Pilih Manajemen Keuangan atau Manajemen Pemasaran


Dalam artikel terdahulu, saya menyampaikan alasan-alasan mengapa memilih program studi manajemen. Lalu, setelah sudah di dalam, kamu mau fokus ke konsentrasi yang mana? Pertimbangannya bisa karena apa yang kamu sukai, atau bidang pekerjaan yang ingin kamu tekuni nanti.

Ada beragam pilihan, tergantung bagaimana kampus kamu memetakan konsentrasi-konsentrasi tersebut. Yang paling sering saya temui adalah pengelompokan konsentrasi berdasar: marketing, finance, human resources, dan operation. Bagi saya, human resources dan operation itu agak rumit. Jadi kita bahas yang konsentrasi marketing dan finance aja ya :D

Kalau marketing, enak dipelajari. Apalagi studi-studi kasusnya itu, lho. Baik yang berhasil (bisa kita tiru dan modifikasi), atau yang gagal (supaya kita bisa hindari). Bidang pekerjaannya tentu saja di direktorat marketing dan sales. Dulu di kampus saya mata kuliah yang sering dibuka adalah brand management, service marketing, dan customer behavior.

Kalau finance, sebenarnya sama rumitnya. Tetapi saya kira ini penting untuk saya pahami (secara pribadi). Mata kuliah yang dibuka biasanya investment project analysis, risk management, dan capital market. Kalau tertarik berkarir di bidang keuangan, bisa berkarya di perbankan, asuransi, atau perusahaan investasi. Bisa juga bekerja di fungsi-fungsi tersebut, terutama treasurer (bendahara).

Lalu, bagaimana dengan saya? Saya menilai untuk marketing bisa saya pelajari sendiri. Sebab sejak bertahun-tahun sebelumnya saya sudah membaca tentang marketing, khususnya buku-buku populer mengenai marketing. Akhirnya saya mengambil 3 mata kuliah pilihan di konsentrasi finance dengan tugas akhir (tetap) di konsentrasi marketing.

Saat ini, saya sendiri sekarang aktif bekerja di sebuah konsultan pemasaran. Mudah-mudahan artikel pendek ini bermanfaat untuk kamu yang bimbang menentukan pilih manajemen keuangan atau manajemen pemasaran.

Dipublikasi di kuliah | Tag , , | Tinggalkan komentar

Menanggapi Kenaikan BBM


Tadi malam (17/11/2014) pukul 22.00, Presiden Jokowi mengumumkan kenaikan bahan bakar minyak (BBM). Untuk solar menjadi Rp7.500,- dan premium menjadi Rp8.500,. Menanggapi Kenaikan BBM ini, mari kita jadikan peristiwa ini sebagai sebuah studi kasus.

Dalam TOWS analysis, situasi seperti kenaikan BBM ini dimasukkan ke dalam kelompok threat (ancaman) dari lingkungan eksternal. Artinya, adalah kita harus melakukan tindakan antisipatif terhadap ancaman-ancaman semacam ini yang mungkin dapat meluluhlantakan bisnis kita.

TOWS analysis ini biasa menjadi bagian dari rapat besar mengenai strategi dan taktik perusahaan ke depan. Range waktu yang digunakan antara 1-3 tahun ke depan. Tentu ini menyesuaikan dengan seberapa cepat perubahan-perubahan terjadi di lingkungan usaha perusahaan anda.

Pasar (yang terdiri dari perusahaan kita, para pemain, dan para kompetitor) tidak akan bersikap wait and see menanggapi threat kenaikan BBM ini. Harga jual produk akan menyesuaikan dengan marjin laba yang ditargetkan dan persentase kenaikan barang modal. Tentu saja para kompetitor juga akan berpikir yang sama. Penyesuaian pasar terjadi sejak h+1 hingga 3 bulan ke depan.

Bagi yang sudah menyiasati kemungkinan ini dengan lebih strategis, harga-harga jual dinaikkan terlebih dahulu di awal tahun 2014. Satu pertimbangan paling utama dari yang sudah menaikkan harga jual adalah adanya pergantian kepemimpinan nasional, baik dalam kategori eksekutif (pemerintah yang dipimpin oleh presiden hasil pemilu langsung) maupun kategori legislatif (policy dari parpol pemenang pemilu yang menguasai parlemen).

