejar karir ini siap berkompetisi dengan berbagai kompetitor pencari tenaga kerja lokal dan internasional (misal, IPB: India, Pakistan, Bangladesh) untuk memetik hasil investasi pendidikan magisternya.

High Spender
Jomblo-ers tidak segan untuk menghamburkan uang untuk produk dan layanan premium yang mereka maui. Misalnya, liburan ke luar negeri, menonton Moto GP, atau klub kesayangan bertanding di negeri tetangga. “Mumpung masih sendiri, nggak papa dong memanjakan diri,” kilah seorang rekan. “Toh udah kerja dan pakai duit sendiri kan. Bukan duit ortu lagi, gitu lho,” lanjutnya. Dikit-dikit maen (baca: liburan) ke tempat wisata. Baik di dalam negeri (dengan alasan sedikit nasionalis) hingga destinasi luar negeri (berkilah cuci-mata ke negeri asing).

Selain itu, pusat kebugaran seperti Celebrity Fitness, Gold Gym dan Fitness First punya lebih banyak anggota yang single dibandingkan yang sudah menikah. Belum lagi produk-produk turunannya seperti nutrisi protein, kreatinin, casein, penghancur lemak, dan lain sebagainya yang laris manis dikonsumsi. Karena masih single, pilihan (pasangan hidup) masih banyak, jadi tidak pernah lupa pergi ke gym untuk memperbagus penampilan sekaligus memuaskan gejolak kawula muda. Bagi para jomblo-ers penampilan di mata orang lain adalah hal penting untuk selalu ditingkatkan.

Highly-Connected
Segmen jomblo berasumsi bahwa setelah menikah, kehidupan berkeluarga akan lebih mengekang kebebasan. Pergi dan pulang sudah ada yang mengatur. Sebab itu mereka memuaskan status saat ini yang masih bisa bersosialisasi dengan banyak teman dalam porsi waktu yang lebih. Dugaan mereka, keadaan akan sangat menghimpit setelah menikah. Apalagi setelah para momongan lahir ke dunia, ia menuntut perhatian yang luar biasa.

Selagi itu, jangan berpikir orang yang single itu kesepian dan terisolir, “jomblo-ers” justru highly-connected secara sosial. Apalagi di era media sosial seperti sekarang ini. Boom media sosial justru menjadikan para single ini makin well-connected dan spend more money. Budaya nge-lounge, mencari tempat nongkrong yang bisa “see and to be seen” menjadi bagian dari penentu singlenomics. Bagi anda para marketer yang menggarap segmen jomblo-ers, jangan pernah lewatkan promo-promo marketing anda tanpa menyentil ke-jomblo-an mereka. Selalu manfaatkan status mereka itu untuk mem-viral-kan brand anda.

Biro Jodoh Laris Manis
Karena memiliki standar yang tinggi akan pasangan hidup, para jomblo-ers kian mencari yang high quality. Tidak heran istilah “high quality jomblo” begitu mengemuka. Tidak heran industri yang mengincar segmen jomblo seperti biro jodoh atau mak comblang (match maker) dan konsultasi percintaan yang menjamur di berbagai kota. Situs-situs biro jodoh pun bermunculan bagai jamur di musim hujan. Alasan terutama yang kami temukan adalah kesulitan mencari pasangan ideal atau serasi (berdasarkan ukuran mereka).

Mengapa? Ketika daya beli tinggi, tapi tidak memiliki keterampilan yang sesuai dengan standar yang diinginkan oleh pihak pasangan, maka ilmu gaet-menggaet calon pasangan hidup, menjadi bisnis besar. Maka kelas menengah pun butuh biro jodoh. Coba kita tengok bagaimana banyaknya kantor biro jodoh profesional di Jakarta dan situs biro jodoh online. Tak pelak, bisnis ini adalah fenomena baru di era revolusi kelas menengah dan revolusi jomblo.

Hehe.. Menarik memang mengamati fenomena-fenomena di atas, oleh sebab itu kita sambut maraknya bisnis “singlenomics” di tanah air…

Dipublikasi di kelas menengah | Tag , , | Tinggalkan komentar

Perilaku Travelling Kelas Menengah


Jelang akhir tahun seperti ini, ada banyak promo dan kesempatan bagi kelas menengah untuk mengambil paket liburan. Baik bersama keluarga maupun rekan sekantor (yang dikemas dalam format meeting tahunan atau training). Bepergian bersama keluarga kini tidak cukup hanya di lokasi wisata dalam negeri. Kelas menengah juga mulai menjamah destinasi pariwisata di luar negeri. Tidak heran, membludaknya kelas menengah sungguh luar biasa di pameran GITF (Garuda Indonesia Travel Fair) yang lalu.

Untuk GITF 2014 tercatat jumlah pengunjung yang datang pada dua kali penyelenggaraan yaitu bulan April dan September mencpai jumlah pengunjung 59.000 orang, dengan total penjualan sebesar Rp 223,62 miliar, naik sekitar 215% dari tahun lalu. Mereka rela antri untuk masuk lokasi acara melihat pameran 40 lebih pemain industri traveling, meskipun bayar tiket Rp 20.000 per orang. Tidak tanggung-tanggung, pengunjung yang datang mencapai 80.000 orang dengan nilai transaksi lebih dari Rp 70 miliar.

