Mengapa Harus Menteri Marketer?


Beberapa waktu lalu presiden terpilih Jokowi mengeluarkan pernyataan menarik, yaitu bahwa menteri haruslah jago marketing. Jokowi mengungkapkan bahwa menteri-menterinya (khususnya untuk jabatan-jabatan strategis tertentu) haruslah mampu memasarkan produk-produk Indonesia di pasar global. Di industri kreatif misalnya, kita punya potensi produk yang luar biasa mulai dari kerajinan, seni tari, musik, video, games, animasi hingga film.

Menteri-menteri jago marketing ini pas jika ditempatkan di pos-pos strategis seperti Kementerian Ekonomi Kreatif, Kementerian Industri, Kementerian Perdagangan, Kementerian Koperasi dan UKM, Kementerian Maritim, dan lain-lain. Pernyataan Jokowi di atas menjadi relevan kalau kita melihat peta politik-ekonomi di tingkat regional maupun global dan momentum menggeliatnya pasar domestik oleh tumbuh pesatnya kelas menengah kita.

Kenapa menteri-menteri di posisi strategis tersebut harus memiliki karakter marketer? Kami memiliki tiga challenges yang bakal dihadapi oleh bangsa ini dalam jangka pendek maupun panjang.

Competition Challenge
Challenge pertama yang telah ada di hadapan kita tahun depan adalah dimasukinya era pasar bebas Asean (Masyarakat Ekonomi ASEAN, MEA). Di bukanya pasar bebas ASEAN sekaligus menandai terbukanya kompetisi antar pemain di kawasan ini. Dalam konteks persaingan ini kondisinya meresahkan karena daya saing pemain-pemain lokal kita masih kalah dibanding pemain di negara tetangga seperti Singapura, Thailand, Malaysia dan sebagainya. Ketika daya saing belum kuat, maka skenario yang bakal terjadi adalah di era MEA nanti kita “dimanfaatkan” bukan “memanfaatkan.”

Dengan challenge semacam itu, maka tugas menteri untuk membangun daya saing pemain di sektor-sektor strategis seperti sektor industri, perdagangan, BUMN, ekonomi kreatif, dan UKM, menjadi demikian krusial. Mereka mengemban amanat untuk mendongkrak daya saing pemain lokal melalui peningkatan kemampuan modal, teknologi, manajemen, dan SDM agar kompetitif di pasar regional/global. Mereka harus mengenyahkan mental birokrat dan menggantinya dengan mindset marketer/entrepreneur.

Singapura adalah contoh kasus menarik bagaimana para menterinya memiliki mindset marketer/entrepreneur. Dengan menteri-menteri berwawasan marketer/entrepreneur ini, mereka menyulap negara kota ini menjadi regional hub bagi perdagangan, pariwisata, pendidikan, hiburan, bahkan sport.

Market Challenge
Challenge kedua adalah potensi pasar Indonesia yang sangat besar, yang seharusnya bisa menjadi daya tawar ampuh untuk mengembangkan sumber daya dan daya saing pemain lokal agar mampu berbicara di kancah global. Pasar domestik yang besar itu seharusnya bisa dipakai sebagai wahana berlatih dan mengasah diri para pemain lokal agar mereka memiliki kapasitas setara dengan perusahaan global.

Kami sering menggambarkan Indonesia saat ini sebagai “gadis molek” yang dilirik oleh investor dan perusahaan manapun di seluruh dunia. Jumlah penduduk yang besar, pendapatan perkapita yang telah mendekati US$5.000, dan basis konsumen kelas menengah yang siknifikan, menjadikan Indonesia sebagai pasar yang atraktif bagi perusahaan-perusahaan global dari manapun di seluruh dunia. Tak heran jika Indonesia mendapatkan rating istimewa dari lembaga-lempbaga pemeringkat bergengsi seperti S&P, Moody’s atau Fitch.

Untuk menjadikan potensi pasar domestik yang sangat besar ini dibutuhkan menteri-menteri yang memiliki mindset marketer/entrepreneur. Seorang menteri marketer/entrepreneur akan mampu merumuskan formula yang pas untuk di satu sisi menarik invastasi asing ke Indonesia, tapi di sisi lain semaksimal mungkin memanfaatkan kehadiran investasi asing tersebut untuk sebesar-besarnya keuntungan rankyat Indonesia. Menteri yang marketer/entrepreneur akan cerdas memanfaatkan kekuatan pasar Indonesia sebagai medium untuk menempa daya saing pemain lokal di pasar domestik dan kemudian siap tinggal landas memasuki pasar global.

Brand Challenge
Challenge terakhir adalah berkaitan upaya bangsa ini membangun brand lokal yang kokoh baik di kalangan perusahaan besar, menengah, maupun kecil. Dalam berbagai kesempatan seminar, kami sering mengatakan bahwa negeri ini sudah dalam kondisi kritis dalam hal kedaulatan brand, kenapa? Karena kita melihat kenyataan pahit di mana brand asing sudah demikian mendarah daging menguasai negeri ini.

Di hampir semua industri, mulai dari telekomunikasi, perbankan, otomotif, makanan/minuman, farmasi, kosmetik, toiletris, ritel, elektronik rumah tangga, gadget, pertambangan, alat berat, periklanan, riset pasar, bahkan e-commerce, negeri ini sudah “ditawan” oleh brand asing. Dengan pahit kami katakan dalam hal brand negeri ini masih belum merdeka. Kita memiliki kemerdekaan brand hanya jika merek lokal kita berjaya di negerinya sendiri, menjadi tuan rumah di negerinya sendiri.