Seorang rekan di kampus dahulu menyatakan rata-rata kenaikan harga di kisaran 5%-10%. Dan di hari kedua kenaikan BBM, harga-harga mulai menyesuaikan. Cabe, bawang, sayur-sayuran di pasar tradisional sampai ongkos angkutan umum sudah menaikkan harga. Nah, menyikapi informasi seperti ini, apa yang bisa kita lakukan kemudian?

Business is about surviving in the long competition but winning in every stage of it.

Menanggapi kenaikan BBM ini memang susah-susah gampang. Karena berimpak pada target marjin laba dan harga jual yang harus tetap kompetitif. Bila brand sudah kuat, harga yang tinggi tidak akan dipermasalahkan oleh our new & existing customer. Inilah pentingnya membangun brand sejak awal. Posisi merek yang kuat akan membuat klien bergantung pada bisnis kita.

Nah, bagi yang belum mempersiapkan diri sejak awal tahun 2014, mulai meraba-raba cost structure yang baru. Tidak hanya struktur biaya untuk produk saja, tetapi juga marketing budget yang komponennya sudah masuk ke dalam struktur biaya setiap produk/layanan. Prediksi saya, tidak semua langsung mencantumkan harga baru. Adakalanya mereka menunggu hasil riset yang lebih valid dari lembaga kredibel lalu merumuskan harga hasil penyesuaian.

Yang paling penting adalah cash perusahaan atau budget per produk/layanan yang harus dijaga. Cash jadi penting sambil melihat-lihat situasi, lha. Kira-kira akan seperti apa formula struktur biaya utama (biaya tetap & variabel), marjin laba, harga jual, biaya komunikasi pemasaran, biaya pengiriman barang (distribusi), dsb.

Dipublikasi di strategi pemasaran | Tag , , | Tinggalkan komentar

Menikah


Bagaimana sepasang manusia akan menikah tanpa aturan agama, padahal semua rukun nikah itu diatur oleh agama?! (1) pengantin pria (2) pengantin wanita (3) wali pengantin wanita (4) dua orang saksi lelaki (5) ijab dan qabul.

Betapa egoisnya orang yang mau menikah dengan prosesi agama tapi tidak ikuti aturan agama dalam mencari jodoh. Ingat lagi cara mencari jodoh: karena hartanya, karena nasabnya (keturunannya), karena kecantikannya dan karena agamanya. Maka utamakan memilih istri karena agamanya. (H.R. Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud)

Oleh karena itu, meninggalkan aturan agama dalam pernikahan adalah absurd. Ikuti panduannya sejak mencari jodoh, hingga pelaksanaan akad dan resepsi.

Orang yang sudah menikah juga disebut sudah menggenapkan separuh diin. Ini tidak main-main. Separuh agama ini digenapkan dengan menikah. Bagaimana kalau seorang Muslim menikah tanpa agama?

Dalam Islam, sampai kapan pun orang tua memiliki hak atas anak-anaknya. Tidak ada yang ‘jalan sendiri-sendiri’. Silaturahmi ke orang tua (sendiri dan mertua) harus dirutinkan. Apalagi ketika orang tua masih ada. Oleh karena itu, pernikahan pada hakikatnya bukan perjanjian antara 2 insan saja, melainkan juga 2 keluarga.

Apa ikatan yg lebih kuat daripada agama? Nah, itulah sebabnya pernikahan tdk mungkin dilakukan tanpa agama.

Selain itu, dalam Islam, pernikahan sejak awal sudah harus mempertimbangkan adanya keturunan. Memang fitrah manusia menghendaki keturunan, dan jalan sah utk mendapatkannya hanya pernikahan. Jangan DINKs (double income no kids), yaitu menikah tetapi tidak berharap hadirnya keturunan.

Tapi janganlah menjadikan keturunan sebagai beban. Keturunan semestinya menjadi pemicu semangat untuk bekerja lebih giat lagi. In shaa Allah, turut berkontribusi lewat penambahan jumlah segmen pasar (baca: menambah anggota keluarga) juga berarti menambah rezeki keluarga.