Dari informasi-informasi tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa di mata kelas menengah, liburan itu bukan “kalau mau” saja. Melainkan sudah beranjak menjadi kebutuhan “yang harus dipenuhi”. Jangan heran melihat pameran GITF yang pengunjungnya ampun-ampunan banyaknya. Sebabnya apa? Sebabnya yaitu kelas menengah kini menganggap liburan bukan lagi keinginan tapi sudah jadi kebutuhan. Berikut ini adalah analisis kami bagaimana perilaku kelas menengah saat liburan.

Tidak Takut Lagi
Dahulu, liburan ke luar negeri dinilai barang mewah. Makanya, liburan ke luar negeri dulu dinilai “menakutkan” karena menghabiskan biaya mahal dan membutuhkan rasa percaya diri atau pengetahuan untuk berani melanglang buana. Saat ini, liburan ke luar negeri telah menjadi mass luxury, di mana liburan ke luar negeri telah menjadi lumrah (mainstream).

Data Euromonitor menunjukkan perkembangan liburan orang Indonesia ke luar negeri cukup tinggi, setiap tahunnya bisa tumbuh 20%. Analoginya kira-kira, “liburan ke luar negeri saat ini mirip dengan liburan ke Bali atau Yogyakarta, jadi nggak usah takut”. Biangnya bisa ditebak, perjalanan pesawat ke luar negeri kian terjangkau dengan adanya penerbangan murah (low-cost carrier) ke destinasi wisata negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, atau Thailand.

Apalagi beragam konten berbahasa asing sudah menjamah kelas menengah. Nontonnya film berbahasa asing – meski diperkuat dengan substitute bahasa Indonesia. Musiknya lagu-lagu dari Inggris Raya atau Amerika. Jadi sebenarnya bahasa asing tidak lagi pantas disebut asing. Karena sudah menjadi keseharian. Tinggal cas-cis-cus saja apa susahnya sih di negeri orang. Yang penting modal berani dan nekat.

No-Usual Tourism
Libur itu bukan lagi sekedar ke pantai atau ke gunung. Sekarang saja mengunjungi Malaysia atau Singapura sama banyaknya dengan yang liburan ke Yogyakarta. Hebat banget. Kenapa untuk liburan harus sampai ke luar negeri? Ada banyak alasan orang Indonesia berliburan ke luar negeri, diantaranya adalah mencari pengalaman baru (wisata kuliner, belanja, wisata alam, dll), sport tourism (nonton Moto GP, melihat klub sepak bola idamannya main di stadion, ikutan lari marathon), medical tour (cek kesehatan, rawat inap, perawatan kecantikan), wisata religi (umroh), dan lainnya.

Kita ambil studi kasus yang “sport tourism”. Karena level kemampuan ekonominya meningkat, sementara knowledge-nya juga makin moncer, maka seleranya juga “naik kelas”. Tidak hanya sekedar liburan di luar negeri, tapi juga sambil nonton bola atau balap motor. Contohnya para Gooners (sebutan supporter klub sepak bola Arsenal) Indonesia pun pergi berbondong-bondong menonton klub Liga Primer Inggris itu di stadion Bukit Djalil Malasyia. Demi memenuhi hasrat kepuasan menonton idola pujaan, jarak jauh pun mereka tempuh. Kemudian ada juga pengakuan dari salah satu online travel agent yang pernah memboyong antara 50-100 orang rombongan untuk menonton moto GP.

Cari Full Benefit
Konsumen ini semakin cerdas, mampu membandingkan harga yang dibayarkan dengan benefit yang diterima. Travel package semakin menjadi sasaran empuk bagi kelas menengah. Satu harga dapat beberapa benefit sekaligus. Ibarat beli satu dapat dua. Tidak hanya terbangnya saja, tapi juga dapat paket menginap di hotel berbintang, misalnya. Referensi utama mencari paket yang murah, meriah, menarik jelas dari internet. Era internet memudahkan masyarakat Indonesia untuk melakukan perencanaan traveling. Akibatnya, banyak keputusan pembelian paket wisata dilakukan melalui agen perjalanan online.

Tumbuhnya online travel agent ini tidak lepas dari pengaruh perubahan konsumen Indonesia yakni dari dulunya kuper dan gaptek menjadi semakin well-informed dan techy. Mereka rajin mencari destinasi yang ingin dituju, mencari tahu tentang benefit produk travel yang sesuai, tiket pesawat atau kereta, tentang penginapan, tempat wisata kuliner yang unik, dan sebagainya. Semua itu dilakukannya di internet daripada tanya-tanya di kantor travel agent.

Yang paling pas buat kelas menengah itu adalah yang berformat online aggregator. Jadi daripada mengecek satu-satu agen perjalanan online, lebih baik cukup buka satu website yang mengkomparasikan satu paket travel dengan paket yang lain. Format ini semakin menjadi tren karena seiring dengan karakteristik konsumen yang getol mencari-cari (searching) value yang terbaik.