Nah, dalam konteks urgensi inilah kehadiran menteri marketer/entrepreneur begitu penting. Menteri Perindustrian, Perdagangan, Ekonomi Kreatif, Maritim, hingga Menteri Koperasi dan UKM haruslah bahu-membahu membangun awareness mengenai kondisi “darurat brand”, kemudian mengambil langkah-langkah strategis untuk membangun brand-brand lokal yang tak hanya mampu menjadi di tuan rumah di negeri sendiri, tapi juga berjaya di pasar internasional.

Semoga menteri marketer akan membawa kebaikan bagi negeri ini.

Dipublikasi di personal journal | Tag , | Tinggalkan komentar

Tips Berolahraga di Rumah


Tahu jargon “Memasyarakatkan olahraga dan Mengolahragakan Masyarakat”? Tahu tidaknya kamu bisa jadi ukuran berapa usiamu :p

Semangat jargon tersebut masih ada hingga sekarang, khususnya yang tampak dari peristiwa-peristiwa terkini di sekitar kita. Start from lapangan futsal yang dibuka di mana-mana. Siswa SMA, mahasiswa hingga pekerja turut serta meramaikan bisnis yang baru berusia sekitar 1 dekade tersebut. Ramai juga mereka yang menghadiri Car Free Day untuk berolahraga. Terlepas dari isu lingkungan yang hanya dibawa-bawa, tampak jelas semangat berolahraga kian menjadi-jadi.

Buktinya adalah, hampir semua orang ingin berpenampilan menarik. Gim-gim semakin dipenuhi oleh mereka yang ingin tampil lebih segar dan menarik di hadapan orang banyak. Makanya otot-otot tangan dan kaki dibentuk. Supaya lebih ramping dan berisi bukan tampak gembung karena kadar lemak yang kelewat batas standard. Sebagian kecil di antaranya ingin membawa diri jadi lebih enteng, makanya berolahraga di gymnasium.

Enggak hanya soal olahraga, tapi juga soal makanan-minuman yang di-positioning-kan sebagai makanan-minuman sehat. Misal, susu protein yang dijual di retail dan konon bisa bantu bentuk badan. Saya sebut konon karena seorang rekan mati-matian membantah kualitas produk tersebut. Ada juga susu dengan kandungan kalsium yang di-positioning-kan untuk memperkuat tulang sehingga mencegah osteoporosis.

Barusan, itu semua external perspective. Driver-nya adalah size ekonomi kita yang tumbuh dan melahirkan kelas menengah serta Orang Kaya Baru (OKB). BTW, jangan lupa baca tulisan-tulisan saya mengenai kelas menengah muslim ya :D Sekarang dari internal perspective (baca: kisah sejarah perolahragaan saya pribadi).

Bagi saya, dulu, yang namanya olahraga itu ya maen (sepak)bola. Bukan olahraga namanya kalo engga maen bola. Soalnya, maen bola itu menyenangkan. Dan olahraga itu harus menyenangkan. Kalo hanya lari saja dapat capek dan bosan, berarti itu bukan olahraga. Setidaknya itu definisi dan prinsip kuat yang selalu saya pegang dan bawa ke mana-mana. Hahaha. Nah berikut ini yang pertama dari saya mengenai tips berolahraga di rumah: jangan maen bola di dalam rumah.

Di kampus SMA saya yang fasilitas olahraganya banyak, mestinya minat olahraga tersalurkan. Hehe. Maklum, mulai dari lapangan sepakbola, basket, voli,hingga trek lari ada di sana. Jadi bisa bervariasi dari hari ke hari. Tapi itu mestinya doang. Karena tiap sore yang ada hanya malas semata. Lagipula lima hari dalam seminggu ada olahraga paginya. Apalagi semakin senior, akan semakin sibuk belajar. Kenyataannya hampir tiap hari maen bola di antara asrama no.2 dan asrama no.3.

Waktu kuliah, weekend lebih banyak sok sibuk berkegiatan di kampus. Ikut unit, himpunan, BEM, dan sebagainya. Awal-awal masa kuliah masih banyak yang diikuti. Makin akhir, makin sedikit dan berusaha fokus ke amanah (yang biasanya) semakin puncak dan semakin besar. Walhasil, jarang olahraga di akhir pekan. Sebagai bukti sejarah, saya nyatakan bahwa saya pernah opname karena sakit demam typhoid (baca: tipes).