Akan tetapi, tidak wajar jika seorang Muslim membiarkan begitu saja anggota keluarganya menjadi mangsa api neraka. Silakan cek QS. 66:6 utk melihat pesan Allah SWT agar kita menjaga anggota keluarga kita dr neraka.

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (QS.66:6)

Semoga Allah SWT melindungi kita dan keluarga kita dr kekafiran, aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin…

(sebagian tulisan di atas merupakan tweets dari kang @malakmal). Semoga beliau keep inspiring.

Kalau mau nyambung-nyambungin menikah sama marketing juga bisa lho. :D Kita pake STP (segmenting-targeting-positioning) ya. Jadi pasarnya (baca: calon-calon suami/istri) kita bagi dulu ke dalam segmen-segmen. Kalau sudah pilih yang dimaui, berarti targeting udah selesai. Tinggal positioning nih. Cek ke diri kamu ya. Apakah ‘posisi’ kamu udah pas sama ‘posisi’ dia? hehehe :D

Cek juga blog teman saya ini, katanya “menikah itu ibarat mengerjakan TA (tugas akhir)”. Jadi ada latar belakang & tujuan, sistematika, landasan teori, metodologi, pengumpulan & analisis data, hingga kesimpulan. (weekkk banget ya per-ibarat-annya :p )

Single dalam konteks bisnis dan ekonomi itu memang oke. Cek artikel “singlenomics” ini untuk pemahaman lebih mendalam. Bagaimanapun juga, kasihan para jomblo ini. Duit udah punya, tapi pasangan belum punya :p *ngeledek mode ON* :D Mudah-mudahan mereka bisa segera menikah dalam waktu dekat. *teteup ngadoakeun*

Dan jangan bosan bila ditanya, “kapan? kapan? kapan?” karena sebenarnya itu adalah doa dari mereka agar kamu segera dan menyegerakan menikah. *diplomatis dikit* :p Jangan lupa untuk menindaklanjutinya dengan kosakata penutup yang termasyhur itu: “aamiin..:)

Pas masih single nan jomblo, saya juga udah pernah tulis tentang ‘menikah’, lho. Boleh cek di mari.

sumber gambar: http://sukmadyu.wordpress.com

Dipublikasi di personal journal | Tag , , | Tinggalkan komentar

7 skill yang diperlukan profesi PR sejak sekarang


Digital revolution yang terjadi di sekitar kita, menuntut kita untuk sadar, mempelajari, dan beradaptasi dengan perubahan. Termasuk para pelaku public relations (PR) yang harus sadar, mempelajari dan beradaptasi agar tetap relevan dalam bidangnya. Saya merumuskan ada 7 skill yang harus dimiliki praktisi PR saat ini.

1. Advertising Copywriting
Skill ini maksudnya adalah kemampuan menulis editorial, press release, bahkan merumuskan pilihan kata-kata untuk materi iklan (advertising). Social media kita sangat menuntut kemampuan tersebut dalam era terkini. Kecepatan delivery dan keakuratan materi harus jadi kemampuan karena kita bersaing dengan banyak pihak berebutperhatian target audience.

2. Foto dan Video Production/Editing
Kadangkala jenuh dengan tulisan, target audience perlu kita kirimi juga dengan format yang lain. Misal foto/gambar atau video. Skill yang diperlukan adalah production sekaligus editing kedua jenis materi tersebut. Aplikasi seperti camera 360 bisa sangat membantu editing materi foto untuk keperluan PR kita.

3. Mobile
So far, kebutuhan target audience kita baru sebatas informasi paling real time dan langsung dari tempat kejadian. Sejauh ini, punya akun twitter sudah cukup mengakomodasi kebutuhan tersebut. Tweet mampu memuat gambar dan link dalam space yang relatif cukup (160 karakter) untuk kita sampaikan ke target audience.

4. Storytelling
Bombardir 1 pesan khusus (apalagi sekedar jualan) bukan jamannya lagi. Keutuhan cerita jadi kebutuhan target audience. Pertanyaan seperti kenapa, mengapa, bagaimana dst justru semakin relevan di era digital ini. Storytelling skill ini adalah salah satu skill tradisional yang makin dibutuhkan dari profesi PR saat ini.