Tiga perilaku kelas menengah dalam berlibur – travelling – di atas dapat menjadi petunjuk bagi anda yang membidik kelas menengah sebagai target konsumen. Kuncinya ada di koneksi sosial yang tinggi, knowledge yang juga relatif tinggi, serta daya beli yang oke. Tinggal utak-atik taktik pemasaran, maka anda akan mendapat gurihnya pasar kelas menengah. Apalagi ke depan, jumlah kelas menengah akan meningkat tajam. Maka tentu saja, anda tidak boleh terlambat apalagi ketinggalan!

Dipublikasi di kelas menengah, strategi pemasaran | Tag , , | Tinggalkan komentar

Kuliah S2 Sambil Kerja, Mengapa Tidak?


Pertama saya kasih batasan dulu ya. Tips-tips berikut ini bukan untuk mereka yang sedang “disekolahkan” oleh kantornya dan tetap menerima gaji+tunjangan seperti biasa (sehingga tidak bekerja rutin seperti biasanya). Tetapi ini untuk mereka yang sembari bekerja, akan mengambil s2. Jadi harus bagi waktu dan bagi konsentrasi untuk bekerja+kuliah sehingga kuliahnya engga berantakan, apalagi lulus lebih dari waktu yang disediakan. Berbahaya kalau sampai terjadi, hehehe. Itu baru satu poin yg akan saya bahas di sini, masih ada poin yg lain.

Yang statusnya mahasiswa, dari dulu memang selalu mengalami godaan, siy. Mulai dari godaan turut berorganisasi (aktif di himpunan pagi-siang-sore-malam) sambil kuliah. Sampai ada becandaan, “kuliahnya di himpunan, UKM-nya di jurusan” :D Atau godaan memulai bisnis kecil-kecilan (nawarin MLM ke teman masih jaman engga, ya?) sambil kuliah, sampai godaan main game terus-terusan (DOTA masih jaman engga, ya?). Status sebagai mahasiswa memang selalu banyak godaan yg datang menghadang menerjang. Makanya dari dulu sampai sekarang masih ada tuh alumni S1 yang menyesal kebanyakan engga fokus ke kuliahnya sendiri (terus lama pula lulusnya) :p

Dan kasus yang sama juga akan terulang ketika kuliah S2 sambil kerja. Karena ada yang menunggu dan menanti hasil pekerjaan serta keberadaan si bos sendiri, maka kerja selalu nomor satu. Yang nomor dua adalah kuliah S2-nya. Kuliahnya bisa jadi tidak fokus ketika tidak pernah menyempatkan belajar, tidak mengerjakan tugas atau yang paling parah: badannya di kampus tetapi pikiran masih memikirkan pekerjaan di kantor. Kacau sekali kan misal peristiwa-peristiwa tersebut terjadi sepanjang 4 semester? Oiya itu dulu ya kuliah S2 yg 4 semester. Aturan terbaru minimal 4 tahun alias 8 semester :)

Nah, let’s go back to the topic 

Yang pertama, pintar membagi waktu. Ini sih teknik paling klasik ya, hehe. Yang masih disarankan hingga sekarang. Memang banyak yang belum melakukannya dengan baik. Yang paling disarankan adalah fokus ke pelajaran ketika sedang di kelas. Karena waktu untuk belajar sangat sedikit. Senin – Jumat, pagi sampai sore kan pasti fokus untuk pekerjaan. Nah karena kuliahnya malam atau akhir pekan sabtu-minggu (jelas banget waktu sangat terbatas kan) maka fokuskan konsentrasimu ke kuliah ketika sedang berurusan dengan materi dan tugas kuliah.

Siap alokasi dana. Kampus yang bagus memang tidak murah, hehe. Tapi pendidikan bukan “murah”-nya yang kita lihat. Melainkan seberapa bagus “investasi” tersebut untuk masa depan kita. Khususnya terkait karir dan pendapatan ke depan. Saat ini, beberapa perusahaan mulai mensyaratkan lulusan S2 untuk posisi tertentu. Jadi sebelum yang bersangkutan –termasuk kamu– masuk ke dalam bursa calon pengisi posisi itu, pastikan kamu sudah lulus S2. Dan sekali lagi, untuk ber-“investasi”, dana yang cukup harus disiapkan. Produk bank seperti tabungan rencana bisa kamu pakai untuk mencicil biaya pendidikan S2. Gengsi deh klo minta ortu padahal sudah bekerja :p

Karena kuliah itu mahal, dan yg bayar kamu sendiri, jadi ngerti kan kenapa prinsip “lebih cepat lulus, lebih baik” :)

Ketiga, cari teman belajar yang pas. Namanya sambil kerja, kan bahan-bahan kuliah engga bisa ditengok terus-menerus ya. Jadi pas sekali waktu ada kesempatan, belajar lah bareng teman-teman kuliah yang nyetel. Ya nyetel di waktunya, nyetel di gaulnya, kalo perlu mpe nyetel tempat nongkrongnya. Hehehe. Tujuannya cuma satu: biar belajar itu ada temennya. Minimal ada yang ngingetin deh jadi biar bangkit lagi semangatnya pas kamu lagi loyo. Syukur alhamdulillah klo ternyata kantor kalian berdekatan, jadi belajar bareng bisa gampang.