Bosan di luaran, rumah tempat kita tinggal kembali menjadi alternatif tempat berolahraga. Dulu saya pribadi malas banget olahraga di rumah. Mulai dari push up, sit up, dan berbagai gerakan lainnya hanya one time spirit saja. Mau dimulai lagi seperti apa, selalu saja mentok ke satu kata: malas. Sampai akhirnya saya mulai download berbagai video dari YouTube dengan keyword “fitness”. Tidak sekedar unduh-simpan-lalu lupakan, saya mulai workout dengan gerakan panduan dari video. Ujung-ujungnya lalu kembali ke kata yang akrab dengan malas: bosan. Melihat para fitness trainer lama-lama membuat eneg juga. Mending duduk santai nonton unduhan “highlight pertandingan tadi malam” yang ga sengaja ke-download bersamaan :p

Dari sini, akhirnya saya beralih ke nonton customized-video para pesepakbola internasional: Zlatan Ibrahimovic, Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, Angel Di Maria, dan sebagainya. Topiknya bisa best goal, great skills, clever assists, dan seterusnya. Menontonnya menarik, musiknya juga berdentum-dentum pas dengan suasana olahraga yang diiringi. Beberapa hari ini, saya selalu berolahraga setiap pagi diiringi musiknya sambil menonton gambar bergeraknya. Jadi tips berolahraga di rumah adalah cari video dengan durasi waktu agak panjang, misal 20 menit. Jadi nontonnya puas, olahraganya juga puas. Mestinya ini bisa jadi jalan menjaga berat badan lah :D

Kota yang sehat itu punya ruang terbuka untuk berkumpulnya para warga masyarakat. Termasuk juga fasilitas lapangan olahraga dengan alat-alat olahraga di ruang terbuka. Macem beginian ternyata saya dapati di sekitar tempat maen di Rawamangun. Ini punya pemerintah daerah, jadi warga Jakarta Timur khususnya bisa menggunakan alat-alat tersebut yang konon gratis.. tis.. tis.. (masih konon karena saya sendiri belum sempat ke sana, masih suka sibuk di kantor) :D

Dipublikasi di personal journal | Tag , , | 1 Komentar

Area Sales Champion


Pertumbuhan usaha bisnis lewat pengembangan dan perluasan wilayah pemasaran tidak selamanya berjalan mulus. Salah satu kuncinya ada di tangan para Area Manager. Posisi inilah yang menjadi ujung tombak pemasaran dan penjualan di wilayah-wilayah. Bisa dikatakan, mereka adalah segelintir orang yang sangat menentukan naik turunnya keberjalanan dan pertumbuhan perusahaan tahun demi tahun.

Supaya berhasil, posisi area manager haruslah diisi oleh mereka yang “Juara”. Area Manager yang juara akan menghadirkan omzet dan profit dari tangan dingin mereka. Mau ditempatkan di manapun, area manager yang “Juara” akan berhasil mengelola dan memimpin pasukannya untuk meraih kejayaan pemasaran dan penjualan. Area Manager yang “Juara” mampu memberdayakan beragam infrastruktur yang telah diberikan oleh kantor pusat.

Selama kami melakukan training Area Manager di beberapa perusahaan dalam 2-3 tahun terakhir, akhirnya kami menemukan beberapa peran yang masih dan akan relevan dengan fungsi dan posisi Area Manager selaku penanggung jawab target penjualan di wilayah-wilayah. Ke depannya, 4 peran yang diharapkan dari Area Manager berikut ini adalah enabler ketika berhadapan dan bersiasat dengan pasar yang bertumbuh dan kompetisi yang kian sengit.

Leader
Area Manager harus berperan sebagai leader (pemimpin) dalam mengelola internal kantor cabang untuk menghadapi kekuatan eksternal (kompetitor & pasar). Rekan-rekan salesman yang dipimpinnya merupakan sumber daya yang harus dikelola secara benar dan efektif. Maklum saja, ujung tombak penjualan dari waktu ke waktu adalah para salesman yang harus dimotivasi dengan teknik yang tepat, sekaligus pengembangan budaya salesmanship yang kondusif.

Di samping itu, kinerja penjualan tiap-tiap salesman harus terus-menerus diawasi bersama dengan dukungan remunerasi yang memberikan dorongan positif. Kompensasi dan insentif yang diramu sedemikian rupa merupakan kunci menuju produktivitas penjualan. Mereka yang sukses menjalankan perannya ketika customer visit lalu membukukan penjualan, tentunya harus diganjar dengan kompensasi dan insentif yang setmpal.

Marketer
Area manager memiliki mindset sebagai seorang marketer yang menguasai strategi-strategi marketing. Di antaranya adalah Integrated Marketing Communication (IMC) untuk meningkatkan brand equity di wilayah tersebut, serta teknik-teknik sales promotion yang berujung pada naiknya hasil penjualan. Termasuk bila harus bersinergi dengan brand lain untuk mengeksekusi program-program Co-Marketing.

Marketer yang hebat itu seperti sniper (penembak jitu), bukan Rambo yang menghambur-hamburkan amunisi (budget) marketing. Makanya marketing sniper yang tangguh juga harus mampu melakukan SWOT Analysis keadaan di pasar/lapangan secara tepat. Dari analisis yang sudah tajam, baru diturunkan menjadi teknik-teknik IMC dan sales promotion yang relevan di area tersebut.

Salesman
Area Manager memiliki pemahaman dan kemampuan mengenai teknik-teknik sales (penjualan) untuk memenangkan pertempuran di lapangan. Sebab, medan pertarungan sesungguhnya adalah melalui penguasaan produk di ceruk-ceruk pasar yang tersedia. Sehingga, penguasaan ilmu Territory Management menjadi relevan dalam memenangkan kompetisi. Penggarapan wilayah penjualan menjadi lebih efektif dengan ilmu tersebut.