5. Analytics
Minimal, ketahuilah apa yang menyebabkan pengunjung website menjadi tinggi? Atau apa yang menyebabkan jumlah follower/friend meningkat pesat? Website dan social media adalah marketing channel terkini yang tidak bisa lagi kita abaikan. Selain harus rajin buat dan posting konten, kita wajib mampu melakukan analisis di balik hasil akhirnya.

6. SEO
Menulis di internet jelas berbeda dengan menulis di media tradisional seperti koran. Pengunjung website atau akun socmed cenderung tidak membaca banyak. Mereka perlu yang singkat dan padat, serta punya keyword yang relevan. That’s it. Sebab itu menulis yang search-able di internet jadi penting.

7. Blogger Relation
Jumlah blog semakin bertambah. Meski ada yang kemudian sirna, jumlahnya tetap lebih sedikit dari yang dilahirkan. Dan masing-masing seringkali fokus ke kategori tertentu. Misal blog ini yang lebih banyak fokus ke marketing strategy. Maka dari itu relasi dengan para blogger akan meningkatkan relationship with brand yang lebih baik lagi dengan target audience.

Ilustrasi gambar dari http://prezly.com

Dipublikasi di public relation, strategi pemasaran | Tag , , | Tinggalkan komentar

Mini Drama AADC – LINE – Sedikit Komentar Saya


Sebagai anak beranjak gede yang hidup di jaman mewek era Rangga yang harus berpisah dengan pujaan hatinya bernama Cinta (halah), promo fitur “Find Alumni” dari LINE ini kena banget buat saya. Ini film emang pas banget. Emang gw banget.

Di samping karena saat itu cerita cinta dalam film ini menjadi secercah harapan baru akan film Indonesia yang mati (iya, saat itu film-film bukannya engga ada, tapi kualitasnya engga banget dibanding film yang satu ini. Alasan finansialnya emang ada, tapi kali lain saya ceritakan ya), film ini juga menimbulkan tanda tanya besar bagi saya (dan mungkin banyak orang. Asal main klaim. hehehe)

Kirain bakal ada sekuel-nya atau gimana gitu ya versi layar lebarnya. Eh ternyata cuma ada versi sinetron. Itu pun ga bagus-bagus banget saya kira. Setelah tiada gosip, pun bertahun-tahun kemudian memang tidak pernah dimunculkan kembali film yang “akan kembali dalam satu purnama” itu :p

Nah, back to the “marketing” topic.

Sukses LINE mem-viral-kan fitur barunya tiada lain dan tiada bukan adalah berkat kesan mendalam yang pernah dirasakan oleh generasi AADC (sebut sajalah demikian ya). Jadi kesan yang pernah hilang itu muncul kembali berkait mini drama ini. Meski hanya 10 menit, tapi alur ceritanya memang pas banget untuk mengenang kembali sekaligus me-“reuni”-kan “mereka” yang sempat terpisah (halah bahasa gw :D )

Dan social media memang tempat untuk hal-hal semacam itu (baca: mengenang dan reunian). Social media itu kan “media” untuk ber-“social”. Karena formatnya yang digital, maka yang lalu-lalu bisa kita “temukan” kembali di masa kini. Teman SD yang dulu pindah pasca lulus, eh ternyata ketemu lagi di facebook, misalnya. Atau teman SMP yang gada kabarnya, eh ternyata sedang mengambil program S3 di Inggris, contoh lain.

Dalam mini drama tersebut kembali kita diingatkan bahwa antara Cinta dan Rangga memang pernah ada apa-apanya. Dan Rangga yang sedang balik ke Jakarta itu masih mau ketemu langsung dengan si Cinta yang cintanya itu.

Akhirnya, kembali ke khittah bahwa kita-kita ini adalah konsumen yang social consumers banget. Yakni tipikal konsumen yang saat ini sangat dipengaruhi oleh internet dan social media. Tidak hanya twitter, facebook, dan blog tetapi juga social chatting semacam LINE, WhatsApp, Blackberry Messenger (BBM) dan sejenisnya.