Biasakan mencicil materi kuliah. Kuliah itu staminanya jangka panjang. Minimal per semester lha. Materi ada sepanjang semester, sementara ujian mungkin hanya 1-2 kali. Di tengah dan akhir (semester). Belum lagi berbagai tugas panjang nan menyita waktu. Jadi mencicil dikit-dikit lama-lama menjadi bukit deh. Ini perlu kamu lakukan juga supaya engga kaget karena ada materi yg belum pernah tersentuh pas mau belajar untuk ujian, lalu malah menggumam, “koq bahannya banyak banget ya?” :D

Mudah-mudahan semua uraian ini memberikan “pencerahan” ya. Khususnya bagi kamu-kamu yang saat ini sedang bekerja dan mempertimbangkan ambil S2. Ingat, S2 itu investasi. Pendidikan baru setaraf S1 sudah terlalu umum, sekarang ini. Kompetisi kerja serta persaingan di kantor semakin ketat. Kalau mau lebih kompetitif, salah satunya bisa melalui gelar S2.

Untuk yang masih mahasiswa, paling tidak pertimbangkan dulu baik-baik apa yang mau dikerjakan setelah lulus s1? Atau kapan sebaiknya kuliah S2? Lengkapnya bisa dibaca di sini. Saya sendiri bukan termasuk mereka yang “kuliah s2 sambil kerja”. Saya adalah produk “ambil s2 setelah lulus s1, habis itu baru kerja”. Tapi animo tentang “kuliah S2 sambil kerja” tidak sedikit. Sebab itu saya uraikan di atas. Harus direncanakan memang, supaya engga asal-asalan. Minimal dipertimbangkan masak-masak, hehehe. kasihan kamunya kalau sekedar kerja karena sudah lulus S1, atau kuliah s2 karena bingung mau ngapain setelah lulus S1. Karena mengerjakan dua hal sekaligus seperti “kuliah S2 sambil kerja” memberi hidup kita beban yang lebih. Dan supaya tetap “survive” and “success” dalam dua hal tersebut, bukan perkara yg mudah.

Semoga kesuksesan jadi milik kamu, setelah membaca artikel ini :)

Dipublikasi di kuliah, personal journal | Tag , | Tinggalkan komentar

Mengapa Harus Menteri Marketer?


Beberapa waktu lalu presiden terpilih Jokowi mengeluarkan pernyataan menarik, yaitu bahwa menteri haruslah jago marketing. Jokowi mengungkapkan bahwa menteri-menterinya (khususnya untuk jabatan-jabatan strategis tertentu) haruslah mampu memasarkan produk-produk Indonesia di pasar global. Di industri kreatif misalnya, kita punya potensi produk yang luar biasa mulai dari kerajinan, seni tari, musik, video, games, animasi hingga film.

Menteri-menteri jago marketing ini pas jika ditempatkan di pos-pos strategis seperti Kementerian Ekonomi Kreatif, Kementerian Industri, Kementerian Perdagangan, Kementerian Koperasi dan UKM, Kementerian Maritim, dan lain-lain. Pernyataan Jokowi di atas menjadi relevan kalau kita melihat peta politik-ekonomi di tingkat regional maupun global dan momentum menggeliatnya pasar domestik oleh tumbuh pesatnya kelas menengah kita.

Kenapa menteri-menteri di posisi strategis tersebut harus memiliki karakter marketer? Kami memiliki tiga challenges yang bakal dihadapi oleh bangsa ini dalam jangka pendek maupun panjang.

Competition Challenge
Challenge pertama yang telah ada di hadapan kita tahun depan adalah dimasukinya era pasar bebas Asean (Masyarakat Ekonomi ASEAN, MEA). Di bukanya pasar bebas ASEAN sekaligus menandai terbukanya kompetisi antar pemain di kawasan ini. Dalam konteks persaingan ini kondisinya meresahkan karena daya saing pemain-pemain lokal kita masih kalah dibanding pemain di negara tetangga seperti Singapura, Thailand, Malaysia dan sebagainya. Ketika daya saing belum kuat, maka skenario yang bakal terjadi adalah di era MEA nanti kita “dimanfaatkan” bukan “memanfaatkan.”

Dengan challenge semacam itu, maka tugas menteri untuk membangun daya saing pemain di sektor-sektor strategis seperti sektor industri, perdagangan, BUMN, ekonomi kreatif, dan UKM, menjadi demikian krusial. Mereka mengemban amanat untuk mendongkrak daya saing pemain lokal melalui peningkatan kemampuan modal, teknologi, manajemen, dan SDM agar kompetitif di pasar regional/global. Mereka harus mengenyahkan mental birokrat dan menggantinya dengan mindset marketer/entrepreneur.

Singapura adalah contoh kasus menarik bagaimana para menterinya memiliki mindset marketer/entrepreneur. Dengan menteri-menteri berwawasan marketer/entrepreneur ini, mereka menyulap negara kota ini menjadi regional hub bagi perdagangan, pariwisata, pendidikan, hiburan, bahkan sport.