Secara vertikal, salesman “Juara” selalu mampu membangun dan menjaga hubungan dengan para pelanggan. Konsumen yang sudah dekat berakibat lahirnya loyalitas pembelian-pembelian berikutnya. Selama harga masih “masuk”, konsumen akan berpikir dua kali untuk pindah dari salesman yang sudah dikenal sejak lama. Lebih lanjut, biaya marketing dan penjualan akan lebih rendah dengan adanya pelanggan tetap.

Servant
Area Manager memiliki mindset sebagai servant (pelayan), sehingga dapat menjalankan fungsi “pelayanan” dengan baik kepada para salesman yang dipimpinnya maupun para pelanggan. Sebabnya tidak lain dan tidak bukan adalah persaingan yang semakin kompetitif. Bertarung di level fitur sudah sulit, karena semua pemain kini sudah mampu. Sehingga layanan menjadi alat baru untuk berbuat berbeda (different) sehingga tetap survive di pasar.

Para “Servant” biasanya memang memiliki niat yang tulus nan ikhlas untuk melayani berbagai kebutuhan pelanggan di internal (salesman) maupun eksternal (klien). Servant yang “Juara” itu seperti walikota Bandung, Ridwan Kamil. Pengabdiannya tidak kenal jabatan. Baik pegawai internal kantor walikota, maupun masyarakat umum dilayani olehnya dengan tulus ikhlas tanpa harap pamrih yang beraneka rupa. 

Dari peran-peran yang sudah terurai di atas, semakin kita pahami dan yakin bahwa Area Manager adalah tulang punggung perusahaan. Keberadaan mereka semakin krusial dengan pasar ASEAN yang tumbuh besar dan kompetitif mulai tahun 2015. Dan dengan memahami dan menghayati keempat peran di atas, Area Manager kini dapat memenuhi tanggung jawabnya serta mencapai targetnya: Area Sales Champion. Bravo, Area Manager Indonesia!!

Dipublikasi di strategi pemasaran | Tag , , | Tinggalkan komentar

Pekerjaan Konsultan IV


Basic-nya saya kira adalah karena konsultan menjual ide, maka ide itu harus diikat dalam bentuk tulisan atau gambar, atau keduanya. Tanpa satu atau keduanya, konsultan tidak meninggalkan apa-apa kepada kliennya. Deliverables itulah yang menjadi acuan bagi klien untuk dikerjakan di internal perusahaan, nantinya. Desainer (konsultan) interior atau arsitek misalnya; ide yang mereka jual harus didokumentasikan sebagai laporan ke hadapan kliennya. Tidak mungkin hanya dalam format vokal saja ketika presentasi.

Jadi, selain berbicara, membaca dan menganalisis (berpikir), menulis juga termasuk bagian penting dalam kompetensi seorang konsultan. Demikianlah hebatnya pekerjaan ini sehingga mungkin masih jauh masa di mana teknologi digital (misalnya, Big Data) mampu menggantikan pekerjaan konsultan. Implikasi lain dapat kita rasakan pada perhitungan pekerjaan konsultan yang lebih didominasi oleh perhitungan man hour atau man day. Kompetensi pribadi seperti ini biasanya memang jarang dimiliki dan oleh sebab itu pengupahannya juga berdasar jam atau harian.

Lebih lanjut, saya coba ungkapkan bagaimana cara menulis ala konsultan yang paling baik (sebatas yang saya tahu hingga saat ini). Jangan lupakan quote yang terkenal dari Sayyidina Ali “Ikatlah ilmu dengan menulisnya”. Maksudnya adalah agar ilmu-ilmu tersebut bisa kita akses/baca/dengar/latih kembali. Sekarang kita masuk ke tips-tips menulis yang sudah saya janjikan di atas.

Cara yang pertama adalah hindari kata atau kalimat yang tidak perlu. Every word/sentence must matters. Ini maksudnya agar seorang konsultan, yang direpresentasikan oleh tulisannya sendiri, tidak bertele-tele dalam menyampaikan gagasannya. Penjelasan tersebut tentu bisa ditulis panjang, tetapi karena ruang tulisan dan waktu pembaca sangat terbatas, sehingga konsultan harus memasukkan gagasan yang benar-benar penting saja. Coba cek bagaimana artikel-artikel Majalah Harvard Business Review (HBR) ditulis. Tidak ada kalimat yang tidak penting. Semua unsur kalimat menyusun paragraph menjadi satu kesatuan makna yang utuh. Hal ini berbanding terbalik dengan novelis. Penulis novel berupaya menghanyutkan pembacanya ke dalam alur tulisannya yang telah dibuat sepanjang mungkin dengan tujuan memberikan deskripsi yang detil terhadap tulisan novel itu sendiri.

Sebagai acuan, kita dapat menganut ajaran Barbara Minto, konsultan dari McKinsey. Barbara mengajarkan hukum tiga, yakni gagasan yang tidak kurang dari tiga buah tetapi juga tidak boleh terlalu banyak. Menurut Barbara, 7 poin saja sudah terlalu banyak sehingga akan sulit untuk diingat. Sehingga jumlah 3-5 kiranya adalah jumlah yang tepat. Sebab, gagasan yang terlalu sedikit cenderung kurang kokoh (robust) tetapi gagasan yang terlalu banyak justru akan membingungkan pembaca dan penggunanya. Ujung-ujungnya, kebingungan akan menyebabkan eksekusi yang tidak sempurna. Seringkali pekerjaan konsultan adalah membuat sesuatu yang kompleks menjadi lebih sederhana, tetapi tanpa menghilangkan esensi-esensinya sama sekali.