Meski demikian digitalnya kita, terlalu online-nya kita, tapi kita (khususnya manusia Indonesia) bukan tipikal yang an-sos, koq. Justru kalau sudah ngobrol di online, maka harus ketemu langsung. Tatap muka, face to face, empat mata, atau apapun istilahnya ya :P

Cinta, yang meski tidak membalas sama sekali chat dari Rangga, eh ternyata tetap datang dong ke bandara. Persis seperti dulu, 12 tahun sebelumnya. Inilah yang namanya meski sudah online, tetap harus kopi darat dong (hahaha, dari istilah barusan ketahuan ya umur gw :D ).

Terakhir, meme marketing dari brand-brand lain turut mem-viral-kan AADC kembali. Meme marketing ini belakangan mulai marak mengikuti meme-meme yang jadi konten bercanda satir. Misalnya meme marketing dari Indomie, “gak perlu nunggu satu purnama untuk bikin Indomie saat hujan”. Lain-lainnya bisa dilihat di artikel ini.

Cem beginian nih iklan yang layak dibuat oleh para marketer. Sederhana, tapi menyentuh. Gak perlu rumit dijelaskan, karena sudah jadi bagian dari (masa lalu) kita. Harus menyentuh, karena kita ini makhluk yang sosial (di online dan di offline). :)

Dipublikasi di social media, strategi pemasaran | Tag , | Tinggalkan komentar

Istilah Dalam Dunia Marketing


Sejumlah mahasiswa bertanya pada dosennya tentang arti dari beberapa istilah dalam dunia marketing. Agar lebih mudah dipahami ia menjelaskannya dengan sejumlah analogi:

1. Ada gadis cantik di sebuah pesta. Kamu mendatanginya dan langsung bilang, “Saya orang kaya. Nikah sama saya, yuk!”
Itu namanya Direct Marketing.

2. Ada gadis cantik di sebuah pesta. Salah satu temanmu menghampirinya. Sambil menunjuk ke arah kamu, temanmu itu berkata, “Dia orang kaya, nikah sama dia, ya!”
Itu namanya Advertising.

3. Ada gadis cantik di sebuah pesta. Kamu menghampirinya, lalu minta nomor HP. Esok harinya kamu telepon dia dan langsung bilang, “Saya orang kaya. Nikah sama saya, yuk!”
Itu namanya Telemarketing.

4. Ada gadis cantik di sebuah pesta. Kamu menghampirinya, lalu tanya akun facebook-nya. Esok harinya kamu DM dan langsung bilang, “Saya orang kaya. Nikah sama saya, yuk!” Itu namanya Online Marketing.

5. Kamu melihat gadis cantik di sebuah pesta. Kamu merapikan diri, lalu menuangkan minuman buat dia, dan membukakan pintu buat dia. Sambil mengantarnya pulang, kamu bilang, “By the way, saya orang kaya nih. Nikah sama saya, yuk!”
Itu namanya Public Relations.

6. Kamu melihat gadis cantik di sebuah pesta. Dia menghampiri kamu dan berkata, “Kamu orang kaya, kan? Nikah sama saya, yuk!’
Itu namanya Brand Recognition.

7. Ada gadis cantik di sebuah pesta. Kamu mendatanginya dan langsung bilang, “Saya orang kaya. Nikah sama saya, yuk!”, tapi dia malah menampar kamu.
Itu namanya Customer Feedback.

8. Ada gadis cantik di sebuah pesta. Kamu mendatanginya dan langsung bilang, “Saya orang kaya. Nikah sama saya, yuk!”, terus dia memperkenalkan kamu ke suaminya.
Itu namanya Demand and Supply Gap.

9. Kamu melihat gadis cantik di sebuah pesta. Kamu menghampirinya, tapi belum juga kamu sempat bilang apa-apa, ada pria lain datang dan
langsung berkata, “Saya orang kaya nih. Nikah sama saya, yuk!’ Lalu sang gadis pergi dengan pria tersebut.
Itu namanya Losing Market Share.