Market Challenge
Challenge kedua adalah potensi pasar Indonesia yang sangat besar, yang seharusnya bisa menjadi daya tawar ampuh untuk mengembangkan sumber daya dan daya saing pemain lokal agar mampu berbicara di kancah global. Pasar domestik yang besar itu seharusnya bisa dipakai sebagai wahana berlatih dan mengasah diri para pemain lokal agar mereka memiliki kapasitas setara dengan perusahaan global.

Kami sering menggambarkan Indonesia saat ini sebagai “gadis molek” yang dilirik oleh investor dan perusahaan manapun di seluruh dunia. Jumlah penduduk yang besar, pendapatan perkapita yang telah mendekati US$5.000, dan basis konsumen kelas menengah yang siknifikan, menjadikan Indonesia sebagai pasar yang atraktif bagi perusahaan-perusahaan global dari manapun di seluruh dunia. Tak heran jika Indonesia mendapatkan rating istimewa dari lembaga-lempbaga pemeringkat bergengsi seperti S&P, Moody’s atau Fitch.

Untuk menjadikan potensi pasar domestik yang sangat besar ini dibutuhkan menteri-menteri yang memiliki mindset marketer/entrepreneur. Seorang menteri marketer/entrepreneur akan mampu merumuskan formula yang pas untuk di satu sisi menarik invastasi asing ke Indonesia, tapi di sisi lain semaksimal mungkin memanfaatkan kehadiran investasi asing tersebut untuk sebesar-besarnya keuntungan rankyat Indonesia. Menteri yang marketer/entrepreneur akan cerdas memanfaatkan kekuatan pasar Indonesia sebagai medium untuk menempa daya saing pemain lokal di pasar domestik dan kemudian siap tinggal landas memasuki pasar global.

Brand Challenge
Challenge terakhir adalah berkaitan upaya bangsa ini membangun brand lokal yang kokoh baik di kalangan perusahaan besar, menengah, maupun kecil. Dalam berbagai kesempatan seminar, kami sering mengatakan bahwa negeri ini sudah dalam kondisi kritis dalam hal kedaulatan brand, kenapa? Karena kita melihat kenyataan pahit di mana brand asing sudah demikian mendarah daging menguasai negeri ini.

Di hampir semua industri, mulai dari telekomunikasi, perbankan, otomotif, makanan/minuman, farmasi, kosmetik, toiletris, ritel, elektronik rumah tangga, gadget, pertambangan, alat berat, periklanan, riset pasar, bahkan e-commerce, negeri ini sudah “ditawan” oleh brand asing. Dengan pahit kami katakan dalam hal brand negeri ini masih belum merdeka. Kita memiliki kemerdekaan brand hanya jika merek lokal kita berjaya di negerinya sendiri, menjadi tuan rumah di negerinya sendiri.

Nah, dalam konteks urgensi inilah kehadiran menteri marketer/entrepreneur begitu penting. Menteri Perindustrian, Perdagangan, Ekonomi Kreatif, Maritim, hingga Menteri Koperasi dan UKM haruslah bahu-membahu membangun awareness mengenai kondisi “darurat brand”, kemudian mengambil langkah-langkah strategis untuk membangun brand-brand lokal yang tak hanya mampu menjadi di tuan rumah di negeri sendiri, tapi juga berjaya di pasar internasional.

Semoga menteri marketer akan membawa kebaikan bagi negeri ini.

Dipublikasi di personal journal | Tag , | Tinggalkan komentar

Tips Berolahraga di Rumah


Tahu jargon “Memasyarakatkan olahraga dan Mengolahragakan Masyarakat”? Tahu tidaknya kamu bisa jadi ukuran berapa usiamu :p

Semangat jargon tersebut masih ada hingga sekarang, khususnya yang tampak dari peristiwa-peristiwa terkini di sekitar kita. Start from lapangan futsal yang dibuka di mana-mana. Siswa SMA, mahasiswa hingga pekerja turut serta meramaikan bisnis yang baru berusia sekitar 1 dekade tersebut. Ramai juga mereka yang menghadiri Car Free Day untuk berolahraga. Terlepas dari isu lingkungan yang hanya dibawa-bawa, tampak jelas semangat berolahraga kian menjadi-jadi.

Buktinya adalah, hampir semua orang ingin berpenampilan menarik. Gim-gim semakin dipenuhi oleh mereka yang ingin tampil lebih segar dan menarik di hadapan orang banyak. Makanya otot-otot tangan dan kaki dibentuk. Supaya lebih ramping dan berisi bukan tampak gembung karena kadar lemak yang kelewat batas standard. Sebagian kecil di antaranya ingin membawa diri jadi lebih enteng, makanya berolahraga di gymnasium.

Enggak hanya soal olahraga, tapi juga soal makanan-minuman yang di-positioning-kan sebagai makanan-minuman sehat. Misal, susu protein yang dijual di retail dan konon bisa bantu bentuk badan. Saya sebut konon karena seorang rekan mati-matian membantah kualitas produk tersebut. Ada juga susu dengan kandungan kalsium yang di-positioning-kan untuk memperkuat tulang sehingga mencegah osteoporosis.

Barusan, itu semua external perspective. Driver-nya adalah size ekonomi kita yang tumbuh dan melahirkan kelas menengah serta Orang Kaya Baru (OKB). BTW, jangan lupa baca tulisan-tulisan saya mengenai kelas menengah muslim ya :D Sekarang dari internal perspective (baca: kisah sejarah perolahragaan saya pribadi).