Yang kedua, nama dan pekerjaan seorang konsultan sudah dipertaruhkan sejak awal, sejak ketika namanya menjadi bagian dari tulisan/gambar tersebut. Kredo yang tepat untuk mengilustrasikan ini adalah, Your name is on the line. Karena sejak nama konsultan tersebut tertulis di halaman depan laporan atau artikel Koran/majalah itulah, dia akan mempertaruhkan nama baiknya sendiri atas kualitas gagasan/riset yang telah dia lakukan dan menjadi dasar dari usulan-usulan dia. Baik usulan kepada klien maupun kepada masyarakat umum. Mengambil contoh konsultan manajemen, tidak heran bila tenaga-tenaga ahli tersebut sangat terbatas jumlahnya dan cenderung mengenal satu sama lain. Tidak lain dan tidak bukan adalah karena tanggung jawab besar yang memang tidak semua orang sanggup memikul beban kerja sebagai konsultan.  

Tantangan berikut yang terbesar adalah dalam menyusun tulisan / gambar yang speak for itself. Maksudnya adalah tanpa dijelaskan secara langsung pun, mereka yang membacanya dapat memahami dengan sendiri. Terus terang ini tidak mudah, dan skill ini yang masih terus diasah setiap waktu oleh para konsultan. Di sisi lain, dokumen yang sama juga harus “cantik” untuk dipresentasikan. Jadi bukan dokumen proposal/laporan yang padat dengan kata-kata sehingga “menyakitkan mata” tapi juga bukan sekedar tabel dan gambar yang multiinterpretatif dan sulit dipahami oleh pembaca dokumennya.

Tulisan/video di media massa yang mudah dipahami oleh pembaca. Saya kira situs berbagi video seperti YouTube termasuk ke dalam media yang dijangkau oleh massa luar biasa banyak. Sehingga bahasa yang digunakan harus dalam tingkat yang mudah dipahami. Salah satu ukuran kemudahan dipahami adalah kosakata yang “speak for itself”. Saya tegaskan demikian karena memang begitu pentingnya frase ‘speak for itself” ini.

Demikian uraian singkat ini. Semoga bermanfaat.

Dipublikasi di personal journal | Tag | Tinggalkan komentar

Komunitas: Driver Pasar Muslim


Melalui riset pada bulan April-Mei 2014 terhadap konsumen kelas menengah muslim, kami memperoleh satu temuan penting yaitu adanya spiritual value yang kini turut mempengaruhi pengambilan keputusan kelas menengah muslim dalam berbelanja dan mengonsumsi. Spiritual value adalah berbagai nilai-nilai keislaman yang mempengaruhi konsumen kelas menengah muslim dalam melakukan berbagai kegiatan belanja dan konsumsi.

Ada beragam contoh spiritual value yang kami temukan melalui riset tersebut. Di antaranya adalah:  (1) ketenangan jiwa, (2) perasaan dekat dengan Sang Pencipta, (3) menemukan kepasrahan dan keikhlasan hidup di dunia, atau (4) keyakinan kelak masuk surga berkat investasi amalan-amalan ibadah yang sudah ditanamkan di dunia. Spiritual value memberikan pengaruh besar dalam pergeseran pola konsumsi kelas menengah muslim. 

Yang membuat temuan ini semakin menarik adalah, bahwa konsumen kelas menengah yang kini semakin knowledgeable serta semakin technology-savvy kini justru semakin mencari manfaat spiritual (spiritual benefit) dari produk/layanan yang mereka pilih, beli dan konsumsi. Kami menengarai konsumsi produk dan jasa adalah bagian dari kegiatan ibadah dalam rangka mentaati perintah-perintah Tuhan dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

Jadi, sudah ada niat konsumen untuk melaksanakan amalan ibadah yang diintegrasikan ke dalam pengambilan keputusan belanja, proses belanja itu sendiri hingga bagaimana barang atau jasa tersebut dikonsumsi. Khususnya produk dan jasa yang telah menjalankan kepatuhan (compliance) terhadap nilai-nilai Islam. Hal ini berlaku untuk produk makanan dan minuman halal, busana muslim/muslimah, kosmetik halal, jasa keuangan syariah, ibadah haji/umrah, dan lain sebagainya.

Secara inheren, ini merupakan wujud keimanan kepada Tuhan. Atas dasar kesamaan tujuan (shared purpose) mentaati perintah-perintah Tuhan dan menjauhi larangan-larangan-Nya inilah yang kemudian menjadikan kaum muslim sebagai sebuah komunitas yang besar. Tak ayal, pendekatan komunitas adalah strategi yang paling tepat dalam menggarap pasar muslim. Berikut adalah beberapa format komunitas muslim dengan fondasi spiritual value yang kami temukan selama meriset kelas menengah muslim:

Komunitas Hijabers. Berhijab itu keren tidak hanya dikarenakan oleh desain hijab itu sendiri yang modern, tapi juga karena kegiatan berkomunitas para hijabers itu sendiri memang terbilang cool. Mereka tidak lagi mengisolasi diri dengan kegiatan agama semata (eksklusif), melainkan juga berbagai kegiatan di beragam lapangan kehidupan (inklusif). Semisal pengajian, kewirausahaan, pameran busana muslim, arisan, talkshow pengetahuan umum, kegiatan amal sosial, tutorial hijab, dan sebagainya. Beragamnya kegiatan komunitas menjadi daya tarik bagi para hijabers untuk berekspresi diri tanpa meninggalkan kehidupan religius.