10. Kamu melihat gadis cantik di sebuah pesta. Kamu menghampirinya, tapi belum juga kamu sempat bilang, “Saya orang kaya nih. Nikah sama saya, yuk!’…. tiba-tiba istri kamu nongol!
Itu namanya Barrier to New Market Entry.

hahaha.. simple kan? jadi udah paham doong..

Dipublikasi di strategi pemasaran | Tag | Tinggalkan komentar

Cara Mengatasi Stress


Cara-cara yang saya sampaikan berikut ini adalah cara-cara yang berhasil saya terapkan untuk diri saya sendiri. Tentu anda boleh menggunakan cara-cara ini secara gratis (benar-benar tidak usah bayar, maksudnya :p). Tapi kuncinya adalah anda harus terus berusaha memahami diri sendiri. Karena inti dari stress management adalah bagaimana anda (kamooh, kalo kata anak alay) mengenali penyebab stress pada diri anda serta apa saja cara-cara yang berhasil mengatasi stress anda. Tidak lain karena tidak semua cara akan berhasil untuk semua orang. Masing-masing pribadi punya kiat sukses masing-masing.

Saya sendiri mencari tahu tentang stress management for myself ini karena pekerjaan saya sekarang sangat dekat dengan stress. Sepanjang waktu dihabiskan untuk berpikir memikirkan bagaimana bisnis klien supaya bisa berhasil dan sukses. Apalagi semakin mendekati deadline, semakin stres justru harus dihindari. Karena stres akan menghilangkan kreativitas dan ide-ide segar sebagai sumber lahirnya “aha! moment” yang kemudian kami deliver kepada klien.

Mengaji Al Qur’an  
Kuncinya adalah jangan baca sedikit-sedikit. Atau hanya 1-2 halaman semata. Justru harus diperbanyak. Menurut pengalaman saya, 4 lembar (8 halaman) adalah angka minimal yang harus dipenuhi. Di halaman ke-8 tersebut, stres mulai menjauh dari benak kita. Selanjutnya? Terserah anda. Lebih keren kalau diteruskan hingga selesai satu juz. Ingat program “One Day One Juz”. Tapi menurut saya pribadi nih, 4 lembar sehari sudah cukup untuk menghilangkan stres kita.

Variasi Olahraga 
Jangan cuma nge-gym doang yang kelihatannya keren. Lama-lama bisa bosan kalau olahraganya di gym doang. Coba kombinasikan dengan olahraga yang lain. Misal, olahraga yang tidak keluar rumah (senam depan TV, aerobik ikut video YouTube, dsb) atau justru sebaliknya: berolahraga di luar rumah (lari pagi keliling kompleks, dll). Boleh juga kalo ikutan klub futsal, klub yoga, atau sejenisnya. Dapat dua sekaligus kan; olahraga plus sosialisasi.

Tidur yang Cukup
Apa itu tidur yang cukup? Saya kira tidak harus 8 jam sehari. Kasihan 1/3 umur sehari dipakai untuk tidur. Masih banyak yang bisa dilakukan. Tapi tidur cukup adalah tidur sampai badan anda puas dengan istirahat. Justru ketika kita rajin berolahraga, seringkali waktu tidur malah lebih pendek dari 8 jam. Karena badannya sehat, maka pulih-dari lelah-nya juga cepat. Maka tidur pun lebih singkat, yang penting cukup.

Ikut Komunitas
Punya komunitas dong. Ikut sosialisasi. Ga harus serius, tapi harus fun. Biar rileks tapi produktif. Dan banyak ketawa juga kan kalau di komunitas. Apalagi di social media banyak komunitas yang bisa diikuti. Tinggal cari yang disukai aja. Sekarang ada Indonesia Berkebun, satu contoh komunitas yang dibesarkan oleh Twitter. Ga usah takut ikut banyak komunitas.  Lama-lama juga akan tersaring di komunitas mana kita cocoknya. Baik cocok kegiatannya, maupun cocok sama orang-orangnya.

Sementara itu dulu, kali lain saya share lagi. Silakan share juga pengalaman teman-teman dalam mengatasi stress di sini. Manatau bisa bermanfaat untuk yang lain.

Dipublikasi di personal journal, tips-tips | Tag , , | Tinggalkan komentar