Bagi saya, dulu, yang namanya olahraga itu ya maen (sepak)bola. Bukan olahraga namanya kalo engga maen bola. Soalnya, maen bola itu menyenangkan. Dan olahraga itu harus menyenangkan. Kalo hanya lari saja dapat capek dan bosan, berarti itu bukan olahraga. Setidaknya itu definisi dan prinsip kuat yang selalu saya pegang dan bawa ke mana-mana. Hahaha. Nah berikut ini yang pertama dari saya mengenai tips berolahraga di rumah: jangan maen bola di dalam rumah.

Di kampus SMA saya yang fasilitas olahraganya banyak, mestinya minat olahraga tersalurkan. Hehe. Maklum, mulai dari lapangan sepakbola, basket, voli,hingga trek lari ada di sana. Jadi bisa bervariasi dari hari ke hari. Tapi itu mestinya doang. Karena tiap sore yang ada hanya malas semata. Lagipula lima hari dalam seminggu ada olahraga paginya. Apalagi semakin senior, akan semakin sibuk belajar. Kenyataannya hampir tiap hari maen bola di antara asrama no.2 dan asrama no.3.

Waktu kuliah, weekend lebih banyak sok sibuk berkegiatan di kampus. Ikut unit, himpunan, BEM, dan sebagainya. Awal-awal masa kuliah masih banyak yang diikuti. Makin akhir, makin sedikit dan berusaha fokus ke amanah (yang biasanya) semakin puncak dan semakin besar. Walhasil, jarang olahraga di akhir pekan. Sebagai bukti sejarah, saya nyatakan bahwa saya pernah opname karena sakit demam typhoid (baca: tipes).

Bosan di luaran, rumah tempat kita tinggal kembali menjadi alternatif tempat berolahraga. Dulu saya pribadi malas banget olahraga di rumah. Mulai dari push up, sit up, dan berbagai gerakan lainnya hanya one time spirit saja. Mau dimulai lagi seperti apa, selalu saja mentok ke satu kata: malas. Sampai akhirnya saya mulai download berbagai video dari YouTube dengan keyword “fitness”. Tidak sekedar unduh-simpan-lalu lupakan, saya mulai workout dengan gerakan panduan dari video. Ujung-ujungnya lalu kembali ke kata yang akrab dengan malas: bosan. Melihat para fitness trainer lama-lama membuat eneg juga. Mending duduk santai nonton unduhan “highlight pertandingan tadi malam” yang ga sengaja ke-download bersamaan :p

Dari sini, akhirnya saya beralih ke nonton customized-video para pesepakbola internasional: Zlatan Ibrahimovic, Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, Angel Di Maria, dan sebagainya. Topiknya bisa best goal, great skills, clever assists, dan seterusnya. Menontonnya menarik, musiknya juga berdentum-dentum pas dengan suasana olahraga yang diiringi. Beberapa hari ini, saya selalu berolahraga setiap pagi diiringi musiknya sambil menonton gambar bergeraknya. Jadi tips berolahraga di rumah adalah cari video dengan durasi waktu agak panjang, misal 20 menit. Jadi nontonnya puas, olahraganya juga puas. Mestinya ini bisa jadi jalan menjaga berat badan lah :D

Kota yang sehat itu punya ruang terbuka untuk berkumpulnya para warga masyarakat. Termasuk juga fasilitas lapangan olahraga dengan alat-alat olahraga di ruang terbuka. Macem beginian ternyata saya dapati di sekitar tempat maen di Rawamangun. Ini punya pemerintah daerah, jadi warga Jakarta Timur khususnya bisa menggunakan alat-alat tersebut yang konon gratis.. tis.. tis.. (masih konon karena saya sendiri belum sempat ke sana, masih suka sibuk di kantor) :D

Dipublikasi di personal journal | Tag , , | 1 Komentar

Area Sales Champion


Pertumbuhan usaha bisnis lewat pengembangan dan perluasan wilayah pemasaran tidak selamanya berjalan mulus. Salah satu kuncinya ada di tangan para Area Manager. Posisi inilah yang menjadi ujung tombak pemasaran dan penjualan di wilayah-wilayah. Bisa dikatakan, mereka adalah segelintir orang yang sangat menentukan naik turunnya keberjalanan dan pertumbuhan perusahaan tahun demi tahun.

Supaya berhasil, posisi area manager haruslah diisi oleh mereka yang “Juara”. Area Manager yang juara akan menghadirkan omzet dan profit dari tangan dingin mereka. Mau ditempatkan di manapun, area manager yang “Juara” akan berhasil mengelola dan memimpin pasukannya untuk meraih kejayaan pemasaran dan penjualan. Area Manager yang “Juara” mampu memberdayakan beragam infrastruktur yang telah diberikan oleh kantor pusat.

Selama kami melakukan training Area Manager di beberapa perusahaan dalam 2-3 tahun terakhir, akhirnya kami menemukan beberapa peran yang masih dan akan relevan dengan fungsi dan posisi Area Manager selaku penanggung jawab target penjualan di wilayah-wilayah. Ke depannya, 4 peran yang diharapkan dari Area Manager berikut ini adalah enabler ketika berhadapan dan bersiasat dengan pasar yang bertumbuh dan kompetisi yang kian sengit.