Komunitas Pengajian. Tidak sedikit orang melakukan ibadah umrah secara berkelompok dengan teman-teman di komunitas pengajian. Hal ini dilakukan agar anggota kelompok pengajian itu bisa melakukan ibadah umrah secara bersama-sama dan dibimbing oleh sang ustadz yang sudah dikenal dan biasa kerap mengisi pengajian di kelompoknya. Dengan beribadah ramai-ramai dan dibimbing oleh ustadz yang dikenalnya, para anggota komunitas pengajian ini pun merasa nyaman dalam melakukan perjalanan dan ibadahnya.

Komunitas Halal. Semangat dari berbagai komunitas halal sebenarnya sama, yaitu berbagi informasi sekaligus mengedukasi masyarakat mengenai konsep halal. Komunitas halal ini menjadi medium yang ampuh dalam mengampanyekan makanan halal. Ada spiritual connection yang menghubungkan antara seorang muslim dengan muslim yang lain. Yaitu, perasaan bersaudara di kalangan umat Islam menjadikan mereka berkewajiban untuk saling mengingatkan dan melindungi, termasuk dalam hal mengonsumsi makanan yang halalan thayyiban (halal dan yang baik). Ini adalah wujud perasaan senasib-sepenanggungan kepada sesama saudara seiman.

Jenis-jenis komunitas di atas selain berperan ciamik dalam melakukan pendekatan marketing, ternyata juga sangat tepat dalam meningkatkan penjualan dari produk atau jasa tertentu. Semisal komunitas pengajian yang tepat untuk jasa travel umroh. Selain komunitas sebagai marketing approach  terhadap pasar muslim, ada beberapa format lain yang turut mempengaruhi dinamisnya pasar muslim saat ini. Di antaranya adalah artis dan dai, serta majalah fesyen hijab.

Artis dan dai sebagai role model. Kisah inspiratif dan kepercayaan diri para artis papan atas mengenakan hijab itu menjadi alasan penguat konsumen muslim, khususnya kaum hawa untuk mengenakan hijab. Seperti Fatin, Dewi Sandra dan Inneke Koesherawati. Ketiganya kini bahkan berperan sebagai brand ambassador yang kerap menghiasi iklan-iklan fesyen muslim atau kosmetik halal. Meski bulan Ramadhan telah berlalu, format role model masih relevan.

Majalah fesyen hijab semakin ngetren. Dengan maraknya terbitan majalah dengan segmen para hijaber, maka hal ini menandakan banyaknya jumlah pembaca terhadap majalah-majalah itu. Sebagian besar isi majalah fesyen muslim memaparkan berbagai perkembangan hijab yang saat ini sedang digandrungi oleh konsumen dan menampilkan foto model atau artis dengan mengenakan hijab terbarunya.

Konsistensi pasar muslim tidak lagi hanya marak selama bulan Ramadhan saja, tetapi hingga seterusnya di sepanjang waktu. Hal ini disebabkan oleh keberadaan spiritual value sebagai value baru yang hadir di tengah-tengah konsumen muslim, serta tumbuh kembangnya beragam komunitas dengan basis spiritual value ini yang dapat menjadi pijakan bagi para marketer dalam mentarget serta menggarap pasar muslim. Seperti tagline yang kami kemas dalam buku terbaru kami, “kenali perubahannya, pahami perilakunya, petakan strateginya”.

Dipublikasi di strategi pemasaran | Tag , , | Tinggalkan komentar

Pasar Makanan Halal


Jumat (11/7) pekan lalu, kami dan teman-teman Komunitas Memberi (@MemberiID) mengadakan launching buku kami terbaru berjudul “Marketing to The Middle Class Moslem” (Gramedia Pustaka Utama, 2014). Buku ini disusun berdasar insight yang kami peroleh selama melakukan riset selama enam bulan terakhir dengan responden kelas menengah muslim. Banyak respon menarik yang kami dapatkan dari para peserta book launching tersebut yang berlangsung di PPM School of Management, Menteng. Salah satu yang paling menarik perhatian adalah mengenai makanan halal. 

Topik ini kami angkat dalam riset karena beberapa waktu lalu karena kami menemukan bahwa total nilai pasar gaya hidup muslim di Indonesia kurang lebih mencapai US$ 235 miliar (2012) menurut DinarStandard. Pasar ini memiliki cakupan yang cukup luas, meliputi makanan dan minuman kemasan, makanan yang disajikan di hotel, restoran atau warung, hingga obat-obatan dan jamu. Pasar makanan halal ini menjadi kian mencorong ketika kita menyaksikan kecenderungan konsumen muslim Indonesia yang semakin religius dan peduli untuk mengonsumsi makanan-makanan yang halal.

Peduli Halal
Konsumen muslim kini tidak hanya mencari kemanfaatan fungsional dan emosional dari produk makanan, tetapi juga manfaat spiritual, yaitu seberapa jauh produk tersebut mengikuti nilai-nilai yang sudah digariskan oleh Islam. Hal ini disebabkan konsumsi makanan dan minuman halal merupakan bentuk kepatuhan kelas menengah muslim pada nilai-nilai Islam yang juga merupakan investasi untuk kehidupan akhirat.

Dengan semakin teredukasi dan open minded-nya konsumen muslim, kami memprediksi bahwa pemahaman terhadap prinsip halal nantinya akan semakin substantif. Mereka memahaminya tak hanya melulu normatif, yaitu sebatas menjalankan perintah agama, tapi lebih jauh lagi dalam rangka betul-betul mencari kemanfaatan yang bersifat universal. Dengan pemahaman yang lebih universal ini kami meyakini label halal nantinya akan memiliki citra yang tidak hanya positif, tapi juga bergengsi tak hanya di kalangan produsen tapi juga konsumen.

Informasi Halal
Perkembangan informasi yang kian cepat dan melimpah turut meningkatkan pemahaman kelas menengah muslim akan makanan dan minuman halal. Kini misalnya, mulai banyak program televisi yang secara khusus menayangkan informasi mengenai produk dan makanan halal. Program ini biasanya dilatarbelakangi oleh banyaknya pertanyaan pemirsa yang mampir di meja redaksi, yakni seputar makanan halal.

Selain televisi, media sosial juga menjadi information channel yang kian mendongkrak kesadaran halal konsumen muslim. Media sosial telah menjadi medium terbuka untuk bertanya, memberi informasi, dan mendiskusikan berbagai topik mengenai makanan dan minuman halal. Harus diingat bahwa kelas menengah muslim itu sudah modern, sehingga kehadiran teknologi digital yang baru justru akan dimanfaatkan untuk berbagi dan berkomunikasi mengenai kehalalan suatu produk.

Kepo Halal
Temuan kami berikutnya dari kelas menengah yang notabene knowledgeable adalah makin kritisnya mereka terhadap kehalalan suatu produk. Berbagai upaya dilakukan untuk mengetahui status halal suatu makanan atau minuman. Contohnya adalah mengecek label halal LPPOM MUI ketika akan memilih dan membeli suatu produk. Bila belum menemukan logo halal, yang berikutnya dilakukan yaitu mencari informasi di internet. Sebagaimana tersampaikan sebelumnya, bahwa kelas menengah dapat bertanya dan mencari tahu status halal makanan atau minuman melalui media sosial.

Tidak hanya label halal saja yang ingin diketahui oleh konsumen kelas menengah muslim, tapi juga bagaimana proses produksi dan pengolahan makanan, serta jenis bahan-bahan yang digunakan. Kami lebih senang menyebut fenomena ini dengan “kepo halal”, yang tidak lain adalah singkatan dari knowing every particular object, khusus produk-produk halal. Tak mengherankan jika kini produsen makanan dan minuman di berbagai kategori berlomba-lomba mendaftarkan produknya untuk mendapatkan label halal.

Komunitas Halal
Di samping identik dengan knowledgeable, kelas menengah juga identik dengan koneksi sosial (social connection) yang tinggi. Dalam konteks makanan halal, hal ini berimpak pada lahirnya komunitas-komunitas yang berpusat pada isu-isu kehalalan. Semangatnya sama, yakni berbagi berbagi informasi sekaligus melakukan edukasi pada masyarakat mengenai konsep halal. Selain aktif di media sosial, komunitas-komunitas ini juga getol melakukan “kopi darat” alias bertemu tatap muka.

Karena kekuatan online dan offline-nya, komunitas kemudian menjadi medium yang sangat ampuh untuk mengedukasi dan mengampanyekan makanan halal. Adanya perasaan bersaudara di kalangan umat Islam menjadikan mereka berkewajiban untuk saling mengedukasi, mengingatkan dan melindungi, termasuk dalam hal mengonsumsi makanan halalan thayyiban (yang halal dan yang baik). Fokus komunitas-komunitas halal ini untuk mengejar manfaat-manfaat spiritual, yakni menebar kebaikan dan mencari pahala melalui distribusi informasi terkait halal.

Pekerjaan rumah (PR) terbesar bagi para pemasar saat ini adalah bagaimana pintar-pintar mengenali berbagai perubahan ini di kelas menengah muslim. Perubahan-perubahan tersebut harus dipahami pada tingkatan (level) perilaku. Dari sini, strategi yang tepat kemudian dapat dipetakan untuk mentarget dan menembak segmen muslim. Ayo marketer Indonesia, kita harus cepat berubah untuk memenangkan persaingan ini!!