Leader
Area Manager harus berperan sebagai leader (pemimpin) dalam mengelola internal kantor cabang untuk menghadapi kekuatan eksternal (kompetitor & pasar). Rekan-rekan salesman yang dipimpinnya merupakan sumber daya yang harus dikelola secara benar dan efektif. Maklum saja, ujung tombak penjualan dari waktu ke waktu adalah para salesman yang harus dimotivasi dengan teknik yang tepat, sekaligus pengembangan budaya salesmanship yang kondusif.

Di samping itu, kinerja penjualan tiap-tiap salesman harus terus-menerus diawasi bersama dengan dukungan remunerasi yang memberikan dorongan positif. Kompensasi dan insentif yang diramu sedemikian rupa merupakan kunci menuju produktivitas penjualan. Mereka yang sukses menjalankan perannya ketika customer visit lalu membukukan penjualan, tentunya harus diganjar dengan kompensasi dan insentif yang setmpal.

Marketer
Area manager memiliki mindset sebagai seorang marketer yang menguasai strategi-strategi marketing. Di antaranya adalah Integrated Marketing Communication (IMC) untuk meningkatkan brand equity di wilayah tersebut, serta teknik-teknik sales promotion yang berujung pada naiknya hasil penjualan. Termasuk bila harus bersinergi dengan brand lain untuk mengeksekusi program-program Co-Marketing.

Marketer yang hebat itu seperti sniper (penembak jitu), bukan Rambo yang menghambur-hamburkan amunisi (budget) marketing. Makanya marketing sniper yang tangguh juga harus mampu melakukan SWOT Analysis keadaan di pasar/lapangan secara tepat. Dari analisis yang sudah tajam, baru diturunkan menjadi teknik-teknik IMC dan sales promotion yang relevan di area tersebut.

Salesman
Area Manager memiliki pemahaman dan kemampuan mengenai teknik-teknik sales (penjualan) untuk memenangkan pertempuran di lapangan. Sebab, medan pertarungan sesungguhnya adalah melalui penguasaan produk di ceruk-ceruk pasar yang tersedia. Sehingga, penguasaan ilmu Territory Management menjadi relevan dalam memenangkan kompetisi. Penggarapan wilayah penjualan menjadi lebih efektif dengan ilmu tersebut.

Secara vertikal, salesman “Juara” selalu mampu membangun dan menjaga hubungan dengan para pelanggan. Konsumen yang sudah dekat berakibat lahirnya loyalitas pembelian-pembelian berikutnya. Selama harga masih “masuk”, konsumen akan berpikir dua kali untuk pindah dari salesman yang sudah dikenal sejak lama. Lebih lanjut, biaya marketing dan penjualan akan lebih rendah dengan adanya pelanggan tetap.

Servant
Area Manager memiliki mindset sebagai servant (pelayan), sehingga dapat menjalankan fungsi “pelayanan” dengan baik kepada para salesman yang dipimpinnya maupun para pelanggan. Sebabnya tidak lain dan tidak bukan adalah persaingan yang semakin kompetitif. Bertarung di level fitur sudah sulit, karena semua pemain kini sudah mampu. Sehingga layanan menjadi alat baru untuk berbuat berbeda (different) sehingga tetap survive di pasar.

Para “Servant” biasanya memang memiliki niat yang tulus nan ikhlas untuk melayani berbagai kebutuhan pelanggan di internal (salesman) maupun eksternal (klien). Servant yang “Juara” itu seperti walikota Bandung, Ridwan Kamil. Pengabdiannya tidak kenal jabatan. Baik pegawai internal kantor walikota, maupun masyarakat umum dilayani olehnya dengan tulus ikhlas tanpa harap pamrih yang beraneka rupa.

Dari peran-peran yang sudah terurai di atas, semakin kita pahami dan yakin bahwa Area Manager adalah tulang punggung perusahaan. Keberadaan mereka semakin krusial dengan pasar ASEAN yang tumbuh besar dan kompetitif mulai tahun 2015. Dan dengan memahami dan menghayati keempat peran di atas, Area Manager kini dapat memenuhi tanggung jawabnya serta mencapai targetnya: Area Sales Champion. Bravo, Area Manager Indonesia!!

Dipublikasi di Area Sales, strategi pemasaran | Tag , , | Tinggalkan komentar

Pekerjaan Konsultan IV


Basic-nya saya kira adalah karena konsultan menjual ide, maka ide itu harus diikat dalam bentuk tulisan atau gambar, atau keduanya. Tanpa satu atau keduanya, konsultan tidak meninggalkan apa-apa kepada kliennya. Deliverables itulah yang menjadi acuan bagi klien untuk dikerjakan di internal perusahaan, nantinya. Desainer (konsultan) interior atau arsitek misalnya; ide yang mereka jual harus didokumentasikan sebagai laporan ke hadapan kliennya. Tidak mungkin hanya dalam format vokal saja ketika presentasi.

Jadi, selain berbicara, membaca dan menganalisis (berpikir), menulis juga termasuk bagian penting dalam kompetensi seorang konsultan. Demikianlah hebatnya pekerjaan ini sehingga mungkin masih jauh masa di mana teknologi digital (misalnya, Big Data) mampu menggantikan pekerjaan konsultan. Implikasi lain dapat kita rasakan pada perhitungan pekerjaan konsultan yang lebih didominasi oleh perhitungan man hour atau man day. Kompetensi pribadi seperti ini biasanya memang jarang dimiliki dan oleh sebab itu pengupahannya juga berdasar jam atau harian.

Lebih lanjut, saya coba ungkapkan bagaimana cara menulis ala konsultan yang paling baik (sebatas yang saya tahu hingga saat ini). Jangan lupakan quote yang terkenal dari Sayyidina Ali “Ikatlah ilmu dengan menulisnya”. Maksudnya adalah agar ilmu-ilmu tersebut bisa kita akses/baca/dengar/latih kembali. Sekarang kita masuk ke tips-tips menulis yang sudah saya janjikan di atas.

Cara yang pertama adalah hindari kata atau kalimat yang tidak perlu. Every word/sentence must matters. Ini maksudnya agar seorang konsultan, yang direpresentasikan oleh tulisannya sendiri, tidak bertele-tele dalam menyampaikan gagasannya. Penjelasan tersebut tentu bisa ditulis panjang, tetapi karena ruang tulisan dan waktu pembaca sangat terbatas, sehingga konsultan harus memasukkan gagasan yang benar-benar penting saja. Coba cek bagaimana artikel-artikel Majalah Harvard Business Review (HBR) ditulis. Tidak ada kalimat yang tidak penting. Semua unsur kalimat menyusun paragraph menjadi satu kesatuan makna yang utuh. Hal ini berbanding terbalik dengan novelis. Penulis novel berupaya menghanyutkan pembacanya ke dalam alur tulisannya yang telah dibuat sepanjang mungkin dengan tujuan memberikan deskripsi yang detil terhadap tulisan novel itu sendiri.

Sebagai acuan, kita dapat menganut ajaran Barbara Minto, konsultan dari McKinsey. Barbara mengajarkan hukum tiga, yakni gagasan yang tidak kurang dari tiga buah tetapi juga tidak boleh terlalu banyak. Menurut Barbara, 7 poin saja sudah terlalu banyak sehingga akan sulit untuk diingat. Sehingga jumlah 3-5 kiranya adalah jumlah yang tepat. Sebab, gagasan yang terlalu sedikit cenderung kurang kokoh (robust) tetapi gagasan yang terlalu banyak justru akan membingungkan pembaca dan penggunanya. Ujung-ujungnya, kebingungan akan menyebabkan eksekusi yang tidak sempurna. Seringkali pekerjaan konsultan adalah membuat sesuatu yang kompleks menjadi lebih sederhana, tetapi tanpa menghilangkan esensi-esensinya sama sekali.

Yang kedua, nama dan pekerjaan seorang konsultan sudah dipertaruhkan sejak awal, sejak ketika namanya menjadi bagian dari tulisan/gambar tersebut. Kredo yang tepat untuk mengilustrasikan ini adalah, Your name is on the line. Karena sejak nama konsultan tersebut tertulis di halaman depan laporan atau artikel Koran/majalah itulah, dia akan mempertaruhkan nama baiknya sendiri atas kualitas gagasan/riset yang telah dia lakukan dan menjadi dasar dari usulan-usulan dia. Baik usulan kepada klien maupun kepada masyarakat umum. Mengambil contoh konsultan manajemen, tidak heran bila tenaga-tenaga ahli tersebut sangat terbatas jumlahnya dan cenderung mengenal satu sama lain. Tidak lain dan tidak bukan adalah karena tanggung jawab besar yang memang tidak semua orang sanggup memikul beban kerja sebagai konsultan.

Tantangan berikut yang terbesar adalah dalam menyusun tulisan / gambar yang speak for itself. Maksudnya adalah tanpa dijelaskan secara langsung pun, mereka yang membacanya dapat memahami dengan sendiri. Terus terang ini tidak mudah, dan skill ini yang masih terus diasah setiap waktu oleh para konsultan. Di sisi lain, dokumen yang sama juga harus “cantik” untuk dipresentasikan. Jadi bukan dokumen proposal/laporan yang padat dengan kata-kata sehingga “menyakitkan mata” tapi juga bukan sekedar tabel dan gambar yang multiinterpretatif dan sulit dipahami oleh pembaca dokumennya.

Tulisan/video di media massa yang mudah dipahami oleh pembaca. Saya kira situs berbagi video seperti YouTube termasuk ke dalam media yang dijangkau oleh massa luar biasa banyak. Sehingga bahasa yang digunakan harus dalam tingkat yang mudah dipahami. Salah satu ukuran kemudahan dipahami adalah kosakata yang “speak for itself”. Saya tegaskan demikian karena memang begitu pentingnya frase ‘speak for itself” ini.

Demikian uraian singkat ini. Semoga bermanfaat.

Dipublikasi di pekerjaan konsultan, personal journal | Tag , , | Tinggalkan komentar