Dipublikasi di strategi pemasaran | Tag | Tinggalkan komentar

Mewujudkan Mimpi Kebebasan Finansial


Potensi besar pasar kelas menengah muslim Indonesia memang tidak main-main. Penduduk muslim berjumlah hampir 90%. Kegairahan peradaban muslim juga terjadi di berbagai bidang: finansial syariah, fesyen hijab, seni & budaya, makanan halal, travel umrah/hajj. Sebagai bagian dari menyemarakkan potensi besar ini, kami dari Inventure, CMCS (Center of Middle Class Studies) dan Majalah SWA akan menyelenggarakan konfereksi terkait moslem middle class ini. Jangan lupa, waktunya adalah Selasa, 15 Juli 2014. Bertempat di Hotel Intercontinental. Salah satu yang menarik untuk kita cermati adalah bagaimana industri asuransi dan investasi syariah semakin berkibar bersama segmen kelas menengah muslim. Asuransi sebagai alat proteksi, dan investasi sebagai alat memajukan ekonomi keluarga. Keduanya merupakan buah dari makin meleknya kelas menengah akan produk-produk keuangan. Terlebih, sudah ada discretionary income (pendapatan berlebih) yang dapat digunakan untuk membeli kedua jenis produk tersebut. Kedua produk tersebut merupakan jalan bagi kelas menengah dalam mewujudkan mimpi-mimpi kebebasan finansial (financial freedom). Berikut ini adalah temuan-temuan kami bagaimana kelas menengah muslim memberikan respon yang berbeda, untuk produk asuransi maupun investasi yang patuh dengan nilai-nilai Islam (syariah). Asuransi Takaful Secara muamalah (hubungan antar manusia yang diajarkan menurut Al Quran), takaful berarti saling memikul risiko di antara sesama muslim sehingga yang satu berperan sebagai penanggung jawab atas risiko bagi yang lain. Asuransi takaful dijalankan dengan akad tabarru’ yang prinsipnya adalah ta’awun yaitu tolong-menolong. Dengan begitu sesama muslim dapat meringankan berbagai bencana yang dialami oleh mereka yang tergabung dalam grup asuransi syariah. Unit Link Terfavorit Selain asuransi, ada juga produk unit link yang kian menjadi favorit di mata kelas menengah muslim. Produk ini merupakan produk unggulan pilihan nasabah, khususnya bagi mereka yang ingin mendapat dua manfaat sekaligus, yakni manfaat asuransi dan investasi. Dengan premi yang ditawarkan, memperoleh dua manfaat sekaligus berarti membeli produk yang dibundel dengan produk lainnya. Kelas menengah muslim yang hypervalue-oriented sangat memperhatikan value apa saja yang diterima setelah membayar sejumlah price. Jadi unit link memang lebih menarik karena berfungsi asuransi dan investasi. Tidak perlu melakukan pembelian produk asuransi dan produk investasi secara terpisah. Unit link syariah adalah alternatif bagi kelas menengah muslim. Dengan menghindari unsur-unsur gharar, maisir, riba, haram, dan bathil, insya Allah mereka akan beroleh ketenangan hati dan pikiran. Sebagian dana sisa dari premi kemudian ditempatkan ke berbagai instrumen investasi yang lain, terutama instumen investasi berbentuk surat berharga. Contohnya adalah saham (yang pengelolaan perusahaannya harus syar’i), reksadana syariah (reksadana tanpa portfolio obligasi yang mengandung riba), ataupun sukuk (suatu obligasi syariah). Keuntungan investasi dibagi dua antara pemilik dana dengan perusahaan selaku pengelola dana nasabah. Dari Tradisional ke Modern Generasi terdahulu berinvestasi melalui emas dan properti yang unggul dalam hal kenaikan imbal hasil. Memiliki rumah utuh untuk dikontrakkan kepada keluarga atau kos-kosan untuk dikontrakkan kepada mahasiswa merupakan impian mereka. Perbedaannya adalah generasi kelas menengah yang lebih knowledgeable mulai mengenali instrumen investasi yang lebih modern seperti saham, reksadana, atau obligasi. Instrumen modern ini adalah solusi alternatif bagi kelas menengah muslim dalam berinvestasi. Keunggulannya adalah harganya yang relatif terjangkau dan dapat dimulai dengan nominal kecil. Bahkan bisa dilakukan dengan dana kurang dari 1 juta perak. Investasi modern cenderung membutuhkan kemampuan lebih dalam mengukur risiko. Prinsipnya standar: high risk high return. Jadi meski risikonya lebih tinggi dibanding emas atau properti, tetapi mereka yang berinvestasi di surat berharga ternyata juga memiliki kemampuan yang baik dalam mengukur risikonya. Investasi Syariah Nan Riil Selain di sektor finansial, kalangan kelas menengah muslim juga melakukan investasi riil. Pertama yang favorit adalah investasi penggemukan sapi atau kambing. Captive market-nya sudah jelas. Bila musim kurban (hari raya Iedul Adha) tiba, komoditi ini hampir pasti laku terjual. Karakteristik permintaan dari sapi dan kambing menjadi alasan utama bagi mereka yang berinvestasi syariah seperti ini. Ada pula yang menawarkan investasi kos berjamaah. Artinya bersama-sama membangun rumah kos untuk mahasiswa atau karyawan kantor. Selain unsur bagi hasil, faktor syariah yang menjadi penarik investor kos jamaah biasanya adalah tidak mencampur jenis kelamin penghuninya. Cukup perempuan saja, atau cukup lelaki saja yang menjadi penghuni. Berbagai produk asuransi dan investasi syariah di atas untuk mencapai satu tujuan: mimpi kebebasan finansial. Di samping adanya kegelisahan akan masa depan, kelas menengah muslim juga punya impian-impian besar yang tidak dapat terwujud dengan hanya satu bulan penghasilan. Misal: rumah besar, mobil baru, dst. Sehingga asuransi dan investasi sebagai instrumen keuangan digunakan secara maksimal untuk mewujudkan tujuan-tujuan keuangan tersebut.

Dipublikasi di strategi pemasaran | Tag , | Tinggalkan komentar